THE TOURISTS, THE PROFESSOR AND THE BODYGUARD…. (Kosovo 2)

Mei 19, 2012

Malam pertama kami kembali ke hotel, terlihat beberapa pria setengah baya duduk di Lobby sembari menonton TV. Tanpa senyum diwajah, semua bermuram durja (ternyata selalu begitu). Konon mereka adalah Pemilik Hotel dan kerabatnya, kami saling menyapa. Mungkinkah mereka terkena Syndrome Masa Lalu? Sedih mengenang kejayaan dulu.

Ketegangan sepanjang hari dan suasana sendu di hotel yang sunyi (rasanya seakan hanya kami berdua saja tamu disana), membuat suasana hati semakin tak nyaman. Kamarnya luas lagi, dengan tambahan ruang tamu serta teras. Saya periksa semua pintu berkali-kali dan saya dorong meja dan kursi serta koper untuk mengganjalnya, khawatir tengah malam ada yang menyelinap ke kamar kami seperti yang ada di film. Terngiang kembali komentar orang yang semuanya meragukan keamanan negeri ini karena belum lama usai perang. Partner saya hanya senyum-senyum saja melihat kelakuan saya dan terus sibuk dengan lap-topnya. Sepanjang malam itu saya terus berjaga-jaga dan berdoa. Doa yang sangat khusyuk dan tak berkeputusan, sampai akhirnya saya tertidur juga….

Kicauan burung-burung kecil di pagi hari membangunkan saya dari tidur yang nyaman. Saya membuka jendela dan menghirup udara segar sambil memandang langit Pristina yang cerah, langit yang sama dimanapun juga di dunia. Terima kasih Tuhan atas hari yang baru. Selamat Pagi Pristina. Saya sangat bahagia di awal hari ini dan mencurahkannya di FB.

Kegembiraan pagi itu bertambah dengan datangnya Guide kami, akh…sekarang kami tidak sendiri lagi. Ternyata guide kami berteman baik dengan sang pemilik hotel. Kemudian saya dapati bahwa guide kami ini sepertinya mengenal hampir semua orang di Kosovo. Guide kami bernama Zacharia, tapi minta dipanggil Mr. Zaki saja. Seorang Profesor yang menjadi Dosen Pariwisata. Putrinya, Eleonora adalah pemilik satu-satunya Travel Agent di Kosovo, sudah menyandang gelar MBA tapi kembali belajar Pariwisata dan menjadi mahasiswi sang ayah. Menantunya adalah seorang Pengawal Perdana Menteri yang juga adalah sepupunya Mr. Zaki.

Tidak heran kalau sering terdengar mereka satu sama lain masih kerabat atau teman, karena populasinya memang sedikit. Yang tinggal di Pristina, ibukota negara hanya 800,000 orang dari total populasi Kosovo yang 2 juta.

Hari itu sang menantu libur, jadi dia akan bertindak sebagai sopir kami. Betul-betul bisnis keluarga. Orangnya tegap dan sigap hasil gemblengan negara asing yang terkenal dengan spionasenya. Ketika saya katakan dia mirip sekali dengan Arnold Schwarzenegger, dia tersenyum gembira, wah… tambah mirip deh. Saya memanggilnya Mr. Bodyguard sesuai dengan profesinya. Tim yang hebat! Dan meluncurlah THE TOURISTS, THE PROFESSOR AND THE BODYGUARD menyusuri jalan-jalan Pristina, diiringi lagu The Bodyguardnya mendiang Whitney Houston yang berkumandang dari radio mobil. Lagu ini kembali populer di seluruh dunia setelah kematian sang penyanyi legendaris itu belum lama berselang.

Mr. Zaki adalah seorang saksi sejarah, ikut berjuang membantu rakyat pada masa perang bersama badan sosial Bunda Theresa. Dia kehilangan dua orang paman, abang kandung dan banyak sanak saudara. Dia sendiri nyaris tewas kalau saja pada hari itu dia pulang kerumah. Pilu dan bergetar suaranya kala bercerita, demikian pula kami yang mendengar.

Di Kosovo tidak ada Monumen Khusus Peristiwa Pembantaian seperti di Kamboja (The Killing Field). Disini musuh mengumpulkan laki-laki desa lalu dibawa ke hutan, ditembak dan dikubur massal disana. Dalam perjalanan ke luar kota, kadang kala kami melihat kuburan atau papan nama yang menyatakan bahwa di tempat itu pernah terjadi pembantaian. Untuk mengenang jasa para pahlawan, mereka mendirikan patung dan monumen peringatan di pusat kota. Masih ada bunga segar yang diletakkan disana….

Akibat banyak yang terbunuh di masa perang, maka kini dimana-mana kebanyakan yang terlihat adalah bayi, anak kecil, remaja serta orang muda. Jelas mereka adalah produk sesudah merdeka atau masih kanak-kanak ketika perang terjadi. Sehingga Kosovo terkenal sebagai negara dengan populasi terbesar usia 35 tahun kebawah.

Hingga saát ini Kosovo masih dibantu dan dilindungi oleh NATO dan Uni Eropa. Kehidupan berjalan normal persis dengan negara Eropa lainnya. Jalan-jalan baru dibangun diatas jalan lama yang hancur oleh mobil perang, demikian pula dengan jalan tolnya yang tanpa bayar tapi rapih dan lancar sampai ke luar kota. Tak terlihat bahwa mereka baru usai perang. Sungguh Ironis membandingkan Tol mereka dengan JORR di Jakarta Barat. JORR terlihat darurat dan seakan belum selesai, jalanannya sempit dengan tikungan yang “menekuk” sangat berbahaya bagi yang belum terbiasa. Jadi malu dibanding dengan negara bayi…..

