<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>born to travel</title>
	<atom:link href="http://travellingwithellen.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://travellingwithellen.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 04 Jul 2011 11:33:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='travellingwithellen.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>born to travel</title>
		<link>http://travellingwithellen.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://travellingwithellen.wordpress.com/osd.xml" title="born to travel" />
	<atom:link rel='hub' href='http://travellingwithellen.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>MYANMAR THE GOLDEN LAND</title>
		<link>http://travellingwithellen.wordpress.com/2011/07/04/myanmar-the-golden-land/</link>
		<comments>http://travellingwithellen.wordpress.com/2011/07/04/myanmar-the-golden-land/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jul 2011 11:09:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ellen Eliawaty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travellingwithellen.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Terus terang kalau saya mendengar nama Myanmar, yang langsung terlintas di benak saya adalah Aung San Suu Kyi. Wanita ayu lulusan Oxford – Inggris yang selalu tampil berpakaian tradisional Burma dengan untaian bunga melati di sanggulnya. Hanya itu saja! Jadi ketika kami memutuskan untuk berkunjung kesana, kamipun sibuk mencari tahu apa saja yang dapat dilihat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travellingwithellen.wordpress.com&amp;blog=9434118&amp;post=111&amp;subd=travellingwithellen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://travellingwithellen.files.wordpress.com/2011/07/foto-myanmar.jpg"><img src="http://travellingwithellen.files.wordpress.com/2011/07/foto-myanmar.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="FOTO Myanmar" width="300" height="225" class="alignnone size-medium wp-image-120" /></a></p>
<p>Terus terang kalau saya mendengar nama Myanmar, yang langsung terlintas di benak saya adalah Aung San Suu Kyi.  Wanita ayu lulusan Oxford – Inggris yang selalu tampil berpakaian tradisional Burma dengan untaian bunga melati di sanggulnya.  Hanya itu saja!    Jadi ketika kami memutuskan untuk berkunjung kesana, kamipun sibuk mencari  tahu apa saja yang dapat  dilihat disana, pengurusan visa, pembelian tiket dan sebagainya.   Beberapa travel agen besar yang ada di Jakarta sempat saya hubungi, tapi mereka sendiri kurang tahu, maklumlah Myanmar bukanlah destinasi populer.  Akhirnya kami mengurus semuanya sendiri.    </p>
<p>Pembuatan visa (walaupun termasuk 10 negara ASEAN yang  semestinya bebas visa),  ternyata mudah sekali dan  selesai hanya dalam 3 hari kerja dengan harga murah, paling murah diantara negara-negara lain.  Hasilnyapun bagus, visanya terpampang sangat cantik  di paspor  setara  dengan visa Inggris yang pernah menjajah Myanmar.  Sebuah kejutan yang menyemangati setelah kegalauan hati karena merasa berurusan dengan negara antah berantah.  </p>
<p>Kami berangkat pukul 6 pagi dari Jakarta,  1,5 jam kemudian tiba di Kuala Lumpur.  Transit selama 2 jam.  Ketika di ruang tunggu, mendadak tercium aroma sedap ayam goreng bersamaan  dengan kehadiran sepasang kakek- nenek, yang tertatih-tatih menjinjing bungkusan bergambar kakek berjas putih, yang anak kecil juga tahu kalau itu KFC.  Pemandangan ini menimbulkan pertanyaan:  “Apakah di Yangon tidak ada KFC yang sudah  mendunia ini,  sehingga harus dibawa dari KL?”  Nanti kita cari tahu Yah! </p>
<p>Akhirnya….setelah 2,5 jam terbang  kami tiba di Yangon yang dulu pernah menjadi ibukota Myanmar atau Burma.  Airportnya masih baru dengan konstruksi baja yang sedang jadi trend airport sedunia. Turis yang datang kebanyakan bule yang terkenal suka bertualang dan kami berdua dengan jiwa yang sama….    </p>
<p>Sementara saya celingak-celinguk mengamati suasana baru ini,  saya menyadari rekan seperjalanan saya yang setia menemani sejak kecil  hilang,  saya mundur ke belakang mencari, ternyata dia sedang dikerumuni petugas yang berpakaian putih (kesehatan) dan petugas imigrasi wanita yang memakai rok,  sepatu bertumit dengan kaos kaki (terlihat unik kalau tidak boleh dibilang janggal).  Apa pula ini?  Waduh…. Masalah?!  Tak berapa lama terlihat mereka tertawa-tawa…. dan partner saya segera  menyusul ibunya.  Ternyata dia dikira orang Jepang, disuruh skrining  untuk mengetahui  apakah tercemar “radiasi” atau tidak? Waktu itu   musibah Tsunami di Jepang belum lama terjadi.  </p>
<p>Sementara kami mengantri di imigrasi, dari barisan penjemput terlihat  seorang lelaki berperawakan kecil, kulit sawo matang, berkaca-mata, umur sekitar 30-an terus memandang kami berdua.  Tiba-tiba mata kami saling bertemu dan dia tersenyum ramah.  Saya bilang ke partner saya: ”Pasti itu orangnya!”  Ternyata benar!!!  Pada pandangan pertama saya sudah merasa akrab dengan dia, karena dia sangat mirip dengan teman kerja saya dulu, sehingga  saya menyebutnya Yasmin, padahal namanya Michael dan nama asli Burmanya saya lupa, dialah pemandu wisata kami.  Seorang Sarjana Arkeology dan  Buddhis yang baik dan  santun, selalu bilang: “I am at your service” membuat orang serasa Ratu!  Baginya bekerja bukan semata untuk mencari uang tetapi juga sarana  melakukan kebaikan. Wowww..</p>
<p>Sebagai negara Asia Tenggara,  penduduk Myanmar termasuk ras Melayu.  Sehari- hari kaum pria memakai  sarung dan kemeja  putih (tidak warna lain)  dan sarung dengan  atasan biasa untuk wanita.  Kaum pria mengikat ujung sarungnya didepan dan diplintir mirip konde, sedangkan kaum wanita melipat sarungnya didepan dengan rapi.   Kaum pria memakai  sandal jepit dengan model, bahan dan warna yang sama semuanya  yaitu hitam, bedanya hanya di warna sarung saja, itupun mirip-mirip.  Kostum  ini digunakan juga untuk acara resmi seperti yang terlihat di foto kunjungan pejabat.                                            </p>
<p>Rupanya  banyak  yang masih mengunyah sirih dengan aksesorisnya, bukan hanya orang tua (dulu di kota asal saya cuma nenek-nenek) tetapi juga anak muda, termasuk sopir kami (tapi Michael tidak). Saya pernah melihat seorang pemuda tampan dengan dandanan masa kini, ketika mencibir terlihat cairan merah melipir di bibir&#8230; ah…  seperti di  “Twilight” saja. Ternyata negeri ini  unik, membuat saya jadi antusias dan lupa  bahwa kemarin  baru saja  ke dokter.     </p>
<p>Kota Yangon adalah sebuah kota Metropolis yang pernah menjadi Ibukota Myanmar. Penataan kota sangat baik terlihat  dengan ruas jalan yang lebar, 3 ruas di kiri dan 3 ruas di kanan dipisahkan oleh pembatas jalan berhias tanaman pendek sehingga tidak mengganggu pandangan pengemudi.  Suasananya   mirip  Menteng di Jakarta,   maklumlah mereka dibangun di jaman yang sama yaitu di jaman penjajahan dulu.          </p>
<p>Disini masih “sangat banyak” bangunan-bangunan lama bergaya kolonial bertingkat dua yang masih cantik dan kokoh  walaupun berusia  ratusan tahun. Dirawat   dengan  sangat  baik serta masih digunakan sebagai kantor kedutaan, lembaga dunia, ataupun  restoran berkelas.  Sungguh harta tak ternilai yang membawa kita melihat kejayaan masa lalu dari tempat ini.  Itulah gunanya sejarah. Sedangkan bangunan baru dibangun di tempat lain tanpa harus merobohkan yang lama.<br />
Hal ini membuat saya tanpa sadar membandingkannya dengan “KOTA TUA” di Jakarta, yang alih-alih disayang  malah dijadikan gudang atau  dibiarkan terbengkalai dan rusak tak berbentuk lagi.  Hanya sedikit sekali yang masih bagus.  Sungguh ironis……. sedih sampai mau menangis!!!                                         </p>
<p>Sewaktu jalan-jalan di pusat kota, terasa nian  nyaman dan aman.  Kemudian saya sadari ternyata disini tidak ada “sepeda motor” satupun karena  dilarang di Yangon tapi tidak di kota lain dengan  alasan yang berbau takhyul.  Berbeda sekali dengan di Jakarta yang sepeda motornya terus  bertambah sangat pesat,   namun  sayang  hampir semua pengendaranya tidak sopan, melintas semaunya  tanpa aturan, tiba-tiba sudah ada di depan seakan hanya dia sendiri di jalan,   membuat semua orang dalam bahaya dan ketakutan.  Saya percaya andapun merasa  demikian, bukan?  …… lalu harus begini sampai kapan?? Disini, tidak pula  kelihatan  pengemis ataupun pedagang asongan,  bahkan KFC si  AYAM JAGOAN.                  </p>
<p>Memasuki halaman  kompleks Istana atau Pagoda alas kaki harus dilepas.  Ada beberapa tempat yang lantainya sudah dilapisi keramik halus tapi banyak juga yang masih disemen kasar  bahkan tanah keras di area yang  luas. Kami meninggalkan alas kaki di mobil.  Adakalanya  dalam perjalanan dari mobil ke tempat tujuan, harus melalui tanah berpasir dan berbatu kerikil kecil. Mata menunduk ke bawah memilah jalan yang dilalui, karena banyak “ranjau cairan merah” yang masih segar maupun yang pudar. Kasihan si jempol kaki yang baru dioperasi!   Saya balut dia berkali-kali, sambil berkata wanti-wanti: “hati-hati yah….. jangan sampai infeksi”.</p>
<p>Waktu itu matahari terik sekali, rasanya panas tak tertahankan!  Susah payah saya menahan diri tidak mencopot sarung Michael untuk diajak tukaran.  Sepertinya memakai sarung sangat nyaman di cuaca seperti ini, kelihatan mereka  oke-oke saja tuch!  Ah….enaknya sarung… bikin iri saja!   Partner  saya yang sudah terbiasa tinggal di negeri dingin, senang sekali  kembali ke mobil yang berpendingin, mencuci tangan dengan tissue basah  super sejuk dan menghirup air mineral yang selalu berada di Iced-Box.   Dalam situasi seperti ini, saya selalu menghibur diri:  “ Di dunia ini tidak ada yang gratis!”  mau melihat banyak tentu harus berani tidak enak,  itu sudah konsekuensi!  Maka sayapun kembali senang……</p>
<p>Buddhisme merupakan agama mayoritas yang dianut 89% penduduk dengan ta’at.  Pemberian Persembahan kepada Bikhu/ni di waktu pagi masih merupakan ritual yang  dapat kita jumpai setiap hari.  Barisan  Bikhu/ni  membawa wadah persembahan sambil berjalan tertib dengan wajah damai berbalut jubah warna jingga tua  bagi Bikhu dan pink cerah bagi Bikhuni sungguh menarik.  Rupanya hal ini juga menjadi inspirasi bagi pelukis yang menuangkannya pada lukisan yang dapat kita jumpai dimana saja. Mereka berbaur  dengan masyarakat biasa.  Adalah kebanggaan bagi keluarga bila  ada dari anggota keluarganya yang menjadi Bikhu walau hanya sementara saja, paling tidak satu kali dalam hidupnya.  Kedengarannya seperti wajib militer yang berlaku di beberapa negara.  Dari semua pria dewasa yang saya  temui, hampir semuanya sudah menjalani hal ini, bahkan beberapa kali  termasuk Michael.    </p>
<p>PAGODA SWEDAGON adalah landmark kota Yangon yang terletak ditengah, sehingga terlihat dari segala penjuru kota juga dari hotel kami menginap.  Sudah berusia 2500 tahun dan terbuat dari emas murni.  Bobotnya terus meningkat karena tiap tahun selalu dilapisi emas, sehingga sekarang mencapai 60 ton. Pucuknya dihiasi aneka permata dan batu mulia, tidak heran karena Burma sejak dulu disebut MYANMAR THE GOLDEN LAND yang menghasilkan emas dan batu mulia, terutama Jade alias Giok. Bila siang berkilau keemasan karena sinar matahari maka malampun tak kalah gemerlapan oleh cahaya lampu yang menyinari. Sungguh spektakuler dan sulit dicari tandingannya dalam hal ukuran maupun kemegahannya!  Lucunya Pagoda ini tidak termasuk World Heritage (Warisan Dunia) alasannya karena sudah tidak orisinil  lagi akibat dipoles dan diperbaiki. Banyak patung yang tadinya langsing menjadi tambun.   Jadi walaupun Myanmar memiliki banyak situs  purbakala yang amat langka, tapi tidak ada satupun yang masuk dalam World Heritage yang dilindungi UNESCO karena terlalu dijaga.  Ironis….. </p>
<p>Kerajaan Sriwijaya di Palembang pernah menjadi Pusat Agama Buddha pada masa jayanya.   Sayang peninggalannya tidak terpelihara dan nyaris tak bersisa.  Tapi kalau kita mau  jeli dan teliti, sebenarnya rumah-rumah kuno penduduk yang terbuat dari kayu berbentuk panggung, limas ataupun toko dengan langit-langit  rendah di Palembang (entah sekarang masih ada) persis sama dengan arsitektur yang ada di Indochina bahkan sampai Nepal di Asia Selatan.  Ini tentunya membuktikan bahwa ada keterkaitan sejarah di masa lalu.    Walaupun demikian, kita beruntung masih ada Candi Borobudur sebagai Tempat Pemujaan Agama Buddha yang masuk kedalam Warisan Dunia dan menjadi Kebanggaan Indonesia.                         </p>