Satu-satunya tanda bahwa mereka baru saja usai perang adalah pengumuman di pintu mal, tanda LARANGAN dengan gambar PISTOL. Tidak pernah ada di tempat lain, hanya di Kosovo.

Suatu kali di Frizen (kota wisata) seorang bocah mendekati kami meminta uang, dengan galaknya guide kami menepis tangan bocah tersebut sambil bilang :”Minggir kamu! Di Kosovo tidak ada pengemis!” ternyata pengemis itu berasal dari Macedonia negara tetangga dibalik gunung. Dan memang tidak ada pengemis di Kosovo, tidak pula ada kemiskinan, walaupun angka pengangguran tinggi (40%). Banyak keluarga mendapat bantuan dari kerabatnya yang di luar negeri, tidak sedikit pula yang kaya raya. Mereka pulalah yang membangun tanah air tercinta. Restoran dan Hotel Standard International dibangun, taxi Mercedes tersedia di hotel mewah, London Cab pun ada. Pariwisata digalakkan, semua sektor ekonomi dikembangkan. Sebuah negara yang sedang bertumbuh…. Kosovo kaya dengan aneka tambang di gunung-gunung, itulah yang dulu diincar musuh.

Bagi Mr. Zaki, kami adalah tamu Indonesianya yang pertama. Selama ini tamunya yang dari Asia adalah Jepang yang kebanyakan Lanjut Usia bahkan ada yang 92 tahun. Mereka selalu minta yang termewah. Walaupun hanya 20 orang tapi maunya bus besar dan hotel mewah. Yah wajarlah, ‘kan tinggal menghitung hari…. kalau tidak sekarang, kapan lagi? Ragu-ragu dia bertanya: “tapi kalian berdua beda yah… berperawakan tinggi.” Dalam hati saya ketawa geli, habis dibandingkan dengan orang Jepang yang sudah tua pula, tentu beda. Saya katakan bahwa “normalnya”orang Asia tidak setinggi orang Eropa, wah dengan kata lain kami “tidak normal” dong… ha ha ha …..

Kosovo adalah negara yang sarat dengan sejarah dan budaya yang sudah berusia 7,000 tahun. Banyak Gereja dan Mesjid yang berabad umurnya, bahkan situs purbakala. 94% penduduknya adalah Muslim dengan gaya hidup model Turki, karena Turki pernah disana dijaman kejayaan OTTOMAN. Kebudayaan Turki masih kental terlihat di Frizen, 2 jam perjalanan dari Pristina.

Untuk mengenang dua orang yang berjasa besar terhadap Kosovo, maka dua jalan raya terbesar di pusat kota Pristina dinamakan BUNDA THERESA Boulevard dan BILL CLINTON Avenue.

Dunia mengenal Bunda Theresa, dan beliau adalah orang Kosovo yang lahir di Skopye – Macedonia. Tempat beliau mendapat ilham bernama Gereja Black Madonna yang kini ramai dikunjungi turis. Disini terdapat patung Bunda Maria dengan Bayi Yesus berkulit hitam yang hanya ada 5 di dunia.

Sedangkan Bill Clinton sangat dihormati bagaikan dewa, karena telah berjasa menyelamatkan hidup bangsa Kosovo dari kepunahan. Ketika mereka terkepung musuh dan tak berdaya, berkurung dirumah menunggu kematian, Bill Clinton yang saát itu menjabat Presiden Amerika memerintahkan NATO untuk menghancurkan Serbia, sehingga terselamatlah Kosovo. Berdekatan dengan Universitas Kosovo berdirilah patung Bill Clinton dengan gagahnya sambil mengacungkan tangan.

Masih di jalan yang sama terdapat Resto China yang ramai dikunjungi orang-orang asing. Kokinya asli dari China dan masakannya enak. Pemiliknya adalah orang Kosovo yang merangkap jadi pelayan. Dia adalah kolektor uang asing. Ketika kami memberikan Rp 20,000, woww.. matanya melotot! Ha?

Malam terakhir kami iseng jalan-jalan, waktu itu sekitar pukul 9. Satu dua orang terlihat di jalan, sesekali mobil melintas. Toko-toko tutup, hanya resto dan supermarket yang masih buka. Semestinya Mal masih buka hingga pukul 12 malam seperti tercantum di pengumuman. Angin malam di bulan Maret masih menyisakan rasa dingin yang menusuk tulang.

Kami mampir ke Supermarket cukup besar yang masih ramai yang buka hingga pukul 11 malam. Semua barang lengkap disini. Sosisnya besar dan melingkar. Dan yang menakjubkan adalah kami menemukan MIE INSTANT dari Indonesia yang sering kita jumpai di warung. Disini diletakkan di bak terbuka di tengah ruangan, sepertinya sedang promosi. Boleh bangga dengan Mie Instant Indonesia ini, kami juga pernah menjumpainya di Maldives dan beberapa negara lain yang tidak populer.

Sambil berjalan santai, saya memandang ke langit dengan bulan dan bintang yang gemerlapan, tak bedanya dengan langit dimanapun juga. Perasaan senang menyelinap perlahan, saya sadari sudah lama tidak menikmati suasana malam, yang tidak pernah saya lakukan lagi di tempat tinggal saya yang sekarang. Siapa berani? Terngiang kembali perkataan Mr. Zaki berkali-kali : ”KOSOVO adalah Negara TERAMAN di dunia saát ini”.