<p>Myanmar telah meninggalkan kesan yang mendalam, sepertinya saya sudah jatuh cinta padanya,  karena sampai sekarangpun masih selalu terbayang-bayang…… Yah! Myanmar telah saya tetapkan sebagai salah satu negara ter-favorit dalam daftar negara yang pernah saya kunjungi. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/travellingwithellen.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/travellingwithellen.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/travellingwithellen.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/travellingwithellen.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/travellingwithellen.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/travellingwithellen.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/travellingwithellen.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/travellingwithellen.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/travellingwithellen.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/travellingwithellen.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/travellingwithellen.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/travellingwithellen.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/travellingwithellen.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/travellingwithellen.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travellingwithellen.wordpress.com&amp;blog=9434118&amp;post=111&amp;subd=travellingwithellen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travellingwithellen.wordpress.com/2011/07/04/myanmar-the-golden-land/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae81de94ad06dff46fc5b918eb5f193d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elleneliawaty</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://travellingwithellen.files.wordpress.com/2011/07/foto-myanmar.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">FOTO Myanmar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CINTA BERSEMI DI ST. ANDREWS – SKOTLANDIA</title>
		<link>http://travellingwithellen.wordpress.com/2011/01/26/cinta-bersemi-di-st-andrews-%e2%80%93-skotlandia/</link>
		<comments>http://travellingwithellen.wordpress.com/2011/01/26/cinta-bersemi-di-st-andrews-%e2%80%93-skotlandia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Jan 2011 11:22:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ellen Eliawaty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travellingwithellen.wordpress.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[Berita yang sudah lama dinanti akhirnya muncul juga. Hampir semua media massa memuat berita pertunangan dari Pangeran yang paling menarik perhatian dunia di dekade ini, siapa lagi kalau bukan Pangeran William dari Inggris. Foto pertunangan resmi menampilkan sang pangeran tampan dengan tunangannya yang cantik Kate Middleton memperlihatkan cincin pertunangan legendaris warisan dari mendiang Putri Diana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travellingwithellen.wordpress.com&amp;blog=9434118&amp;post=112&amp;subd=travellingwithellen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berita yang sudah lama dinanti akhirnya muncul juga.  Hampir semua media massa memuat  berita pertunangan  dari Pangeran yang paling menarik perhatian dunia  di  dekade ini, siapa lagi kalau bukan Pangeran William dari Inggris.  Foto pertunangan resmi  menampilkan sang pangeran tampan dengan tunangannya yang cantik Kate  Middleton  memperlihatkan   cincin pertunangan legendaris  warisan  dari mendiang Putri Diana yang fenomenal: cincin bermata safir biru dikelilingi permata berlian.  Sungguh pasangan yang serasi….  Tapi yang paling menarik  bagi saya adalah keterangan yang menyebutkan bahwa mereka bertemu  dan berpacaran di Universitas St. Andrews, sebuah kota kecil di Skotlandia.</p>
<p>Sebelumnya St. Andrews  walaupun  kota  kecil  tetapi sudah sangat terkenal di kalangan tertentu, karena disinilah terletak Universitas yang berbahasa Inggris ketiga tertua di dunia setelah Oxford dan Camridge yaitu Universitas St. Andrews dimana pasangan ini berkuliah.  Dan Old Course, Club Golf tertua di dunia dengan  lapangan golf alami.  Dua-duanya masih eksis, alias masih digunakan  dan terawat  baik serta  masih sangat bergengsi….</p>
<p>SEJARAH KOTA  ST.ANDREWS</p>
<p>Nama St.Andrews atau Santo Andreas (dalam bahasa Indonesia) diambil dari nama salah satu dari 12 murid Yesus Kristus. Beliau sebelumnya adalah  seorang nelayan  dari Danau Galilea di Israel.   Santo Andreas  dieksekusi mati  dengan  salib berbentuk  diagonal ( X ) yang sangat terkenal itu oleh  Kerajaan Romawi di masa awal penyebaran Agama Kristen di Eropa.   St. Andrews  adalah santo (orang suci) pelindung Skotlandia, Yunani dan Rusia. Hal ini dapat dilihat dari bendera  nasional Skotlandia bergambar salib diagonal putih dengan dasar biru sebagai simbol  langit.  Untuk menghormatinya, setiap tanggal 30 November ditetapkan sebagai Hari Peringatan St. Andrews hingga sekarang.  Uniknya malam menjelang hari  peringatan  adalah kesempatan bagi gadi-gadis untuk meminta  jodoh dengan cara-cara yang unik pula.</p>
<p>ST. ANDREWS adalah sebuah kota kecil di timur Skotlandia tepatnya di utara kota Edinburgh.  Kota ini dapat dicapai dengan kereta api  sekitar satu jam dari Edinburgh yang merupakan ibukota Skotlandia. Tiba di Stasiun St. Andrews telah menanti bus  dengan berbagai  tempat tujuan, kami memilih ke pusat kota, dan tiket kereta api tadi dapat pula digunakan  untuk menumpang bus tanpa harus membayar lagi.  Begitu pula sebaliknya.  Memang harus diakui bahwa transportasi umum di Kerajaan Inggris sudah sangat efisien, sehingga  mudah ke mana-mana  asal rajin cari informasi saja.   Pantaslah mereka menyandang nama sebagai negara yang memiliki jaringan kereta api yang tertua dan terluas di dunia.  Sebuah negara yang tua tapi juga modern.  Di Ingris raya , hampir setiap stasiun  kereta api maupun bus, memiliki   Information Centre yang menyediakan buku petunjuk dan peta dalam jumlah yang banyak serta  gratis.  Sehingga memudahkan pengunjung untuk memahami kota tujuan serta apa yang pantas dilihat dan cara kesana.</p>
<p>OLD COURSE – GOLF CLUB</p>
<p>Dari terminal bus kami berjalan kaki ke pusat kota hanya memakan waktu 10 menit.  Sebuah gerbang kota  yang sangat kuno menyambut kami, demikian pula dengan jalanannya yang masih terbuat dari batu,  Saya langsung berimaginasi, seandainya  orang-orang yang berlalu lalang disini diberi jubah cokelat dan berambut poni, pasti suasananya akan persis sama  di jamannya Robin Hood Sang Pencuri Budiman yang terkenal itu.  . Seketika  saya sepertinya dilemparkan oleh mesin waktu ke abad pertengahan.                                                                                                                                                                       </p>
<p>Sepanjang jalan menuju Old Course,di  kiri-kanan jalan saya melihat deretan toko dan café.  Sedikit sekali orang yang terlihat, hampir-hampir tidak ada.  Apakah mereka lebih nyaman di dalam?  Kami menyusuri jalan sambil masuk dan keluar toko, ternyata ada juga orang-orang  disini yang kebanyakan turis atau pegolf.  Dan disini hampir semua barang yang dijual adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan golf dan aksesorisnya.  Mulai dari peralatan golf,baju kaos,  kaos  kaki, topi, cangkir, pin, foto lapangan golf hingga  shortbread (biskuit khas Skotlandia yang juga dijual  di Jakarta).   Dan semuanya tertera OLD COURSE dengan lambang golfnya.  Begitulah bangganya mereka.  Memang  turis yang kemari kebanyakan  pegolf yang tentunya tidak akan melewatkan kesempatan memiliki sesuatu yang ada Old Course sebagai kenang-kenangan.                      </p>
<p>Skotlandia disebut juga Highlands atau dataran tinggi, maka itu berjalan disini  lumayanlah    untuk membuat napas ngos-ngosan,  semakin  keatas semakin banyak  hotel dan restoran mewah.  Sampai akhirnya mata kami terpaku dengan suatu pemandangan yang indah nian.  Didepan kami terhampar lapangan berumput hijau dengan beberapa orang yang sedang bermain . Persis di puncak bukit yang menghadap ke laut luas berwarna biru tua . Ternyata kami sudah tiba di OLD COURSE yang legendaries dan menjadi buah bibir pegold dunia.  Tercatat nama-nama beken di dunia golf pernah bermain disini, seperti  Jack Niklaus, Nick Faldo dan Tiger  Woods.        Jack Niklaus bilang : Saya langsung jatuh cinta pertama kali main disini, tidak ada tempat lain yang seperti ini.    Tiger Woods berkata : Ini adalah  lapangan golf favorit saya di dunia.   Memang, selain tua Old Course juga unik karena terjadi secara alami oleh  perubahan kontur tanah  berabad- abad yang silam.                                                                                                                                                     </p>
<p>Kapan sebenarnya permainan Golf dimulai?  Menurut catatan tahun 1457 Raja James II pernah membuat larangan bermain golf, karena kaum pria sa’at itu keranjingan bermain golf sehingga melupakan pekerjaan mereka.  Tapi hal ini tidak membuat golf sirna, malah berkembang.                   </p>
<p>Catatan pertama tentang Golf di St. Andrews dibuat pada tahun 1553.   Lalu dibentuk Perkumpulan Golf di tahun 1754 untuk mengatur pertandingan berkala.  80 tahun kemudian  perkumpulan ini menjadi Royal  and Ancient Golf Club yang menetapkan peraturan permainan golf yang berlaku di dunia.  Sayang sekali Golf Club ini tidak dibuka untuk umum.  Kekecewaan ini  dapat sedikit terobati dengan mengunjungi BRITISH GOLF MUSEUM yang terletak disampingnya. </p>
<p>UNIVERSITY OF ST. ANDREWS</p>
<p>St.Andrews walaupun bernama besar, tapi memang kota kecil, karena hanya berpenduduk  18,000 orang (kurang dari satu juta, bandingkan dengan Jakarta). Itupun kalau hari kuliah, karena sepertiga penduduknya adalah mahasiswa yang kebanyakan dari luar.     Bayangkan kalau sedang libur seperti sekarang,  pantas saja sepi sekali bahkan di pusat kota. .  Sangat kontras dengan London yang tidak ada siang ataupun malam, selalu hidup 24 jam </p>
<p>Nah, ditempat inilah Pasangan Kerajaan Inggris itu tinggal dan menuntut ilmu.   Pangeran William bergelar Prince William of Wales  yang sering dipanggil William Wales .  Sedangkan tunangannya  Kattie Middleton disebut Fiancee of Prince  William of Wales.                 </p>
<p>Kami  melewati kampus universitas  yang juga terletak di tengah kota.  Bangunan yang tidak kalah kunonya  berumur 6 abad.  Asramanya juga begitu.   Tapi sungguh menakjubkan didalamnya modern dan bersih serta bernuansa putih atau hitam, tidak warna/I seperti orang Asia.  Banyak juga terlihat mahasiswa dari Asia, terutama dari negara persemakmuran (bekas jajahan Inggris).    Universita ini sangat terkenal,  karena selain tertua di Skotlandia,  juga bermutu tinggi.</p>
<p>Dalam perjalanan …… akh…. Kami kembali berpapasan dengan serombongan pegolf yang tadi kami lihat bermain di lapangan.  Kini mereka berjalan dengan wajah gembira dan terus saja berceloteh dan tertawa riang.     Terlihat betapa bahagianya mereka!  Mungkin karena mereka sudah mencapai impian para golfer bermain di OLD COURSE.  Saya pikir begitu…..    </p>
<p>Tanpa terasa hari menjelang sore, kami tidak menyadari bahwa di kota kecil seperti ini kegiatan apapun termasuk toko, tutup pukul 6 sore kecual restoran,  walaupun hari masih terang  karena baru awal musim gugur.   </p>
<p>Kami mencoba masuk kebeberapa restoran yang ada disana untuk makan malam, ternyata semua penuh dan harus reservasi lebih dulu.  Kalau mau tunggu mereka  selesai makan, terbayang  berapa lama harus menunggu.  Tahu sendiri kalau  orang Bule makan,  dikunyah pakai hitungan paling sedikit 30 kali, selesai satu ronde, ngobrol, sambung ronde berikut, Kapan selesainya……??</p>