Iklan

KE KOSOVO? SIAPA TAKUT! PADAHAL…..(KOSOVO 1)

Mei 14, 2012

Bila ada yang menyebut KOSOVO, maka yang terbayang adalah sebuah negara yang sedang berperang dan pembasmian etnis (genocide), seperti yang disiarkan media massa dekade terakhir ini. Walaupun mereka sudah merdeka (2008), sesekali masih ada berita negatip. Partner Travelling saya mengajak temannya kesana, karena mereka memang senang melancong ke negara-negara di Eropa, kebetulan dia masih belajar di Inggris. Tapi tidak ada satupun yang mau, alasan mereka: Takut Mati!! Ha?! Berarti mereka masih normal dong!

Waktu saya mau ke Eropa, partner saya ini menyarankan kami ke Kosovo dan Croatia saja, dua negara bekas Yugoslavia yang terkenal dengan Presidennya Josip Broz Tito. (Pada 1961 Presiden Tito dan Presiden Soekarno bersama tiga negara lainnya mendirikan Gerakan Non Blok). Croatia memang terkenal dengan destinasi wisatanya, salah satunya DUBROVNIK yang memang menarik. Tapi… Kosovo…..???….. Tiba-tiba jiwa petualang saya timbul dan berkatalah saya dengan gagah berani : “OK, kita ke KOSOVO! Siapa takut?” Padahal…. dalam hati ….. takut banget! Juga penasaran sekali!!! Seketika partner saya tertawa senang karena sudah menduga saya pasti mau. Jelaslah… darimana jatuhnya buah kalau tidak dari pohonnya? Like mother like son….

Nyaris tidak ada informasi terkini tentang negara ini, tidak ada yang bisa ditanya, pun tidak ada kedutaannya di Jakarta, internetpun begitu. (Setelah di Kosovo kami ketahui bahwa Travel Agent disana memiliki Web-Site di Internet, tapi tidak dapat kami akses). Akhirnya kami membeli tiket dan hotel serta guide via Travel Agent di London. Untuk negara yang tidak jelas, kami cenderung memakai jasa tour guide, sebaliknya di Croatia kami jalan sendiri.

Dalam pesawat British Airways yang penuh dengan sekitar 200 penumpang, hanya kami berdua orang Asia (biasanya paling tidak ketemu orang Jepang), sedikit orang asing, sisanya orang Kosovo yang mudik dengan banyak anak kecil dan bayi. Saya jadi teringat cerita “Perawan di sarang penyamun”. Benar-benar asing. Partner saya sudah tertidur, perlahan-lahan yang lainpun begitu. Suasana sunyi, pikiran saya melayang-layang sambil meresapi suasana sekitar……

Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada dua laki-laki yang duduk tidak jauh didepan, mereka sibuk berbicara dengan wajah serius, saling berhadapan dibatasi koridur jalan. Yang satu berwajah Mirip Dedy Cobuzier (MDC) yang lain berwajah dingin dengan rambut cepak. Seram…. Sepanjang perjalanan 3 jam itu mereka terus berbicara tidak henti-hentinya, dan saya pun terus mengawasi tanpa jeda. Akhirnya kami pun tiba.
Belum juga deru pesawat reda, lelaki cepak tiba-tiba berdiri. Seorang pramugari datang menghampiri serta menghardiknya untuk duduk. Namun itu tidak berguna, dia kembali berdiri dengan tergesa-gesa mengambil barangnya dan terus berlari kebelakang, sementara si MDC temannya di depan. Haduh…. kenapa pula harus satu ke belakang dan satu di depan? Mendadak jantung saya berdegup kencang, mengantipasi apa yang akan datang. Seketika “penyesalan” menyusup di dada, kenapa pula saya mau kesini? Menyesalnya setengah mati! Dilala si MDC berdiri persis di depan saya. Sambil mengambil overcoat, saya bilang ke partner saya untuk siap-siap menyelamatkan dirinya, tak usah hiraukan saya! Saya sudah berancang-ancang untuk mengerudungi si MDC dengan overcoat saya yang besar dan berat itu bila dia mulai bertindak. Biarlah satu orang berkorban tapi banyak orang selamat! Akh…. betapa heroiknya saya saát itu! Ini sungguh lho, bukan bercanda.
Tapi partner saya menjawab: “Mama… kalau memang mereka mau “bajak”, tidak mungkin tunggu sampai di bandara, mestinya selagi di udara dong……”. Saya tersadar! Akh… pasti cerita action yang punya gara-gara, sampai saya berimaginasi sedemikian rupa. Tapi…..mereka memang sangat-sangat mencurigakan sih! Yah! Sudahlah! Bersyukur karena itu tidak terjadi dan kami semua selamat. Ha ha ha…..

Tertegun kami membaca tulisan ADEM JASHARI International Airport. Kami sudah tiba di PRISTINA Ibukota KOSOVO. Hotel kami bernama ORA, ada pula salon Edi dan Eki . Indonesia banget…

Petugas melihat paspor lalu memandang kami: “Anda dari In-do-ne-sia?” Tanyanya mengeja dengan susah. Sepertinya baru kali ini dia membaca kata itu. Dia lalu berbicara dengan temannya yang langsung mengambil Paspor kami masuk kedalam. Wah…ada masalah apa lagi nih? Tensi pun jadi naik turun tidak karuan. Kami disuruh keluar dari antrian dan bertemu dengan seorang polisi senior yang bertanya: “Untuk apa datang ke Kosovo? Tinggal dimana? Bawa uang berapa? Tiket pulangnya mana?” Sebenarnya pertanyaan standard, tapi karena ditanya khusus oleh polisi, tegang juga.

Kami tunjukkan bahwa kami memang suka berkelana, bukan hanya tempat-tempat yang bagus, tapi juga yang “jelek” sambil membuka lembaran paspor dengan stempel negara yang sudah kami kunjungi. Akhirnya dia bilang : ”Welcome to Kosovo”….. dan taxipun membawa kami yang masih berdebar-debar ke Hotel Ora di pusat kota…….

Hotel ORA adalah saksi sejarah. Sebelum perang Restoran di hotel ini sangat terkenal dan menjadi tempat berkumpulnya para petinggi-negara dan selebritas, termasuk Presiden Rugofa. Jadi tidak heran kalau banyak foto orang terkenal yang dipajang di lobby. Tapi masa keemasan lewat sudah, banyak hotel mewah disana. Kami bertemu dengan beberapa orang yang sama duduk-duduk di Lobby, konon mereka adalah pemilik atau kerabatnya. Satu hal yang paling berkesan bagi saya, justru hotel inilah satu-satunya di dunia yang memberikan pelayanan INTERNET GRATIS 24 jam. Bahkan di koridorpun disediakan komputer. Kebalikan dengan Yangoon-Myanmar, internet berbayar di hotel mewah pun sering putus, dan…. tidak ada Warung Internet di luar hotel.

Malam itu atas rekomendasi hotel, kami makan di Restoran Liburia yang hanya beberapa langkah saja dari hotel. Dari luar hanya terlihat sebuah pintu, ternyata didalamnya terdapat pekarangan cukup luas dengan pohon anggur yang merambat dan bangunan rumah yang bertangga. Ada gazebo yang keluar dari bangunan induk, persis dengan rumah yang ada didalam Novel Eropa. Resto ini sudah berumur 220 tahun, dekornya antik, tamunya juga tidak kalah antik. Seorang Nenek-tua pelancong duduk sendirian menikmati makanan, meneguk anggur dengan perlahan sambil membaca Ipodnya. Terlihat begitu anggun…. Sungguh pemandangan yang inspiratif! Bisakah saya seperti itu nanti……?

Di pojok sana terlihat segerombolan anak muda Amerika, mereka ramah menyapa kami. Resto legendaris yang memang sangat direkomendasikan pada hampir semua orang asing yang berkunjung ke Pristina. Ketika tagihan datang, kami kaget! Murah sekali! Harganya hanya setara dengan Mc Donald di London. Kami mampir di Minimart depan hotel, membeli snack dan soft drink yang menghabiskan tidak sampai 1 Euro. Wow…….. Pantaslah kalau orang bilang Biaya Hidup di Kosovo adalah yang termurah se Eropa.

MYANMAR THE GOLDEN LAND

Juli 4, 2011

Terus terang kalau saya mendengar nama Myanmar, yang langsung terlintas di benak saya adalah Aung San Suu Kyi. Wanita ayu lulusan Oxford – Inggris yang selalu tampil berpakaian tradisional Burma dengan untaian bunga melati di sanggulnya. Hanya itu saja! Jadi ketika kami memutuskan untuk berkunjung kesana, kamipun sibuk mencari tahu apa saja yang dapat dilihat disana, pengurusan visa, pembelian tiket dan sebagainya. Beberapa travel agen besar yang ada di Jakarta sempat saya hubungi, tapi mereka sendiri kurang tahu, maklumlah Myanmar bukanlah destinasi populer. Akhirnya kami mengurus semuanya sendiri.

Pembuatan visa (walaupun termasuk 10 negara ASEAN yang semestinya bebas visa), ternyata mudah sekali dan selesai hanya dalam 3 hari kerja dengan harga murah, paling murah diantara negara-negara lain. Hasilnyapun bagus, visanya terpampang sangat cantik di paspor setara dengan visa Inggris yang pernah menjajah Myanmar. Sebuah kejutan yang menyemangati setelah kegalauan hati karena merasa berurusan dengan negara antah berantah.

Kami berangkat pukul 6 pagi dari Jakarta, 1,5 jam kemudian tiba di Kuala Lumpur. Transit selama 2 jam. Ketika di ruang tunggu, mendadak tercium aroma sedap ayam goreng bersamaan dengan kehadiran sepasang kakek- nenek, yang tertatih-tatih menjinjing bungkusan bergambar kakek berjas putih, yang anak kecil juga tahu kalau itu KFC. Pemandangan ini menimbulkan pertanyaan: “Apakah di Yangon tidak ada KFC yang sudah mendunia ini, sehingga harus dibawa dari KL?” Nanti kita cari tahu Yah!

Akhirnya….setelah 2,5 jam terbang kami tiba di Yangon yang dulu pernah menjadi ibukota Myanmar atau Burma. Airportnya masih baru dengan konstruksi baja yang sedang jadi trend airport sedunia. Turis yang datang kebanyakan bule yang terkenal suka bertualang dan kami berdua dengan jiwa yang sama….