<p>Akhirnya kami beringsut jalan dan jalan lagi sambil menikmati sisa-sisa pemandangan yang masih bisa dilihat, berat nian rasanya kaki ini melangkah…. Apakah ini berarti “cinta telah bersemi di St. Andrews?”</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/travellingwithellen.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/travellingwithellen.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/travellingwithellen.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/travellingwithellen.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/travellingwithellen.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/travellingwithellen.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/travellingwithellen.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/travellingwithellen.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/travellingwithellen.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/travellingwithellen.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/travellingwithellen.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/travellingwithellen.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/travellingwithellen.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/travellingwithellen.wordpress.com/112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travellingwithellen.wordpress.com&amp;blog=9434118&amp;post=112&amp;subd=travellingwithellen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travellingwithellen.wordpress.com/2011/01/26/cinta-bersemi-di-st-andrews-%e2%80%93-skotlandia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae81de94ad06dff46fc5b918eb5f193d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elleneliawaty</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BERTEMU SANTA CLAUS DI KUTUB UTARA</title>
		<link>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/11/22/bertemu-santa-claus-di-kutub-utara/</link>
		<comments>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/11/22/bertemu-santa-claus-di-kutub-utara/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Nov 2010 11:47:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ellen Eliawaty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travellingwithellen.wordpress.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Siapa yang belum mengenal Santa Claus? Kakek berjubah merah dengan jenggot putih lebat berwajah ramah yang selalu tertawa : ho, ho, ho, ho, …. bukannya he he he he ….(kalau ini mah di FB) Beliau selalu hadir di akhir tahun yang dingin (kalau kita disini karena musim penghujan, sedangkan di tempat lain di utara sana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travellingwithellen.wordpress.com&amp;blog=9434118&amp;post=104&amp;subd=travellingwithellen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://travellingwithellen.files.wordpress.com/2010/11/artic-circle0001.jpg"><img src="http://travellingwithellen.files.wordpress.com/2010/11/artic-circle0001.jpg?w=300&#038;h=201" alt="" title="Artic circle0001" width="300" height="201" class="alignnone size-medium wp-image-106" /></a></p>
<p>Siapa yang belum mengenal  Santa Claus?  Kakek berjubah merah dengan jenggot putih lebat  berwajah ramah yang selalu  tertawa : ho, ho, ho, ho, …. bukannya he he he he ….(kalau ini mah di FB) Beliau selalu hadir di akhir tahun yang dingin (kalau kita disini karena musim penghujan, sedangkan di tempat lain di utara sana  karena musim salju) </p>
<p>Di hari Natal menjelang Tahun Baru, toko, mal bahkan hotel berhias  diri dengan pohon Natal yang indah, menyambut kedatangan Santa Claus  (bahasa Inggris) atau Sinterklas  (bahasa Belanda) dengan Asistennya Piet.     Anak-anak bergembira dan berharap mendapatkan hadiah dari Santa Claus, yang sebelumnya telah dipersiapkan oleh orang tua mereka, karena telah menjadi anak yang baik sepanjang tahun.  Sedangkan anak nakal akan dihukum oleh Piet.  Ini juga semacam sarana edukasi, stick and carrot…. Dari peristiwa ini  tercipta  istilah  “Sinterklas”  bagi orang yang suka memberi  hadiah  walaupun  bukan  di hari Natal.  </p>
<p>Sejak kecil saya hanya mengetahui bahwa Santa Claus datang dari tempat yang sangat  jauh dan sangat dingin  nun di Kutub Utara&#8230;. negeri  antah berantah.   Mengendarai  kereta kencana yang berisi banyak hadiah , meluncur dari angkasa ditarik oleh Rudolf si rusa kutub berhidung merah.  Itulah gambaran tentang Santa Claus, yang bisa kita lihat di Post card maupun dekorasi Natal.  Sampai suatu sa’at saya mengetahui ada satu tempat di Kutub Utara yang disebut SANTA CLAUS VILLAGE, tempat tinggal resminya Santa Claus versi  Finlandia.   Banyak versi  mengenai asal Santa Claus, seperti umumnya cerita atau legenda di dunia ini.   </p>
<p>Maka, suatu hari di bulan Desember, kami serombongan anak kecil, dewasa bahkan lanjut usia, berketetapan hati  berangkat menuju  ke Kutub Utara mencari Santa Claus….  Melalui perjalanan panjang berpuluh jam, transit di beberapa tempat, akhirnya kami tiba di Helshinki, ibukota negara Finlandia, negara paling utara di Eropa.  Dari sini dengan Finnair kami menuju ke Rovaniami, sebuah kota kecil tepatnya di Artic Circle 66o 33’ 07”.<br />
Saya ingin meminjam istilah popular “not only the destination, but also the journey”  (ma’af kalau salah kutip), karena walaupun perjalanan panjang yang tentu saja melelahkan, tapi saya perhatikan yang paling menikmati perjalanan ini  justru anak-anak,  belum tiba di tujuan saja mereka sudah bersuka ria , saling mencari walaupun baru kenal, bermain , bercanda  dan tertawa, sehingga membuat kita yang melihatnyapun ikut bergembira.  Hati yang hangat di tengah cuaca yang dingin tambah bergairah karena  suasana Natal dan tulisan MERRY CHRISTMAS yang menyambut kami  di bandara Rovaniami.  Sampai juga kami akhirnya…..</p>
<p>Begitu keluar dari Bandara, pemandangan menakjubkan sudah menanti.  Semua serba putih karena bangunan, mobil, pohon, penunjuk jalan  semuanya kecuali jalanan  diselimuti salju tebal, sementara butiran es   masih turun satu- satu.  Wow fantastic….  Tapi kami harus buru-buru ke Santa Claus Village karena hari sudah sore.  Sepanjang jalan…. kami menikmati pemandangan yang sangat indah, hujan salju yang rintik-rintik menyertai  kami dengan khayalan masing-masing.<br />
Kota kecil ini sudah mulai dihuni sejak abad ke 12  sebagai tempat  persinggahan penebang kayu.  Sedangkan  Santa Claus Village sendiri dibuka untuk umum pada Musim Panas 1985.  Tempat ini ramai dikunjungi turis sepanjang tahun,  betapa tidak,  di musim semi salju masih bertebaran dimana-mana,  di musim panas malamnya terang benderang,  di musim gugur alamnya beraneka warna, dan di musim dingin seperti sekarang malampun terang gemerlapan .  Tetapi yang paling ramai tentunya di  hari Natal karena maknanya sebagai Kampung Santa Claus.</p>
<p>SANTA CLAUS VILLAGE</p>
<p>Kami tiba di Santa Claus Village ketika malam menjelang, bukannya gelap, malah sebaliknya terang gemerlapan karena lampu-lampu yang dipasang di Pohon Natal, Rusa Kutub, Manusia Salju  dengan ukuran sangat besar , dan tempat-tempat yang bisa dipasang.  Saya merasa seperti “Alice in Wonderland”, terpaku kagum dengan pesona suasana sekitar……   Seumur-umur baru kali inilah  mengalami  White Christmas yang nyata seperti ini.  Thanks God ….. Anak-anak langsung berlari berhamburan diikuti yang dewasa .  Jatuh …bangun , saling melempar bola salju sambil terus tertawa…..</p>
<p>PERANGKO PRIBADI dan SERTIFIKAT</p>
<p>Santa Claus Village mempunyai Kantor Pos sendiri yang bertugas menerima dan menjawab  surat  yang dikirimkan oleh anak-anak se dunia kepada Santa Claus.  Yang unik adalah kita dapat membuat perangko dengan foto diri kita sendiri memakai  topi Santa Claus.  Perangko ini berlaku  layaknya perangko biasa dan dapat dikirimkan ke  seluruh dunia.  Bayangkan ekspresi  keheranan  orang yang menerima surat dengan perangko berwajah orang yang dikenalnya…..  dan kami melakukan itu.<br />
Tibalah sa’at yang dinanti-nanti, anak-anak berbaris dengan tertib untuk bertemu dengan idolanya, siapa lagi kalau bukan Santa Claus….  Satu persatu nama mereka dipanggil, berbicara sebentar lalu foto bersama.   Sebagai kenang-kenangan, kami diberi selembar sertitikat dengan nama dan tanggal hari itu yang menyatakan bahwa kami sudah datang ke Santa Claus Village.</p>
<p>Hotel kami adalah sebuah hotel yang besar tapi kuno, pintu liftnyapun masih terbuat dari kayu dan dibuka dengan tangan, kadang-kadang berhenti ditengah jalan.  Karena hotel  tua, maka letaknya di pusat kota yang ramai, apalagi malam  ini ‘kan malam Natal, banyak orang yang merayakannya di hotel,  termasuk kami, habis mau kemana lagi….<br />
Kalau dipikir, sebenarnya sejak kami berangkat dari Jakarta hingga tiba disini, terus saja beraktifitas… sudah tidak tahu lagi soal waktu  tidur, bangun, makan  pagi, siang, malam sudah kacau…. Sampai jetlag pun tidak terasa .   Apalagi anak-anak “gak ada capeknya”, disini mereka bertemu lagi dengan Santa Claus  dari pihak Hotel.<br />
Ruangan berdekorasi khas Natal dengan dominasi warna merah dan hijau sudah dipenuhi dengan tamu yang  berpakaian rapih dan wangi, entahlah dengan kami.   Makanan dan minuman pun terlihat cantik, tapi soal rasa…. he he he … tergantung selera.  Resto  ini terletak di lantai dasar  yang bersisian dengan jalan raya, dikelilingi oleh  jendela kaca yang lebar.  Sementara duduk, saya melihat pemandangan indah  seperti yang biasa ada di Kartu Natal,  tapi ini bukan ,  karena  dalam lukisan kaca berbingkai ini orang-orang itu bisa bergerak dan berjalan….</p>
<p>PADANG SALJU, ANJING HUSKY, RUSA KUTUB</p>
<p>Pagi ini kami sudah bersiap dengan pakaian lengkap yang semuanya tertutup rapat, ditambah kaca mata, topi,  sepatu bot, sarung tangan yang dipinjamkan oleh pihak penyelenggara tour ini.<br />
Saking rapatnya, kamipun tidak bisa lagi mengenali satu sama lain, kecuali dari suaranya.  Tapi lama-lama tahu juga, ‘kan warna bajunya beda-beda.  Perjalanan kali ini ke HUSKY DOG FARM melewati padang salju  selama sekitar satu jam dalam cuaca -27 o.  Wuih, lebih dingin dari kulkas.<br />
Rombonganpun dibagi :   orang tua, anak-anak dan ibunya “ diangkut”  dengan  kereta terbuka yang dikemudikan oleh seorang sopir, nah saya termasuk dalam rombongan ini. He he he…  Pria  dewasa yang bisa naik motor lebih memilih untuk mengendarai  “motor salju” sendiri secara berombongan pula…  Jadilah kami kafilah seperti cerita “Little House on the Prairi’ tapi di padang salju.</p>
<p>Mungkin karena khawatir, sopirnya sebentar-sebentar berhenti dan menanyakan : Apakah kami baik-baik saja?  Memang baik, sih…. Tapi cairan di hidung terus meleleh sampai sarung tanganpun jadi basah  karena nya.  Sepanjang jalan, kami hanya melihat warna putih….. karena semuanya tertutup salju yang tebal.  Suasana sunyi sekali,  tidak terlihat yang lain, karena manusia dan hewanpun enggan keluar.  Untung kami ramai-ramai, kalau sendirian, malam hari lagi…. Oh…</p>
<p>Akhirnya kami tiba di Husky Dog Farm, ditampung di gubuk berbentuk kerucut yang tidak luas , tapi herannya bisa menampung banyak orang.  Kami semua saling “mengakrabkan”  diri dan merapat ke perapian  ditengah  ruang sambil minum  strawberry tea yang hangat.   Setelah tubuh normal kembali, kamipun mulai menuju ke arena dimana anjing husky  sudah siap  menanti dengan hebohnya.  Mereka bertugas menghela kereta kecil dengan penumpangnya berkeliling arena.  Satu pengalaman yang langka dan susah ditemui di tempat lain.<br />
Bus pariwisata ternyata sudah menanti kami, setelah berdingin-dingin, kini kami  bisa kembali menikmati  kehangatan di dalam bus.  Dalam perjalanan pulang ke hotel, kami mampir ke Peternakan  Rusa Kutub, hewan yang  menghela kereta Santa Claus pada gambar Kartu Natal.</p>
<p>Setiap kali Natal menjelang, kenangan itu kembali datang…. membawa kehangatan dan kegembiraan.  Merry Christmas &amp; Happy New Year….</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/travellingwithellen.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/travellingwithellen.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/travellingwithellen.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/travellingwithellen.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/travellingwithellen.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/travellingwithellen.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/travellingwithellen.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/travellingwithellen.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/travellingwithellen.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/travellingwithellen.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/travellingwithellen.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/travellingwithellen.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/travellingwithellen.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/travellingwithellen.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travellingwithellen.wordpress.com&amp;blog=9434118&amp;post=104&amp;subd=travellingwithellen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/11/22/bertemu-santa-claus-di-kutub-utara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae81de94ad06dff46fc5b918eb5f193d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elleneliawaty</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://travellingwithellen.files.wordpress.com/2010/11/artic-circle0001.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Artic circle0001</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MALDIVES &#8211; PULAU IMPIAN HONEYMOONERS</title>