Sementara saya celingak-celinguk mengamati suasana baru ini, saya menyadari rekan seperjalanan saya yang setia menemani sejak kecil hilang, saya mundur ke belakang mencari, ternyata dia sedang dikerumuni petugas yang berpakaian putih (kesehatan) dan petugas imigrasi wanita yang memakai rok, sepatu bertumit dengan kaos kaki (terlihat unik kalau tidak boleh dibilang janggal). Apa pula ini? Waduh…. Masalah?! Tak berapa lama terlihat mereka tertawa-tawa…. dan partner saya segera menyusul ibunya. Ternyata dia dikira orang Jepang, disuruh skrining untuk mengetahui apakah tercemar “radiasi” atau tidak? Waktu itu musibah Tsunami di Jepang belum lama terjadi.

Sementara kami mengantri di imigrasi, dari barisan penjemput terlihat seorang lelaki berperawakan kecil, kulit sawo matang, berkaca-mata, umur sekitar 30-an terus memandang kami berdua. Tiba-tiba mata kami saling bertemu dan dia tersenyum ramah. Saya bilang ke partner saya: ”Pasti itu orangnya!” Ternyata benar!!! Pada pandangan pertama saya sudah merasa akrab dengan dia, karena dia sangat mirip dengan teman kerja saya dulu, sehingga saya menyebutnya Yasmin, padahal namanya Michael dan nama asli Burmanya saya lupa, dialah pemandu wisata kami. Seorang Sarjana Arkeology dan Buddhis yang baik dan santun, selalu bilang: “I am at your service” membuat orang serasa Ratu! Baginya bekerja bukan semata untuk mencari uang tetapi juga sarana melakukan kebaikan. Wowww..

Sebagai negara Asia Tenggara, penduduk Myanmar termasuk ras Melayu. Sehari- hari kaum pria memakai sarung dan kemeja putih (tidak warna lain) dan sarung dengan atasan biasa untuk wanita. Kaum pria mengikat ujung sarungnya didepan dan diplintir mirip konde, sedangkan kaum wanita melipat sarungnya didepan dengan rapi. Kaum pria memakai sandal jepit dengan model, bahan dan warna yang sama semuanya yaitu hitam, bedanya hanya di warna sarung saja, itupun mirip-mirip. Kostum ini digunakan juga untuk acara resmi seperti yang terlihat di foto kunjungan pejabat.

Rupanya banyak yang masih mengunyah sirih dengan aksesorisnya, bukan hanya orang tua (dulu di kota asal saya cuma nenek-nenek) tetapi juga anak muda, termasuk sopir kami (tapi Michael tidak). Saya pernah melihat seorang pemuda tampan dengan dandanan masa kini, ketika mencibir terlihat cairan merah melipir di bibir… ah… seperti di “Twilight” saja. Ternyata negeri ini unik, membuat saya jadi antusias dan lupa bahwa kemarin baru saja ke dokter.

Kota Yangon adalah sebuah kota Metropolis yang pernah menjadi Ibukota Myanmar. Penataan kota sangat baik terlihat dengan ruas jalan yang lebar, 3 ruas di kiri dan 3 ruas di kanan dipisahkan oleh pembatas jalan berhias tanaman pendek sehingga tidak mengganggu pandangan pengemudi. Suasananya mirip Menteng di Jakarta, maklumlah mereka dibangun di jaman yang sama yaitu di jaman penjajahan dulu.

Disini masih “sangat banyak” bangunan-bangunan lama bergaya kolonial bertingkat dua yang masih cantik dan kokoh walaupun berusia ratusan tahun. Dirawat dengan sangat baik serta masih digunakan sebagai kantor kedutaan, lembaga dunia, ataupun restoran berkelas. Sungguh harta tak ternilai yang membawa kita melihat kejayaan masa lalu dari tempat ini. Itulah gunanya sejarah. Sedangkan bangunan baru dibangun di tempat lain tanpa harus merobohkan yang lama.
Hal ini membuat saya tanpa sadar membandingkannya dengan “KOTA TUA” di Jakarta, yang alih-alih disayang malah dijadikan gudang atau dibiarkan terbengkalai dan rusak tak berbentuk lagi. Hanya sedikit sekali yang masih bagus. Sungguh ironis……. sedih sampai mau menangis!!!

Sewaktu jalan-jalan di pusat kota, terasa nian nyaman dan aman. Kemudian saya sadari ternyata disini tidak ada “sepeda motor” satupun karena dilarang di Yangon tapi tidak di kota lain dengan alasan yang berbau takhyul. Berbeda sekali dengan di Jakarta yang sepeda motornya terus bertambah sangat pesat, namun sayang hampir semua pengendaranya tidak sopan, melintas semaunya tanpa aturan, tiba-tiba sudah ada di depan seakan hanya dia sendiri di jalan, membuat semua orang dalam bahaya dan ketakutan. Saya percaya andapun merasa demikian, bukan? …… lalu harus begini sampai kapan?? Disini, tidak pula kelihatan pengemis ataupun pedagang asongan, bahkan KFC si AYAM JAGOAN.

Memasuki halaman kompleks Istana atau Pagoda alas kaki harus dilepas. Ada beberapa tempat yang lantainya sudah dilapisi keramik halus tapi banyak juga yang masih disemen kasar bahkan tanah keras di area yang luas. Kami meninggalkan alas kaki di mobil. Adakalanya dalam perjalanan dari mobil ke tempat tujuan, harus melalui tanah berpasir dan berbatu kerikil kecil. Mata menunduk ke bawah memilah jalan yang dilalui, karena banyak “ranjau cairan merah” yang masih segar maupun yang pudar. Kasihan si jempol kaki yang baru dioperasi! Saya balut dia berkali-kali, sambil berkata wanti-wanti: “hati-hati yah….. jangan sampai infeksi”.

Waktu itu matahari terik sekali, rasanya panas tak tertahankan! Susah payah saya menahan diri tidak mencopot sarung Michael untuk diajak tukaran. Sepertinya memakai sarung sangat nyaman di cuaca seperti ini, kelihatan mereka oke-oke saja tuch! Ah….enaknya sarung… bikin iri saja! Partner saya yang sudah terbiasa tinggal di negeri dingin, senang sekali kembali ke mobil yang berpendingin, mencuci tangan dengan tissue basah super sejuk dan menghirup air mineral yang selalu berada di Iced-Box. Dalam situasi seperti ini, saya selalu menghibur diri: “ Di dunia ini tidak ada yang gratis!” mau melihat banyak tentu harus berani tidak enak, itu sudah konsekuensi! Maka sayapun kembali senang……

Buddhisme merupakan agama mayoritas yang dianut 89% penduduk dengan ta’at. Pemberian Persembahan kepada Bikhu/ni di waktu pagi masih merupakan ritual yang dapat kita jumpai setiap hari. Barisan Bikhu/ni membawa wadah persembahan sambil berjalan tertib dengan wajah damai berbalut jubah warna jingga tua bagi Bikhu dan pink cerah bagi Bikhuni sungguh menarik. Rupanya hal ini juga menjadi inspirasi bagi pelukis yang menuangkannya pada lukisan yang dapat kita jumpai dimana saja. Mereka berbaur dengan masyarakat biasa. Adalah kebanggaan bagi keluarga bila ada dari anggota keluarganya yang menjadi Bikhu walau hanya sementara saja, paling tidak satu kali dalam hidupnya. Kedengarannya seperti wajib militer yang berlaku di beberapa negara. Dari semua pria dewasa yang saya temui, hampir semuanya sudah menjalani hal ini, bahkan beberapa kali termasuk Michael.

PAGODA SWEDAGON adalah landmark kota Yangon yang terletak ditengah, sehingga terlihat dari segala penjuru kota juga dari hotel kami menginap. Sudah berusia 2500 tahun dan terbuat dari emas murni. Bobotnya terus meningkat karena tiap tahun selalu dilapisi emas, sehingga sekarang mencapai 60 ton. Pucuknya dihiasi aneka permata dan batu mulia, tidak heran karena Burma sejak dulu disebut MYANMAR THE GOLDEN LAND yang menghasilkan emas dan batu mulia, terutama Jade alias Giok. Bila siang berkilau keemasan karena sinar matahari maka malampun tak kalah gemerlapan oleh cahaya lampu yang menyinari. Sungguh spektakuler dan sulit dicari tandingannya dalam hal ukuran maupun kemegahannya! Lucunya Pagoda ini tidak termasuk World Heritage (Warisan Dunia) alasannya karena sudah tidak orisinil lagi akibat dipoles dan diperbaiki. Banyak patung yang tadinya langsing menjadi tambun. Jadi walaupun Myanmar memiliki banyak situs purbakala yang amat langka, tapi tidak ada satupun yang masuk dalam World Heritage yang dilindungi UNESCO karena terlalu dijaga. Ironis…..

Kerajaan Sriwijaya di Palembang pernah menjadi Pusat Agama Buddha pada masa jayanya. Sayang peninggalannya tidak terpelihara dan nyaris tak bersisa. Tapi kalau kita mau jeli dan teliti, sebenarnya rumah-rumah kuno penduduk yang terbuat dari kayu berbentuk panggung, limas ataupun toko dengan langit-langit rendah di Palembang (entah sekarang masih ada) persis sama dengan arsitektur yang ada di Indochina bahkan sampai Nepal di Asia Selatan. Ini tentunya membuktikan bahwa ada keterkaitan sejarah di masa lalu. Walaupun demikian, kita beruntung masih ada Candi Borobudur sebagai Tempat Pemujaan Agama Buddha yang masuk kedalam Warisan Dunia dan menjadi Kebanggaan Indonesia.

Myanmar telah meninggalkan kesan yang mendalam, sepertinya saya sudah jatuh cinta padanya, karena sampai sekarangpun masih selalu terbayang-bayang…… Yah! Myanmar telah saya tetapkan sebagai salah satu negara ter-favorit dalam daftar negara yang pernah saya kunjungi.

CINTA BERSEMI DI ST. ANDREWS – SKOTLANDIA

Januari 26, 2011

Berita yang sudah lama dinanti akhirnya muncul juga. Hampir semua media massa memuat berita pertunangan dari Pangeran yang paling menarik perhatian dunia di dekade ini, siapa lagi kalau bukan Pangeran William dari Inggris. Foto pertunangan resmi menampilkan sang pangeran tampan dengan tunangannya yang cantik Kate Middleton memperlihatkan cincin pertunangan legendaris warisan dari mendiang Putri Diana yang fenomenal: cincin bermata safir biru dikelilingi permata berlian. Sungguh pasangan yang serasi…. Tapi yang paling menarik bagi saya adalah keterangan yang menyebutkan bahwa mereka bertemu dan berpacaran di Universitas St. Andrews, sebuah kota kecil di Skotlandia.

Sebelumnya St. Andrews walaupun kota kecil tetapi sudah sangat terkenal di kalangan tertentu, karena disinilah terletak Universitas yang berbahasa Inggris ketiga tertua di dunia setelah Oxford dan Camridge yaitu Universitas St. Andrews dimana pasangan ini berkuliah. Dan Old Course, Club Golf tertua di dunia dengan lapangan golf alami. Dua-duanya masih eksis, alias masih digunakan dan terawat baik serta masih sangat bergengsi….