		<link>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/10/14/maldives-pulau-impian-honeymooners/</link>
		<comments>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/10/14/maldives-pulau-impian-honeymooners/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2010 11:18:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ellen Eliawaty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travellingwithellen.wordpress.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Zamrud di Samudera Hindia Maldives sejak dulu telah dikenal sebagai tempatnya berbulan madu. Suasana tersebut telah mulai dirasakan sejak kami berkumpul di ruang tunggu Changi Aiport Singapore menuju Male (baca : Ma dari makan dan Le dari Lele), ibukota dari Maldives atau Maladewa dalam bahasa Indonesia. Hampir 80% yang berangkat adalah pasangan muda dari berbagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travellingwithellen.wordpress.com&amp;blog=9434118&amp;post=93&amp;subd=travellingwithellen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://travellingwithellen.files.wordpress.com/2010/10/p1010357.jpg"><img src="http://travellingwithellen.files.wordpress.com/2010/10/p1010357.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="P1010357" width="300" height="225" class="alignnone size-medium wp-image-94" /></a><br />
Zamrud di Samudera Hindia</p>
<p>Maldives sejak dulu telah dikenal sebagai tempatnya berbulan madu.  Suasana tersebut telah mulai dirasakan sejak kami berkumpul di ruang tunggu Changi Aiport Singapore menuju Male (baca : Ma dari  makan dan Le dari Lele), ibukota dari Maldives atau Maladewa dalam bahasa Indonesia.  Hampir 80% yang berangkat adalah pasangan muda dari berbagai bangsa dan warna kulit, selebihnya adalah turis biasa dan warga lokal.  </p>
<p>Empat jam kemudian kami tiba di Male International Airport dan sudah tengah malam.  Bandara Male terletak di pulau kecil bernama Hulhule yang dikelilingi laut, sungguh unik dan romantis.  Bayangkan, dalam  malam kelam yang hanya diterangi sepotong bulan sabit  dan bintang di langit,  kami duduk di sebuah kapal kecil bercat putih yang  disebut Jetty terayun-ayun  menuju Male yang ada di pulau lain.   Nun jauh disana terlihat lampu-lampu yang gemerlapan.  Wow… Indah nian…. Sungguh pemandangan yang sangat mengesankan.    Akh, di kapal ini kami jumpa lagi dengan pasangan muda-mudi dan sampai di hotel pun demikian.  Mata ini pun sudah mulai terbiasa.  </p>
<p>Maldives terdiri  dari gugusan pulau-pulau kecil yang terbentuk oleh karang dan disebut atol.  Terletak  di Samudera Hindia dibawah garis Khatulistiwa dan sejajar dengan Aceh.   Dalam peta hanya berbentuk titik, sehingga disebut sebagai negara terkecil di Asia dan 10 negara terkecil di dunia.                                                         </p>
<p>Masing-masing hotel resor menempati satu pulau.  Resor  kami terletak di pulau Iru Fushi di selatan. Karena  agak jauh maka harus dicapai dengan Seaplane (pesawat udara yang dapat mendarat di air), kalau yang  dekat cukup dengan speedboat.</p>
<p>Keesokan siangnya, kami berkumpul di ruang tunggu Hotel Resor yang terletak disamping Male International Airport  dan check-in disana.  Para calon  penumpang mulai datang dan lagi-lagi pasangan, tidak ada yang ganjil semua genap.  Dari sini kami dapat melihat lapangan terbang yang landasannya adalah air bukan daratan.  Pesawat-pesawat kecil dari berbagai maskapai penerbangan berkumpul disana.  Aktifitas mereka cukup sibuk, sebentar-sebentar ada pesawat yang berangkat dan mendarat. </p>
<p>Akhirnya kamipun berangkat dengan penumpang sekitar 20 orang.   Penerbangan menempuh waktu 45 menit.  Cuaca hari itu sangat cerah, kami terbang rendah sehingga sepanjang perjalanan dapat melihat keadaan dibawah dengan jelas.  Oh…. saya merasa sangat beruntung, karena dengan naik pesawat baru terlihat pulau-pulau kecil  dibawah sana yang sangat indah.  Pulau-pulau tersebut bagaikan permata Zamrud yang hijau dikelilingi pasir putih dan batu karang serta  koral  berkilauan. Sehingga dari atas terlihat bagaikan  cincin bermata Zamrud yang dikelilingi Berlian.  Apakah ini yang menginspirasi pembuat perhiasan? Pulau-pulau ini dikelilingi oleh hamparan air  yang jernih berwarna turquoise atau hijau  kebiruan.   Bagi saya,  Maldives bak taburan permata di Samudera Hindia!</p>
<p>Sepanjang perjalanan tak putus-putus kami mengabadikannya.   Rupanya pemandangan indah di bawah sana, membangunkan romantisme  bagi  yang melihatnya di atas sini.  Pasangan muda  bule yang duduk persis di depan saya, tak putus-putusnya pula beradegan mesra, yang kalau di  TV kita pasti kena sensor.              Apa daya, terpaksalah saya menikmati pemandangan yang tak kalah serunya ini.  Maklumlah, mungkin mereka honeymooners alias pengantin baru.</p>
<p>Ingat cerita film The Blue Lagoon yang melambungkan si cantik Brooke Shield? Begitulah keadaan pulau ini.  Laguna dengan airnya yang jernih hijau kebiruan bergradasi, disinari matahari tropis yang hangat, menjadikan snorkeling populer di sini (Justru tidak nyaman kalau berenang dengan kaki telanjang, karena banyak karang). Nah,  kalau beruntung dapat bertemu dengan kura-kura raksasa, ikan pari ataupun sekumpulan lumba-lumba, karena ini ‘kan samudera luas.  Dan ada pasangan Belanda yang beruntung, mereka sudah tinggal  selama 2 minggu.  Konon, orang Bule lebih lama tinggalnya bahkan ada yang sampai 3 minggu dibandingkan dengan  orang Asia yang paling tahan 1 minggu. </p>
<p>Banyak  aktifitas yang dapat dilakukan disini atau bahkan “TO DO NOTHING” alias  tidak melakukan apa-apa, hanya berleyeh-leyeh saja. Tapi yang paling menarik adalah satu program yang disebut “Deserted Couple”.  Pasangan ini dibawa ke sebuah pulau  tak berpenghuni dan ditinggalkan disana dengan bekal makanan, sore baru  dijemput lagi.  Di Maldives  banyak terdapat pulau tak berpenghuni, karena dari 1190 pulau, yang dihuni hanya sekitar 200 saja.   Ternyata  banyak juga pasangan yang ingin merasakan bahwa dunia ini hanya milik mereka berdua, tidak boleh ada orang lain….  </p>
<p>Bukan hanya pengantin baru, tapi banyak juga yang merayakan HUT pernikahan bahkan menikah disini.  Mereka menulisnya  di papan peringatan yang diletakkan di dekat pohon di sepanjang “jalan raya”.    </p>
<p>Sore itu  menjelang matahari terbenam, terlihat karyawan resor dengan pakaian tradisionalnya sibuk menyiapkan altar di pantai.  Rupanya akan ada  upacara pernikahan pasangan dari Rusia. Tak lama kemudian pengantin datang dengan “buggy” yang dihiasi kembang sepatu. Musik tradisional dimainkan dan acara dimulai dengan dipimpin seorang karyawan resor.  Mereka terlihat begitu bahagia dengan terus tersenyum sumringah.  Disaksikan orang-tua dan kerabat dekat berjumlah 12 orang serta karyawan resor, lembayung senja dan bunyi ombak seakan turut memberi selamat.  Selesai mengucapkan janji setia, mempelai pria menggendong pengantinnya berputar-putar dengan bahagia.  Dalam cerita biasanya ditulis “Tamat”,  tapi sesungguhnya mereka baru memulai ….</p>
<p>Suatu kali  kami santap malam di pantai.  Bulan sedang tidak purnama, bintang malas muncul, di kejauhan terlihat kapal dan mercu suar dengan kelap-kelip lampu yang bahkan tidak kuasa melawan gelapnya malam.  Di meja kami pun hanya ada setitik cahaya  yang redup  membuat orang hanya  terlihat kalau sedang buka mulut, itu pun kalau giginya putih. Ombak datang dan pergi dihempas angin yang menderu-deru.   Tiba-tiba anak saya bilang : “Mama, sadar ‘gak kalau kita ini berada di tengah-tengah samudera raya, bukan lautan biasa ….. “.  Saya terkesiap seketika,  teringat  Tsunami 2004 lalu, merenung sejenak   dan  tersadar betapa kecilnya saya ini sebagai bagian dari ciptaan Yang Maha Kuasa bila berhadapan dengan alam semesta.    Dan betapa ajaib  ciptaanNya, sehingga saya bisa duduk di pulau kecil ini dan  berdampingan begitu dekat   dengan samudera yang luas dan dalam……</p>
<p>Di tempat terpencil  ini kasih sayang dirayakan setiap sa’at lewat perbuatan, perkataan bahkan tatapan, seakan setiap hari adalah  Valentine Day.  Manusia begitu kecil dan rentan…. membuat saya berpikir untuk lebih menghargai hidup dan mengisinya  dengan hal-hal yang berguna disertai kasih sayang…</p>
<p>Iru Fushi Atol – Maldives, September 2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/travellingwithellen.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/travellingwithellen.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/travellingwithellen.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/travellingwithellen.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/travellingwithellen.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/travellingwithellen.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/travellingwithellen.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/travellingwithellen.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/travellingwithellen.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/travellingwithellen.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/travellingwithellen.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/travellingwithellen.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/travellingwithellen.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/travellingwithellen.wordpress.com/93/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travellingwithellen.wordpress.com&amp;blog=9434118&amp;post=93&amp;subd=travellingwithellen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/10/14/maldives-pulau-impian-honeymooners/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae81de94ad06dff46fc5b918eb5f193d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elleneliawaty</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://travellingwithellen.files.wordpress.com/2010/10/p1010357.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">P1010357</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SINGAPURA, DULU DAN SEKARANG&#8230;..</title>
		<link>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/08/16/singapura-dulu-dan-sekarang/</link>
		<comments>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/08/16/singapura-dulu-dan-sekarang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Aug 2010 11:43:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ellen Eliawaty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travellingwithellen.wordpress.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[SKYPARK &#8211; MARINA BAY SANDS (Postcard) SINGAPURA atau SINGHA-PURA artinya Kota Singa dalam bahasa Sansekerta. Nama ini diberikan oleh seorang Pangeran Sriwijaya ketika berkunjung ke Temasek (kota laut) dan tiba-tiba muncul binatang yang menyerupai singa. Kala itu di abad ke 14, Temasek merupakan bagian dari Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang. (Sumber : Wikipedia) Sejak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travellingwithellen.wordpress.com&amp;blog=9434118&amp;post=79&amp;subd=travellingwithellen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://travellingwithellen.files.wordpress.com/2010/08/skypark-poscard.jpg"><img src="http://travellingwithellen.files.wordpress.com/2010/08/skypark-poscard.jpg?w=300&#038;h=195" alt="" title="Skypark poscard" width="300" height="195" class="alignnone size-medium wp-image-80" /></a></p>
<p>SKYPARK &#8211; MARINA BAY SANDS (Postcard)</p>
<p>SINGAPURA  atau SINGHA-PURA artinya Kota Singa dalam bahasa Sansekerta. Nama ini diberikan oleh  seorang Pangeran Sriwijaya ketika berkunjung ke Temasek (kota laut) dan tiba-tiba muncul binatang  yang menyerupai singa.  Kala itu di abad ke 14, Temasek merupakan bagian dari Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang. (Sumber :  Wikipedia)</p>