SEJARAH KOTA ST.ANDREWS

Nama St.Andrews atau Santo Andreas (dalam bahasa Indonesia) diambil dari nama salah satu dari 12 murid Yesus Kristus. Beliau sebelumnya adalah seorang nelayan dari Danau Galilea di Israel. Santo Andreas dieksekusi mati dengan salib berbentuk diagonal ( X ) yang sangat terkenal itu oleh Kerajaan Romawi di masa awal penyebaran Agama Kristen di Eropa. St. Andrews adalah santo (orang suci) pelindung Skotlandia, Yunani dan Rusia. Hal ini dapat dilihat dari bendera nasional Skotlandia bergambar salib diagonal putih dengan dasar biru sebagai simbol langit. Untuk menghormatinya, setiap tanggal 30 November ditetapkan sebagai Hari Peringatan St. Andrews hingga sekarang. Uniknya malam menjelang hari peringatan adalah kesempatan bagi gadi-gadis untuk meminta jodoh dengan cara-cara yang unik pula.

ST. ANDREWS adalah sebuah kota kecil di timur Skotlandia tepatnya di utara kota Edinburgh. Kota ini dapat dicapai dengan kereta api sekitar satu jam dari Edinburgh yang merupakan ibukota Skotlandia. Tiba di Stasiun St. Andrews telah menanti bus dengan berbagai tempat tujuan, kami memilih ke pusat kota, dan tiket kereta api tadi dapat pula digunakan untuk menumpang bus tanpa harus membayar lagi. Begitu pula sebaliknya. Memang harus diakui bahwa transportasi umum di Kerajaan Inggris sudah sangat efisien, sehingga mudah ke mana-mana asal rajin cari informasi saja. Pantaslah mereka menyandang nama sebagai negara yang memiliki jaringan kereta api yang tertua dan terluas di dunia. Sebuah negara yang tua tapi juga modern. Di Ingris raya , hampir setiap stasiun kereta api maupun bus, memiliki Information Centre yang menyediakan buku petunjuk dan peta dalam jumlah yang banyak serta gratis. Sehingga memudahkan pengunjung untuk memahami kota tujuan serta apa yang pantas dilihat dan cara kesana.

OLD COURSE – GOLF CLUB

Dari terminal bus kami berjalan kaki ke pusat kota hanya memakan waktu 10 menit. Sebuah gerbang kota yang sangat kuno menyambut kami, demikian pula dengan jalanannya yang masih terbuat dari batu, Saya langsung berimaginasi, seandainya orang-orang yang berlalu lalang disini diberi jubah cokelat dan berambut poni, pasti suasananya akan persis sama di jamannya Robin Hood Sang Pencuri Budiman yang terkenal itu. . Seketika saya sepertinya dilemparkan oleh mesin waktu ke abad pertengahan.

Sepanjang jalan menuju Old Course,di kiri-kanan jalan saya melihat deretan toko dan café. Sedikit sekali orang yang terlihat, hampir-hampir tidak ada. Apakah mereka lebih nyaman di dalam? Kami menyusuri jalan sambil masuk dan keluar toko, ternyata ada juga orang-orang disini yang kebanyakan turis atau pegolf. Dan disini hampir semua barang yang dijual adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan golf dan aksesorisnya. Mulai dari peralatan golf,baju kaos, kaos kaki, topi, cangkir, pin, foto lapangan golf hingga shortbread (biskuit khas Skotlandia yang juga dijual di Jakarta). Dan semuanya tertera OLD COURSE dengan lambang golfnya. Begitulah bangganya mereka. Memang turis yang kemari kebanyakan pegolf yang tentunya tidak akan melewatkan kesempatan memiliki sesuatu yang ada Old Course sebagai kenang-kenangan.

Skotlandia disebut juga Highlands atau dataran tinggi, maka itu berjalan disini lumayanlah untuk membuat napas ngos-ngosan, semakin keatas semakin banyak hotel dan restoran mewah. Sampai akhirnya mata kami terpaku dengan suatu pemandangan yang indah nian. Didepan kami terhampar lapangan berumput hijau dengan beberapa orang yang sedang bermain . Persis di puncak bukit yang menghadap ke laut luas berwarna biru tua . Ternyata kami sudah tiba di OLD COURSE yang legendaries dan menjadi buah bibir pegold dunia. Tercatat nama-nama beken di dunia golf pernah bermain disini, seperti Jack Niklaus, Nick Faldo dan Tiger Woods. Jack Niklaus bilang : Saya langsung jatuh cinta pertama kali main disini, tidak ada tempat lain yang seperti ini. Tiger Woods berkata : Ini adalah lapangan golf favorit saya di dunia. Memang, selain tua Old Course juga unik karena terjadi secara alami oleh perubahan kontur tanah berabad- abad yang silam.

Kapan sebenarnya permainan Golf dimulai? Menurut catatan tahun 1457 Raja James II pernah membuat larangan bermain golf, karena kaum pria sa’at itu keranjingan bermain golf sehingga melupakan pekerjaan mereka. Tapi hal ini tidak membuat golf sirna, malah berkembang.

Catatan pertama tentang Golf di St. Andrews dibuat pada tahun 1553. Lalu dibentuk Perkumpulan Golf di tahun 1754 untuk mengatur pertandingan berkala. 80 tahun kemudian perkumpulan ini menjadi Royal and Ancient Golf Club yang menetapkan peraturan permainan golf yang berlaku di dunia. Sayang sekali Golf Club ini tidak dibuka untuk umum. Kekecewaan ini dapat sedikit terobati dengan mengunjungi BRITISH GOLF MUSEUM yang terletak disampingnya.