<p>Sejak masih kecil bahkan sebelum saya ada, bagi orang  Sumatera, Singapura lebih populer dibandingkan Jakarta.  Dari mulai makanan kemasan, pakaian, elektronik, pecah belah sampai ke pengobatan dan pendidikan, semuanya Singapura.   Mungkin hal ini disebabkan oleh faktor geografis dan transportasi.  Dulu  ke Jakarta tidaklah  semudah sekarang. Harus naik kereta api ke Lampung,  disambung  ferry ke Merak naik bus lagi (belum ada jalan tol) barulah sampai di Jakarta. Pesawat terbang sangat jarang, kalaupun ada sering tidak tepat waktu.  Sedangkan ke Singapura cukup naik kapal laut yang selalu ada.</p>
<p>Banyak keluarga berada  yang  menyekolahkan anaknya ke  Singapura dengan harapan dapat melanjutkan pendidikannya ke Inggris  (masa itu  Amerika belumlah sepopuler sekarang).                Hingga kini pun  para pejabat pemerintah, tokoh,dokter spesialis di Singapura hampir semuanya lulusan Inggris. Maklumlah mereka pernah  lama dikuasai  Inggris sejak ditemukan oleh Sir Thomas Stamford  Raffles  di abad 18 dan kemudian menjadikannya kota pelabuhan yang ramai.  </p>
<p>Perekonomian Singapura pernah mengalami masa surut di akhir tahun ’80 an.  Salah satu indikasi yang masih saya ingat adalah  taksi yang mengantri memanjang di Changi Airport.   Para sopir mengeluh sulitnya mendapat  penumpang, karena sedikitnya tamu asing yang datang.  Pusat perniagaan sepi.  Hanya rumah sakit yang masih ramai dengan orang asing yang berobat dari negara tetangga, termasuk Indonesia yang memang paling banyak, mungkin juga  karena populasi kita yang paling besar.<br />
Mereka  terus berbenah  dan mengembangkan potensi yang ada.  Karena tidak punya sumber alam,  air pun harus didapat dari Malaysia, dan  pasir dari Indonesia untuk perluasan wilayahnya.  Satu-satunya yang ada, yah Sumber Daya Manusia.  Mereka berhasil,  terbukti dengan banyaknya kantor perwakilan perusahaan internasional disana yang mempekerjakan professional orang Singapura. Malah akhir-akhir ini   banyak pelajar kita yang pintar dan berbakat  direkrut pula untuk memperkuat SDM mereka.</p>
<p>Dalam dekade terakhir ini makin sering nama Singapura di sebut-sebut , kali ini sebagai tempat pelarian para tersangka korupsi. Bagaimana tidak ?  Negara ini hanya sepelemparan batu dari Indonesia, bisa berangkat kapan saja tanpa visa dengan penerbangan yang ada setiap waktu.  Disana tinggal di hotel mewah di  Orchad Road yang adalah tempat  surga belanja, tidak usah khawatir dengan soal makanan,  masakan Indonesia atau Melayu mudah dijumpai disana, paling tidak di Lucky Plaza.</p>
<p> Dan sekarang Singapura juga mengembangkan sektor pariwisatanya dengan membuka hotel termegah dan terbesar di Asia  bernama Marina Bay Sands dengan desain yang spektakular 23 Juni 2010 lalu.  Selain itu ada pula Universal Studio yang dibangun bersamaan  dengan  Sentosa Resorts Hotel di pulau Sentosa.  Semua hotel ini diperlengkapi dengan pertokoan dan restoran mewah sampai yang sederhana.                                            </p>
<p>Universal Studio yang berasal dari Amerika ini terkenal  dengan arena permainannya yang menarik untuk anak-anak maupun dewasa.  Salah satu yang paling seru adalah Jet Coaster yang memacu adrenalin .  Mereka  mengaku sebagai yang  tertinggi di dunia.  Selain itu masih banyak lagi yang tidak kalah seru!!!.  Pokoknya Singapura ingin menampilkan semua yang serba ter… dan… wah!!!<br />
 Yang paling menarik adalah bahwa di kedua tempat ini ada mainan baru yang lain : CASINO!!!&#8230;. Dan…yang ini khusus orang dewasa, harus berusia diatas 21 tahun! Identitaspun diperiksa dengan seksama.  Anak muda yang baby face, disuruh pindah jalur dan paspornya diperiksa dengan alat khusus, apa takut dipalsukan ?? Saya menawarkan diri untuk diperiksa juga paspornya, tetapi mereka menolak… sambil tertawa dan geleng-geleng: “No-need…lah”. Dilihat dari Monas aja  udah ketauan tuwirnya …</p>
<p>Marina Bay Sands dapat dilihat dengan jelas  dari Esplanade, itu lho bangunan berbentuk “belahan durian tertelungkup”  yang juga  tempat konser musik. Saya melihat hotel ini  seperti  sebuah kapal atau malah papan selancar yang kandas diatas tiga pilar.  Dibawahnya terdapat bangunan lain yang dipisahkan oleh jalan raya, ternyata  menyatu dengan bangunan induk yang dihubungkan oleh underpass.  Disini terletak  pertokoan mewah dengan merek-merek terkenal yang belum pernah ada di Singapura sebelumnya, contohnya sepatu ber”merek”  yang dipuja dan dipakai  Sarah JP di Sex and the City.  Disini  juga ada sampan dengan kanalnya mirip dengan di Venetian Macau hanya  bentuknya  sedikit  berbeda, tapi konsepnya sama…  Mungkin sedang trendnya.</p>
<p>SKYPARK inilah yang paling unik dan menarik,  si kapal atau apapun terserah imajinasi masing-masing terletak di lantai 57 atau 200 meter dari permukaan tanah.  Ketika saya sampai diatas, tak terasa saya berdecak kagum, wuih…. keren… merasa  seperti inilah barangkali bentuk”Hanging Garden of Babylon” yang konon termasuk tujuh keajaiban dunia purbakala  yang sudah punah itu. Dilengkapi  kolam renang yang luas seakan tak bertepi, orang-orang  terlihat bagaikan  berenang di angkasa raya dikelilingi awan…  sepintas khawatir juga kalau ada yang jatuh kebumi …<br />
Ternyata ada temboknya yang tidak diperlihatkan dan kalaupun ada yang nyemplung, paling jatuh ke lantai 56 yang lebih luas,sehingga orangnya tidak langsung meluncur ke bumi.   Ada pula Jacuzzi,  pepohonan dan tanaman lain, membuat suasana semakin indah permai dengan nyiur melambai disertai angin sepoi-sepoi.  Dari sini kita dapat melihat dengan jelas Esplanade dan seluruh pemandangan Singapura , dilengkapi keterangan  melalui brochure dan earphone. Bila cerah, Batampun terlihat….<br />
Semua fasilitas disini dapat dinikmati tamu hotel tanpa bayar lagi, sedangkan pengunjung luar harus membeli tiket SGD 20 untuk ke Skypark  ini.</p>
<p>Ada satu lagi yang unik, yaitu bahasanya.  Karena mereka terdiri dari etnis Melayu, Cina dan India, maka  resminya mereka bicara dalam bahasa Inggris.  Mendengar  mereka berbicara ,  saya kira  mereka sedang berbicara bahasa  Mandarin, ternyata Inggris!  Itulah Singlish! Singaporean English!! Iramanya Mandarin, liriknya Inggris…..  Kalau ‘gak percaya, coba dengarkan siaran TV CNBC Singapore.</p>
<p>SINGAPORE – JULY 2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/travellingwithellen.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/travellingwithellen.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/travellingwithellen.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/travellingwithellen.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/travellingwithellen.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/travellingwithellen.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/travellingwithellen.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/travellingwithellen.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/travellingwithellen.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/travellingwithellen.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/travellingwithellen.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/travellingwithellen.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/travellingwithellen.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/travellingwithellen.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travellingwithellen.wordpress.com&amp;blog=9434118&amp;post=79&amp;subd=travellingwithellen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/08/16/singapura-dulu-dan-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae81de94ad06dff46fc5b918eb5f193d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elleneliawaty</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://travellingwithellen.files.wordpress.com/2010/08/skypark-poscard.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Skypark poscard</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DIPAKSA SINGGAH DI LOKASI SYUTING WINTER SONATA</title>
		<link>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/06/15/dipaksa-singgah-di-lokasi-syuting-winter-sonata/</link>
		<comments>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/06/15/dipaksa-singgah-di-lokasi-syuting-winter-sonata/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jun 2010 11:33:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ellen Eliawaty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travellingwithellen.wordpress.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Ketika guide mengumumkan bahwa kami akan singgah di lokasi syuting Drama “Winter Sonata”, peserta menyambutnya dengan gegap gempita, tak kalah serunya dengan supporter sepak bola. Sebenarnya acara ini diluar program, karena kami sudah menginap di Ski Resort yang lain. Tapi karena terus menerus ditanya peserta mengenai lokasi syuting ini, saking tidak tahannya akhirnya merekapun menyerah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travellingwithellen.wordpress.com&amp;blog=9434118&amp;post=72&amp;subd=travellingwithellen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika guide mengumumkan bahwa kami akan singgah di lokasi syuting Drama “Winter Sonata”, peserta menyambutnya dengan gegap gempita, tak kalah serunya dengan supporter sepak bola.  Sebenarnya  acara ini diluar program, karena kami sudah menginap di Ski Resort yang lain.  Tapi karena terus menerus ditanya peserta mengenai  lokasi  syuting ini, saking tidak tahannya akhirnya merekapun menyerah dan membawa kami kemari. Mana tahan….  kalau tiap saat dirongrong terus, apa   lagi pertanyaannya aneh-aneh dan  detil,  sampai-sampai dimana wc nyapun ditanyakan.</p>
<p>Drama ini mengisahkan tentang cinta pertama  yang tak terlupakan dari sepasang kekasih  yang pacaran sewaktu di SMA.  Tiba-tiba sang pria mengalami kecelakaan sewaktu dalam perjalanan menjumpai kekasihnya.  Tinggallah sang wanita yang terus menunggu dan menunggu.  Sementara sang pria mengalami amnesia (hilang ingatan) dan pindah ke Amerika.  Beberapa tahun kemudian, sang pria kembali ke Korea.  Bersamaan dengan itu  sang wanita dengan terpaksa akan bertunangan dengan teman masa kecil  yang memang sudah lama menyayanginya.  Siapa sangka di hari pertunangan , sang wanita berjumpa kembali  dengan cinta pertamanya yang bahkan tidak mengenali dirinya lagi.  Dia jadi penasaran dan terus menyelidiki.   Gagal sudah pertunangan !  Sementara sang pria juga sudah ada wanita lain yang juga menyintainya.  Jadilah jalinan cinta segi empat yang rumit.  Sang wanita cinta pertama berjuang keras meraih kembali  cinta pertamanya, sementara  dua orang cinta baru berusaha keras pula untuk memisahkan mereka.  Disinilah konflik berlangsung seru !  Klimaksnya sang pria cinta pertama ingatannya pulih kembalI dan melanjutkan kisah cinta mereka yang tertunda.                                                  Nah, tempat klimaks itu terjadi,  yah….,di Ski Resort ini…..</p>
<p>Drama ini sangat populer, selain karena ceritanya yang mengharu biru,juga  dipenuhi dengan lagu-lagu yang enak didengar.  Bahkan tembang lawas macam “The Dancing Queen” yang menyentak dari ABBA pun ikut andil.  Tapi tokoh utamanyalah yang menjadi buah-bibir.  Namanya Bae Yong Jun, seorang aktor yang melambung namanya setelah membintangi drama ini.  Dia tiba-tiba menjadi idola, terutama dari para wanita mulai yang remaja  sampai nenek tua.  Mereka  rela  menonton dramanya  sampai pagi tanpa berkedip bahkan kalau perlu kencingpun ditrahan.  Player yang rusak karena  dipergunakan terus menerus, tidak menjadi masalah, segera beli baru dan lanjut…. Ini adalah kisah nyata.                                                                                     Suatu ketika di Bali,sang  idola sangat terkejut ketika ada fansnya  menyatakan bahwa dia sampai menontonnya  8 kali!  Wah, pasti BYJ akan lebih terkejut lagi bila mengetahui,setelah sekian tahun masih ada penggemar setia yang terus menontonnya.  Mereka ini sudah hafal betul dengan dialog dan mimiknya.  Kalau ada Ujian akhir,saya yakin  mereka akan mendapatkan  nilai sempurna.  Cum Laude!                              Dia juga  sangat terkenal di Jepang, terutama di kalangan wanita dewasa dan paruh baya.  Gelombang Hallyu Wave ini membuat Pariwisata Korea maju pesat.  Berbondong-bondong fans luar negeri datang ke Korea, salah satunya, yah… grup kami inilah.  Industri  hiburan ini juga  sangat mempengaruhi perkembangan sektor ekonomi lainnya.  Konon  menjadi penyumbang devisa yang masuk tiga besar.</p>
<p>YONG  PYONG All Seasons Resort terletak di Pyeong Chang yang disebut sebagai City of Skiing  di daerah Gangwon.  Pada sa’at itu mereka sedang  berbenah diri sebagai  kandidat Tuan Rumah Olimpiade Musim Dingin 2010 yang  akhirnya dimenangkan oleh Whistler  – Canada.  Kebetulan saya sempat ke Whistler tahun lalu.  Saya  pikir-pikir dulu kenapa yah, kok Yong Pyong bisa kalah dengan Whistler ?  Pada hal kompleksnya sangat luas dengan bungalow dan kondominiumnya, lengkap dengan segala fasilitas ,                 tranportasinya  baik, alamnyapun mendukung untuk orang bermain ski, karena dikitari oleh gunung, sehingga disebut sebagai yang terbaik di Korea.  Tahun-tahun sebelumnya turis-turis luar diajak menginap kemari, tetapi sejak Drama Winter Sonata meledak (jangan samakan dengan ledakan  tabung gas elpiji  3 kg) banyak  turis lokal yang kemari, sehingga turis luar tidak kebagian.</p>
<p>Disinilah tempat  arena ski dimana sepasang kekasih  meraih cinta pertamanya kembali. Karena waktu  syuting salju tidak turun, terpaksa dibuat  salju buatan.  Rumah kayu tempat konser musik juga disini.  Dinas Pariwisata Korea  ternyata cukup jeli dan tanggap dalam mengambil peluang.  Mereka menyediakan satu “Café”khusus.   Dimana orang dapat duduk dan  minum, sambil  memandang foto aktor dan artis disekelilingi dinding, tempat perapian, pernak-pernik yang digunakan, sementara  sebuah TV terus-menerus menayangkan drama  Winter Sonata tanpa lelah, diiringi dengan lagu-lagu yang sudah akrab di telinga penggemarnya.  </p>
<p>Tapi itu sih urusan belakangan, karena orang-orang sibuk dengan kamera mengabadikan diri dengan suasana yang ada.  Apa saja, segala  yang berbau Winter Sonata.  Ada yang tidak sabar mengantri, langsung pasang badan bergaya  sementara orang lain sedang berfoto, tidak perduli  dengan segala sumpah serapah,karena harus mengejar waktu  pergi ke lokasi lain di luar café yang cukup jauh.                  Bagi saya, melihat kehebohan dan tingkah laku fans fanatik ini jauh lebih menarik  dan unik….Dimana lagi bisa melihat hal sepert  ini ? </p>
<p>                                                                                                                                                                                               Tak terasa waktu berkumpul sudah tiba.  Kami pun bergegas kembali ke bus. wisata.  Seperti biasa, orang-orang tua selalu terlebih dulu tiba, sementara yang muda-muda masih  belum terpuaskan juga.<br />
Yang pasti Titi sang guide hidupnya bisa tenang kembali, karena hasrat peserta sudah terpenuhi.</p>
<p>Korea  Selatan – Desember 2002</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/travellingwithellen.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/travellingwithellen.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/travellingwithellen.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/travellingwithellen.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/travellingwithellen.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/travellingwithellen.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/travellingwithellen.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/travellingwithellen.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/travellingwithellen.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/travellingwithellen.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/travellingwithellen.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/travellingwithellen.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/travellingwithellen.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/travellingwithellen.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travellingwithellen.wordpress.com&amp;blog=9434118&amp;post=72&amp;subd=travellingwithellen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/06/15/dipaksa-singgah-di-lokasi-syuting-winter-sonata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae81de94ad06dff46fc5b918eb5f193d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elleneliawaty</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BERBUGIL RIA &#8211; SIAPA TAKUT ?</title>
		<link>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/06/10/berbugil-ria-siapa-takut/</link>
		<comments>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/06/10/berbugil-ria-siapa-takut/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 11:20:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ellen Eliawaty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travellingwithellen.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[SUANBO HOT SPRING Seperti negara-negara di Asia Timur lainnya yaitu Cina dan Jepang, Korea juga terkenal dengan Hot-Springnya atau Pemandian Air Panas. Jadi kami diajak ke Suanbo, satu kota wisata yang terkenal dengan Hot-Springnya. Dalam perjalanan darat dengan bus yang memakan waktu cukup lama, kami mampir di toko P &#38; D yang banyak terdapat di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travellingwithellen.wordpress.com&amp;blog=9434118&amp;post=63&amp;subd=travellingwithellen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SUANBO HOT SPRING<br />
Seperti negara-negara di Asia Timur lainnya yaitu Cina dan Jepang, Korea juga terkenal dengan Hot-Springnya atau Pemandian Air Panas.  Jadi kami diajak ke Suanbo, satu kota  wisata yang terkenal dengan Hot-Springnya.<br />
Dalam perjalanan darat dengan bus yang memakan waktu cukup lama, kami  mampir di toko  P &amp; D yang banyak terdapat di sepanjang kiri dan kanan jalan.  Toko-tokonya bersih dan teratur serta terawat  baik.   Mereka menjual aneka makanan, yang basah maupun kering, yang berat maupun ringan, segala jenis  mie instan (sepertinya wajib mereka miliki selain beras),  buah-buahan dan juga arak (minuman beralkohol).  Menjadi semacam tradisi bagi mereka untuk minum arak, mungkin juga untuk mengusir hawa dingin yang menggigit di musim dingin seperti sekarang ini.<br />
Saya tertarik dengan  Pier Korea yang besar dan segar.  Ternyata  setelah dikupas,  airnya banyak sekali   dan  manis… , maklumlah masih segar.  Harganya  itu lho…. cuma 1,000 won atau sekitar  Rp 10,000  per buah.     </p>
<p>ONDOL<br />
Malam ini  kami diberi kamar  tradisional Korea.  Kamarnya sederhana tanpa banyak perabot.  Di sudut kamar teronggok gulungan kasur tipis yang disebut ONDOL lengkap dengan selimut kapasnya, yang walaupun tebal tapi tidak berat.  Anak saya langsung membuka gulungan ondol dan melemparkan diri serta  berbaring diatasnya.  Dia senang sekali dan berguling-guling sambil tertawa-tawa.<br />
Baginya  tidur di lantai dengan ondol sangat menarik.  Namun bagi orang tua yang sudah mulai encok, mungkin agak merepotkan untuk bangun dan duduk ataupun tidur di lantai. Aduh, kalau tiap hari tidur begini, pulangnya bisa-bisa lututku gempor dan dikirim ke Orthopedis.   Herannya dalam drama Korea, justru orang tua yang masih suka memakai ondol ini.  Ruangannya  terasa hangat, yang ternyata  berasal  dari lantai.<br />
Konon di rumah tradisional mereka membakar kayu api di bahwah rumahnya yang berkolong.   Ah.. bertambah lagi pengalaman kami merasakan jadi orang Korea.  </p>
<p>RAMAI-RAMAI BERBUGIL RIA…<br />
Sejak dari awal kami selalu diingatkan untuk mencobapemandian air panasnya.  Kalau tidak, rugi…dan akan menjadi penyesalan berat…. kata sang guide.<br />
Karena penasaran, walaupun sudah pukul 10 malam,  saya sendirian  pergi juga ke tempat sauna tersebut yang memang terletak di dalam hotel.  Ruang sauna pria dan wanita letaknya  terpisah.<br />
Sebelum masuk ke ruang mandi, saya harus melapor dulu ke resepsionis. Ternyata ada peraturannya.  Kalau mau masuk kedalam, harus melepaskan semua pakaian alias telanjang bulat.  Waduh…gawat, nih… saya coba mengintip kedalam, apakah benar seperti itu…  Ternyata sangat benar….terlihat anak-anak kecil sampai nenek-nenek bernudis -ria lalu-lalang dengan bebasnya sambil bersenda gurau dan tertawa, ada juga yang duduk berbaris sambil menggosok punggung seperti orang jaman dulu yang memilih kutu di rambut temannya, sambung menyambung menjadi satu…Biarpun sudah larut malam, tapi suasananya ramai sekali.  Diwajahnya seakan berkata :  “berbugil ria, siapa takut ? “.<br />
Saya jadi teringat sewaktu  tinggal di asrama semasa  kuliah di Bandung.  Kamar mandinya hanya satu ruangan besar dengan bak mandi panjang… jadi mandi ramai-ramai sambil ngobrol juga, enggak beda!  Namanya  mandi yah… tanpa busanalah.  Bagi yang malu…. sekali, terpaksa mengisi ember dengan air dan mandi di wc.  Jadi sebenarnya saya tidak harus kaget.  Tapi… entah  kenapa,  rasanya kok  lain…..  Situasinya persis sama, tapi… pemandangannya itu lho yang berbeda….  Kalau dulu di sekolah yang terlihat adalah yang… eh,  ma’af, ranum dan segar….elok dipandang mata ‘bak lukisan sang maestro dunia.  Tapi yang ini,  sekali lagi minta ma’af….. banyak yang sudah melorot ditarik gravitasi bumi  ‘kali yah…  Walaupun mereka terlihat PD,sekali,  tapi saya yang merasa jengah.  Coba tebak, apakah saya berani bergabung dengan mereka.???  Oh, ternyata… dan ternyata, kaki saya mulai bergerak, jangan salah, bukannya maju tetapi perlahan  mundur kebelakang…. Wahai alam, siapakah yang mampu melawanmu ?</p>
<p>Korea Selatan – Desember 2002</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/travellingwithellen.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/travellingwithellen.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/travellingwithellen.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/travellingwithellen.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/travellingwithellen.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/travellingwithellen.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/travellingwithellen.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/travellingwithellen.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/travellingwithellen.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/travellingwithellen.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/travellingwithellen.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/travellingwithellen.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/travellingwithellen.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/travellingwithellen.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travellingwithellen.wordpress.com&amp;blog=9434118&amp;post=63&amp;subd=travellingwithellen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/06/10/berbugil-ria-siapa-takut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae81de94ad06dff46fc5b918eb5f193d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elleneliawaty</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HONGKONG dan MACAU DI AKHIR TAHUN – “WONG KITO GALO”</title>
		<link>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/05/24/hongkong-dan-macau-di-akhir-tahun-%e2%80%93-%e2%80%9cwong-kito-galo%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/05/24/hongkong-dan-macau-di-akhir-tahun-%e2%80%93-%e2%80%9cwong-kito-galo%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 11:33:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ellen Eliawaty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travellingwithellen.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Sepotong Venesia di Macau. Disinilah Jangdi bertemu dengan Goh Jun Pyo dalam &#8220;Boys Before Flowers&#8221;. Karena digoda iklan pariwisata yang hampir setiap hari muncul di Koran, kamipun berketetapan hati untuk berangkat ke Hongkong dan Macau di akhir tahun lalu. (Meniru Hawa yang menyalahkan Ular). Dalam pesawat Garuda yang membawa kami dari Jakarta, semua bangku penuh…nuh… [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travellingwithellen.wordpress.com&amp;blog=9434118&amp;post=57&amp;subd=travellingwithellen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://travellingwithellen.files.wordpress.com/2010/05/p10007092.jpg"><img src="http://travellingwithellen.files.wordpress.com/2010/05/p10007092.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="P1000709" width="300" height="225" class="alignnone size-medium wp-image-58" /></a></p>
<p>Sepotong Venesia di Macau.<br />
Disinilah Jangdi bertemu dengan Goh Jun Pyo dalam &#8220;Boys Before Flowers&#8221;.</p>
<p>Karena digoda iklan pariwisata yang hampir setiap hari muncul di Koran, kamipun berketetapan hati untuk berangkat ke Hongkong dan Macau di akhir tahun lalu.  (Meniru Hawa yang menyalahkan Ular).  Dalam pesawat Garuda yang membawa kami dari Jakarta,  semua bangku penuh…nuh… nuh…. tidak ada satu pun yang kosong.  Lebih serunya lagi, rasanya  kurang dari 10 jari saja yang bukan orang Indonesia.  Semuanya ‘Wong Kito Galo” (orang kita semua dalam bahasa Palembang).</p>
<p>Dalam hati saya bergumam sendiri :  “ ternyata bukan kami saja yang termakan iklan, banyak juga yang lain, nah…. ini buktinya.”  Biasalah, menghibur diri sendiri. Kalau bukan diri sendiri yang menghibur, lalu siapa lagi ???  Tak terasa penerbangan sekitar 5 jam  kami lalui dengan aman dan sentosa serta  bahagia,  terutama bagi saya pribadi karena merasa rotinya kali ini enak…. sekali, lebih lembut dan harum, satu awal yang baik bagi Garuda yang katanya sedang berbenah diri.<br />
Tiba di Bandara Hongkong, para  Tour Leader dengan benderanya yang diangkat tinggi-tinggi  mengumpulkan anggotanya.  Seru sekali melihat orang-orang yang begitu bersemangat mempersiapkan diri dengan jaket tebal, bahkan topi dan sarung tangan lengkap bagaikan hendak berseluncur di pegunungan Alpen, pada hal kami  masih berada di dalam gedung bandara yang memang juga dingin karena  AC.  Terlihatlah bendera-bendera  biro perjalanan yang selama ini memasang iklan di koran menghiasi langit-langit  Bandara.  Sekarang  mereka sedang  panen……  Pemandangan yang unik dan menarik.  Saya yang semula santai jadi ikut-ikutan bersemangat.  Ciaaa…youuuuu…(artinya “bersemangat “dalam bahasa Mandarin, walaupun secara harafiah berarti “tambah minyak”).</p>
<p>Wong kito ada di mana-mana, di hotel, di obyek wisata, di pusat perbelanjaan, di food court, di jalanan, di restoran mewah  bahkan di restoran kaki lima.  Saya  sering main tebak-tebakan dengan anak saya kalau  berhadapan dengan serombongan orang Asia, apakah mereka dari Indonesia atau bukan  tanpa mendengar mereka berbicara, cukup dari jauh dengan hanya melihat penampilannya saja.  Dan kami seringkali benar…&#8230; Walaupun  sekarang sudah jaman  globalisasi, dimana pakaiaan, dandanan dan gaya di seluruh dunia sudah hampir sama, tapi wong kito tetap beda.  Menurut saya, wong kito – terutama perempuan paruh bayanya lebih trendy, tak jarang kita melihat mereka menggunakan make-up lengkap dengan rambut yang ditata sempurna bagaikan hendak ke pesta, pada hal hanya  untuk jalan-jalan  saja dimana kenyamanan gerak lebih dibutuhkan.  Senang juga melihat ibu-ibu yang cantik ini, tak sia-sialah mereka menjaga penampilan dimana dibutuhkan usaha dan pengorbanan yang tidak sedikit. Setidaknya kehadiran mereka membuat pemandangan menjadi lebih indah.  Trimsh, yah….</p>
<p>Wong kito juga terkenal paling senang berbelanja terutama di  toko-toko yang menjual barang bermerek, apalagi  yang ada tulisan SALE nya.  Hongkong di akhir tahun memang sedang mengadakan Sale besar-besaran.    Sangat menggoda, bahkan bagi orang yang tidak doyan berbelanja.  Waduh, kadang-kadang barangnya sampai tidak kelihatan karena tertutup dengan orang-orang yang sedang berebutan.  Pernah suatu kali saya melihat di Butik Merek terkenal  yang terletak di tepi jalan raya, orang-orang yang mengantri panjangnya  sampai di luar toko, yang berarti di pinggir jalan raya.  Ternyata discountnya sampai 70%, pantas… mereka rela berbaris tertib menunggu giliran masuk sambil deg-degan kalau-kalau  barang yang dirindukan dan diimpikan siang malam habis ketika tiba di dalam, ditambah lagi was-was disenggol mobil yang berjalan disisinya.  Kalau Cuma dicium saja tidak apa-apa, nah ! bagaimana kalau sampai diseruduk mobil ???  Bisa-bisa RIP (Rest In Peace).  Ini namanya bertaruh nyawa. Apakah setimpal perjuangan yang dilakukan dengan barang yang diinginkan ?  </p>
<p>Berbeda dengan toko yang ada tulisan “New Arrivalnya”.  Masuk ke toko ini orangnya juga  dihitung, lalu dikandangkan  dengan tali penyekat seperti antrian di Bank oleh satpamnya.  Kemudian barang yang diminati juga diambil oleh pelayan toko yang memakai sarung tangan dengan sangat “hati-hati” bak memegang benda pusaka… sementara satpamnya matanya melirik  kiri-kanan bagaikan Penari Bali mengawasi dan mengatur orang yang keluar-masuk.   Dan …. ternyata disini banyak dijumpai perempuan  cantik  dengan tubuh kutilang (kurus, tinggi, langsing) plus  wajah yang menawan. Ada yang mirip  Gongli, Zangziyi, Vicky Zhao, bahkan Song Hye Kyo (Korea).  Boleh jadi sebagian dari mereka adalah  hasil karya Bedah Kosmetik Korea yang sudah tersohor di Asia.  Bahkan mungkin  saja  mereka adalah Selebriti yang sedang berbelanja….</p>
<p>Saya bertemu dengan sepasang suami-isteri yang sedang berdiskusi mengenai makanan yang akan dibeli di konter makanan Korea, Food Court Hotel Venetian – Macau.   Karena tahu sama-sama dari Indonesia, kamipun bertukar cerita.  Isterinya berkisah bahwa mereka sudah berada disini selama 3 hari 3 malam (jadi teringat Cerita Nabi Yunus di perut ikan), belum kemana-mana, hanya berkutat disekitar hotel dan casino.  Mengetahui saya baru saja datang dari Hongkong, isterinya bertanya:  “Bagaimana keadaan di Hongkong ?”.  Saya bilang : “ Hongkong ramai sekali dengan orang Indonesia,  tidak kalah ramainya dengan SALE besar-besaran yang sedang berlangsung”.  Seketika wajahnya berubah, terpancar kekecewaan disana.  “Aku mau ke Hongkong juga, akh…..”.  Rupanya dari Indonesia mereka  langsung ke Macau dan selama ini hampir semua makanan yang disini sudah dicobanya sampai jenuh.  Bayangkan.</p>
<p>Karena memang  jam makan, seluruh tempat terisi penuh.Kalau tidak diduduki orang, maka diduduki tas atau jaket.  Hampir 90% wong kito.  Sa’at itu saya beruntung, karena segera memperoleh tempat kosong untuk 4 orang, pada hal kami cuma berdua.  Sementara meja dibersihkan, tak terlau jauh,  saya melihat sepasang  pria wanita muda yang sedang berjalan mondar-mandir kebingungan  mencari tempat sambil membawa baki makanan.  Saya melambai ke mereka dan menunjukkan 2 kursi di depan saya.  Mereka menghampiri dan mengerti yang saya maksudkan.  Mereka mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih dan segera duduk.  Sementara kami makan, berkali-kali mereka melirik  satu sama lain, saling berbisik dan tertawa (saya menduga mereka pengantin baru), sesekali  melirik  kearah saya dan tersenyum.  Saya membalasnya juga  dengan tersenyum. Seketika  hati sayapun “turut berbahagia” melihat mereka bahagia.  Benarlah kata Alkitab : “Perbuatlah apa yang kamu suka orang lain perbuat kepadamu”.  Sekarang saya jadi lebih mengerti, walau hanya dalam  hal-hal kecil.   </p>
<p>Hingga kami selesai makan, nun… disana…… kursi-kursi kosong masih tetap diduduki jaket dan tas dengan orang-orang yang tadi juga, mereka tetap berceloteh ria bertukar kisah, sementara orang-orang lain mondar-mandir dengan bakinya, bahkan ada yang berkursi roda mencari tempat kosong yang masih tersedia.  Akh…. “Nurani”…. kemanakah dikau pergi… ?</p>
<p>Hongkong – Macau Desember 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/travellingwithellen.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/travellingwithellen.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/travellingwithellen.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/travellingwithellen.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/travellingwithellen.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/travellingwithellen.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/travellingwithellen.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/travellingwithellen.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/travellingwithellen.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/travellingwithellen.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/travellingwithellen.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/travellingwithellen.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/travellingwithellen.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/travellingwithellen.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travellingwithellen.wordpress.com&amp;blog=9434118&amp;post=57&amp;subd=travellingwithellen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/05/24/hongkong-dan-macau-di-akhir-tahun-%e2%80%93-%e2%80%9cwong-kito-galo%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae81de94ad06dff46fc5b918eb5f193d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elleneliawaty</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://travellingwithellen.files.wordpress.com/2010/05/p10007092.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">P1000709</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>OLD COURSE – LAPANGAN GOLF ALAMI, TERTUA DI DUNIA.</title>
		<link>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/05/20/old-course-%e2%80%93-lapangan-golf-alami-tertua-di-dunia/</link>
		<comments>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/05/20/old-course-%e2%80%93-lapangan-golf-alami-tertua-di-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 11:46:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ellen Eliawaty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travellingwithellen.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Sumber foto : Brochure ST. ANDREWS adalah sebuah kota kecil di timur Skotlandia, di utara kota Edinburgh. Dengan kereta api dari Edinburgh ke St. Andrews memakan waktu sekitar satu jam. Sampai di Stasiun kereta api St. Andrews sudah menanti bus yang akan mengantar kita menuju pusat kota St Andrews. Kita tidak usah membayar ongkos bus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travellingwithellen.wordpress.com&amp;blog=9434118&amp;post=26&amp;subd=travellingwithellen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://travellingwithellen.files.wordpress.com/2010/05/st-andrews-golf-course-post-card.jpg"><img src="http://travellingwithellen.files.wordpress.com/2010/05/st-andrews-golf-course-post-card.jpg?w=300&#038;h=212" alt="" title="St Andrews Golf Course-Post Card" width="300" height="212" class="alignnone size-medium wp-image-29" /></a><br />
Sumber foto :  Brochure</p>
<p>ST. ANDREWS  adalah sebuah kota kecil di timur Skotlandia, di utara kota  Edinburgh.<br />
Dengan kereta api dari Edinburgh ke St. Andrews  memakan waktu sekitar satu jam. Sampai di Stasiun kereta api St. Andrews sudah menanti bus yang akan mengantar kita menuju pusat kota St Andrews.  Kita tidak usah membayar ongkos bus lagi, karena tiket kereta api tadi  dapat pula digunakan untuk menumpang bus, begitu pula sebaliknya. Banyak negara-negara maju didunia menerapkan sistim ini, bahkan ada negara yang tiketnya dapat digunakan untuk kereta api, bus bahkan kapal fery.  Apalagi  transportasi di Kerajaan Inggris yang sudah  terkenal dengan sistim  jaringan kereta apinya  yang tertua dan terluas di dunia.</p>
<p>Dalam perjalanan ke pusat kota, kami melewati  kompleks lapangan golf  yang ternyata adalah Old Course yang legendaris itu.  Di  Skotlandia,   setiap stasiun kereta api maupun terminal bus  selalu  ada  Information Centre. Disini disediakan  Buku  Petunjuk Kota maupun Peta  yang lengkap dalam jumlah banyak serta gratis pula.</p>
<p>Pertama-tama  kami ke OLD COURSE.  Suami saya sangat antusias untuk segera melihatnya, sedangkan putra kami juga tak kalah  bersemangat ingin  melihat Universitas  Tertua di Skotlandia yang termasyur di dunia di St Andrews ini. Letak kedua tempat ini tidak berjauhan, masih di tengah kota.   Dengan berjalan kaki sekitar 10 menit, tibalah kami di  Pusat Kota. Disini  terdapat gerbang kota yang sangat kuno dari abad pertengahan, demikian pula dengan jalannya. Jalan yang tidak terlalu lebar dan nampaknya  terbuat dari batu.  Di kiri dan kanan jalan terdapat toko-toko yang tidak kalah kunonya dengan interior bernuansa kayu yang temaram.  Imaginasi saya segera bekerja membayangkan seandainya  orang-orang yang ada disini diberi jubah cokelat dan rambut poni, pastilah suasananya  serasa hidup di  jamannya Robin Hood pahlawan rakyat yang merampok orang kaya dan membela orang miskin yang terkenal itu.</p>
<p>Kemudian kami melewati toko-toko  yang ternyata hampir semuanya menjual segala macam barang yang berhubungan dengan golf..  Mulai dari Peralatan  Golf, Kaos, Topi, Cangkir, Pin, Foto Lapangan Golf  sampai dengan Shortbread (biskuit khas Skotlandia)  semuanya  dicetak &#8220;OLD COURSE &#8220;.  Begitulah  bangganya mereka terhadap Lapangan Golf Tua ini.   Memang orang-orang yang kemari mayoritas  untuk melihat dan bermain di OLD COURSE selain mahasiswa  yang tentunya datang untuk menuntut ilmu .</p>
<p>Ada pula restoran dan hotel  mewah disini.  Hanya beberapa langkah dari sini,  terhampar  panorama berupa  lapangan rumput yang hijau permai dengan orang-orang yang masih bermain, sebuah lapangan golf yang indah  diatas bukit  menghadap ke laut.   Itulah rupanya OLD COURSE yang menjadi buah bibir pegolf dunia.  Tercatat nama-nama  beken di dunia golf pernah bermain disini, seperti Jack Niklaus, Nick Faldo dan Tiger Woods.  </p>
<p> Kapan sebenarnya permainan Golf  dimulai ? Menurut catatan,  tahun 1457  Raja James II mengeluarkan larangan bermain Golf .  Beliau cemas karena kaum pria  lebih suka bermain Golf daripada melakukan  hal lain, sehingga dapat mengganggu stabilitas  nasional, pikirnya. Tapi hal ini tidak membuat Golf sirna,  entah kenapa, malah sebaliknya berkembang. Catatan pertama mengenai Golf di St Andrews dibuat pada tahun 1553. Tahun 1754  Perhimpunan  Pegolf  St Andrews dibentuk untuk mengorganisir Pertandingan Berkala.  80 tahun kemudian menjadi Royal and Ancient  Golf Club yang menetapkan Peraturan Permainan Golf di banyak negara.  Sayang sekali Clubhouse ini tidak dibuka untuk umum. Kekecewaan ini mungkin dapat terobati dengan mengunjungi BRISTISH GOLF MUSEUM yang letaknya berdekatan dengan Clubhouse.<br />
Sebagai informasi tambahan, ada yang bilang bahwa olahraga sejenis Golf sudah menjadi Mainan Para Bangsawan (seperti iklan sirop saja) di Asia Timur pada abad ke 15.  </p>
<p> Selain tua, OLD COURSE ini unik karena terbentuk secara alamiah. Alkisah,  ribuan tahun yang lalu, daratan di wilayah St Andrews naik sedangkan permukaan lautnya turun.  Hal ini menimbulkan perubahan pada  kontur tanah di St Andrews.  Pasir yang melimpah dan daratan yang berubah membentuk fairway dan bunker secara alamiah.</p>
<p> Tanpa terasa hari sudah menjelang sore,  kami tidak menyadari bahwa di kota kecil kegiatan apapun termasuk toko,  tutup pukul 6:00 sore.   Walaupun hari masih terang  karena baru awal musim gugur, semua kegiatan publik berhenti, kecuali  restoran yang masih buka.  Kamipun beringsut pergi, meski  hati masih ingin tinggal lebih lama lagi  menikmati keindahan kota kecil nan tua penuh sejarah yang menawan ini. </p>
<p> Dalam perjalanan pulang kami melewati Kampus Universitas yang juga terletak di tengah kota dengan bangunan asrama yang  tidak kalah kunonya pula, namun didalamnya modern dan bersih.  Kami dapat melihat kamar, kantin dan perpustakaan dari luar karena letaknya  bersisian dengan  tepi jalan.  Banyak juga mahasiswa  dari Asia.   Kami  juga berpapasan dengan rombongan pegolf yang tadi kami lihat bermain  di OLD COURSE, mereka berjalan dengan wajah gembira dan tidak putus-putusnya berceloteh.  Mereka kelihatan begitu berbahagia mungkin karena mereka  sudah mencapai impian para golfer untuk bermain di Old Course.  Saya pikir begitu&#8230;&#8230;   </p>
<p>Skotlandia &#8211;  September 2008</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/travellingwithellen.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/travellingwithellen.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/travellingwithellen.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/travellingwithellen.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/travellingwithellen.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/travellingwithellen.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/travellingwithellen.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/travellingwithellen.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/travellingwithellen.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/travellingwithellen.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/travellingwithellen.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/travellingwithellen.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/travellingwithellen.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/travellingwithellen.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travellingwithellen.wordpress.com&amp;blog=9434118&amp;post=26&amp;subd=travellingwithellen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/05/20/old-course-%e2%80%93-lapangan-golf-alami-tertua-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae81de94ad06dff46fc5b918eb5f193d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elleneliawaty</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://travellingwithellen.files.wordpress.com/2010/05/st-andrews-golf-course-post-card.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">St Andrews Golf Course-Post Card</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KOREA DISERBU GARA-GARA “HALLYU WAVE”</title>
		<link>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/05/20/korea-diserbu-gara-gara-%e2%80%9challyu-wave%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/05/20/korea-diserbu-gara-gara-%e2%80%9challyu-wave%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 11:29:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ellen Eliawaty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travellingwithellen.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Sumber foto : Postcard Fenomena serial oriental di Asia Bermula dari meledaknya serial fenomenal Taiwan ” Meteor Garden” di 2002, 4 pemuda tak dikenal namun berwajah tampan dengan postur tubuh lebih dari lumayan, diramu cerita “Cinderella” yang menjadi impian hampir setiap wanita, membuat F4 terkenal seketika bak meteor di jagat raya Asia, dari anak-anak sampai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travellingwithellen.wordpress.com&amp;blog=9434118&amp;post=22&amp;subd=travellingwithellen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://travellingwithellen.files.wordpress.com/2010/05/winter-sonata-post-card1.jpg"><img src="http://travellingwithellen.files.wordpress.com/2010/05/winter-sonata-post-card1.jpg?w=221&#038;h=300" alt="" title="Winter Sonata-Post Card" width="221" height="300" class="alignnone size-medium wp-image-32" /></a><br />
Sumber foto :  Postcard</p>
<p><strong>Fenomena serial oriental di Asia</strong><br />
Bermula dari meledaknya serial fenomenal Taiwan ” Meteor  Garden” di 2002, 4 pemuda tak dikenal namun berwajah tampan dengan postur tubuh lebih dari lumayan, diramu cerita “Cinderella” yang menjadi impian hampir setiap wanita, membuat F4  terkenal seketika bak meteor di jagat raya Asia, dari anak-anak sampai dewasa dan bahkan orang tua.   Wajah mereka terlihat di mana-mana,  di tas sekolah, buku, dompet, mug, rambut, dan banyak lagi.  Ketakjuban pada fenomena ini sampai perlu dibahas terus oleh media, dari yang hiburan sampai yang serius dan bergengsi. Demam serial oriental dilanjutkan pula oleh Korea yang tidak kalah pamornya yang disebut HALLYU WAVE.<br />
. </p>
<p><strong>Korea….. kami datang</strong><br />
Dalam suasana demam yang belum reda inilah, di penghujung tahun 2002  kami terbang menuju Korea dengan ikut rombongan tour.  Berangkat malam hari  dari Jakarta, pagi hari kami sudah tiba di Bandara Incheon International   &#8211; Seoul  setelah 6 jam di udara.<br />
Bagi penggemar drama Korea, pasti  sangat akrab  dengan suasana bandara ini, karena hampir disetiap cerita, lokasi bandara selalu diajak syuting  bersama teman-temannya seperti rumah sakit, panti jompo, taman rekreasi, ski resort, dan  sungai Han. Ucapan Selamat Datang dalam berbagai bahasa terpampang di pintu kedatangan.    </p>
<p>Setelah peserta dikumpulkan kemudian  dibagi jadi dua grup. Grup kami dipimpin seorang guide, gadis Indonesia yang tinggal di Korea,  dibantu seorang pria Korea yang merangkap fotographer.  Bayangkan rombongan kami 43 orang, pria dan wanita, dari yang belum ber KTP sampai yang KTP seumur hidup… dan semuanya dimuat dalam satu bus yang keadaannya hanya setingkat lebih baik dari Metromini….<br />
Dalam hati berharap, besok diganti dengan Bus Wisata yang lebih normal, siapa sangka bus ini terlalu setia untuk meninggalkan kami, malah terus menemani sampai akhir…<br />
Itulah akibat ramainya orang yang berkunjung ke Korea, sampai bus wisata pun habis.</p>
<p><strong>Seoul World Cup Stadium – Dongdaemun &#8211; Itaewon</strong><br />
Kami langsung dibawa menuju Seoul World Cup Stadium. Korea masih dalam euphoria World Cup 2002.  Bangunannya besar dan megah, begitu  pula dengan lapangan bolanya, semuanya masih baru dan bersih.  Tapi yang dicari wanita bukan itu… mereka rebutan  berpose dengan An Jae Won sang pahlawan sepakbola Korea   yang tidak kalah tampannya, bahkan mencium sang idola walau hanya gambarnya saja. Hal ini  membuat kesal petugas kebersihan, karena mereka jadi harus sering membersihkannya.<br />
<strong>Dongdaemun</strong> adalah pusat perbelanjaan paling terkenal di Seoul mirip dengan Mangga Dua.  Kiosnya kecil dan rapi serta modern.  Barang yang dijualpun model terkini.  Sangat fashionable.  Dibuka dari pukul 10 pagi hingga 5 pagi keesokan harinya.  Puasss deh….</p>
<p><strong>Itaewon</strong><br />
 Daerah perbelanjaan yang populer dikalangan bule. Lokasinya tidak jauh dari Markas Besar Tentara Amerika.   Disini banyak dijual souvenier di toko maupun di kaki lima.      Kami mencoba “sosis” beras bersaos merah, makan sambil berdiri di pinggir jalan… sejenak kami merasa seperti orang Korea juga .</p>
<p><strong>Everland  </strong><br />
Dengan tubuh segar karena sudah istirahat semalam,  kami pun menuju ke taman bermain outdoor paling popular ini.  Hari ini bertepatan dengan hari Natal, ramai sekali.   Lagu Natal yang syahdu dan mars khas taman bermain menyambut pengunjung.<br />
Kamipun  bergegas ke kereta gantung yang menuju ke Snow Buster, sebuah wahana bermain salju yang hanya ada di musim dingin dan menjadi favorit. Dari kereta, kami dapat melihat keseluruhan arena.  Disini,  walaupun harus mengantri lama, namun ketika  keluar terlihat wajah-wajah  gembira  penuh tawa.  Kegembiraan yang diperoleh setimpal dengan perjuangan mengantrinya.     Bahkan putra saya  ingin mengulangnya lagi….<br />
Bagi yang  ingin jajan,  dapat mampir  di  kios kecil  yang menjual makanan dan minuman hangat.  Orang-orang berdiri didekat meja tinggi sambil mulutnya mengeluarkan asap entah karena asap makanan ataupun hawa dingin, tak tahulah….</p>
<p>Malam hari, suami dan putra  saya menyusuri sekitar hotel dan menemukan restoran yang ramai pengunjungnya, Karena  lapar, maklumlah hawa dingin, mereka pun iseng-iseng makan disana.    Ternyata makanannya enak….sehingga  sejak itu mereka tiap malam kesana.   Terbayang adegan di drama Korea, dimana orang-orang makan sup pedas sambil lesehan  dan  berteriak memanggil sang “ajuma” yang sibuk hilir mudik dengan celemeknya.</p>
<p>Korea Selatan – Desember 2002</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/travellingwithellen.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/travellingwithellen.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/travellingwithellen.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/travellingwithellen.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/travellingwithellen.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/travellingwithellen.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/travellingwithellen.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/travellingwithellen.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/travellingwithellen.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/travellingwithellen.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/travellingwithellen.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/travellingwithellen.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/travellingwithellen.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/travellingwithellen.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travellingwithellen.wordpress.com&amp;blog=9434118&amp;post=22&amp;subd=travellingwithellen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travellingwithellen.wordpress.com/2010/05/20/korea-diserbu-gara-gara-%e2%80%9challyu-wave%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae81de94ad06dff46fc5b918eb5f193d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elleneliawaty</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://travellingwithellen.files.wordpress.com/2010/05/winter-sonata-post-card1.jpg?w=221" medium="image">
			<media:title type="html">Winter Sonata-Post Card</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