UNIVERSITY OF ST. ANDREWS

St.Andrews walaupun bernama besar, tapi memang kota kecil, karena hanya berpenduduk 18,000 orang (kurang dari satu juta, bandingkan dengan Jakarta). Itupun kalau hari kuliah, karena sepertiga penduduknya adalah mahasiswa yang kebanyakan dari luar. Bayangkan kalau sedang libur seperti sekarang, pantas saja sepi sekali bahkan di pusat kota. . Sangat kontras dengan London yang tidak ada siang ataupun malam, selalu hidup 24 jam

Nah, ditempat inilah Pasangan Kerajaan Inggris itu tinggal dan menuntut ilmu. Pangeran William bergelar Prince William of Wales yang sering dipanggil William Wales . Sedangkan tunangannya Kattie Middleton disebut Fiancee of Prince William of Wales.

Kami melewati kampus universitas yang juga terletak di tengah kota. Bangunan yang tidak kalah kunonya berumur 6 abad. Asramanya juga begitu. Tapi sungguh menakjubkan didalamnya modern dan bersih serta bernuansa putih atau hitam, tidak warna/I seperti orang Asia. Banyak juga terlihat mahasiswa dari Asia, terutama dari negara persemakmuran (bekas jajahan Inggris). Universita ini sangat terkenal, karena selain tertua di Skotlandia, juga bermutu tinggi.

Dalam perjalanan …… akh…. Kami kembali berpapasan dengan serombongan pegolf yang tadi kami lihat bermain di lapangan. Kini mereka berjalan dengan wajah gembira dan terus saja berceloteh dan tertawa riang. Terlihat betapa bahagianya mereka! Mungkin karena mereka sudah mencapai impian para golfer bermain di OLD COURSE. Saya pikir begitu…..

Tanpa terasa hari menjelang sore, kami tidak menyadari bahwa di kota kecil seperti ini kegiatan apapun termasuk toko, tutup pukul 6 sore kecual restoran, walaupun hari masih terang karena baru awal musim gugur.

Kami mencoba masuk kebeberapa restoran yang ada disana untuk makan malam, ternyata semua penuh dan harus reservasi lebih dulu. Kalau mau tunggu mereka selesai makan, terbayang berapa lama harus menunggu. Tahu sendiri kalau orang Bule makan, dikunyah pakai hitungan paling sedikit 30 kali, selesai satu ronde, ngobrol, sambung ronde berikut, Kapan selesainya……??

Akhirnya kami beringsut jalan dan jalan lagi sambil menikmati sisa-sisa pemandangan yang masih bisa dilihat, berat nian rasanya kaki ini melangkah…. Apakah ini berarti “cinta telah bersemi di St. Andrews?”

BERTEMU SANTA CLAUS DI KUTUB UTARA

November 22, 2010

Siapa yang belum mengenal Santa Claus? Kakek berjubah merah dengan jenggot putih lebat berwajah ramah yang selalu tertawa : ho, ho, ho, ho, …. bukannya he he he he ….(kalau ini mah di FB) Beliau selalu hadir di akhir tahun yang dingin (kalau kita disini karena musim penghujan, sedangkan di tempat lain di utara sana karena musim salju)

Di hari Natal menjelang Tahun Baru, toko, mal bahkan hotel berhias diri dengan pohon Natal yang indah, menyambut kedatangan Santa Claus (bahasa Inggris) atau Sinterklas (bahasa Belanda) dengan Asistennya Piet. Anak-anak bergembira dan berharap mendapatkan hadiah dari Santa Claus, yang sebelumnya telah dipersiapkan oleh orang tua mereka, karena telah menjadi anak yang baik sepanjang tahun. Sedangkan anak nakal akan dihukum oleh Piet. Ini juga semacam sarana edukasi, stick and carrot…. Dari peristiwa ini tercipta istilah “Sinterklas” bagi orang yang suka memberi hadiah walaupun bukan di hari Natal.

Sejak kecil saya hanya mengetahui bahwa Santa Claus datang dari tempat yang sangat jauh dan sangat dingin nun di Kutub Utara…. negeri antah berantah. Mengendarai kereta kencana yang berisi banyak hadiah , meluncur dari angkasa ditarik oleh Rudolf si rusa kutub berhidung merah. Itulah gambaran tentang Santa Claus, yang bisa kita lihat di Post card maupun dekorasi Natal. Sampai suatu sa’at saya mengetahui ada satu tempat di Kutub Utara yang disebut SANTA CLAUS VILLAGE, tempat tinggal resminya Santa Claus versi Finlandia. Banyak versi mengenai asal Santa Claus, seperti umumnya cerita atau legenda di dunia ini.

Maka, suatu hari di bulan Desember, kami serombongan anak kecil, dewasa bahkan lanjut usia, berketetapan hati berangkat menuju ke Kutub Utara mencari Santa Claus…. Melalui perjalanan panjang berpuluh jam, transit di beberapa tempat, akhirnya kami tiba di Helshinki, ibukota negara Finlandia, negara paling utara di Eropa. Dari sini dengan Finnair kami menuju ke Rovaniami, sebuah kota kecil tepatnya di Artic Circle 66o 33’ 07”.
Saya ingin meminjam istilah popular “not only the destination, but also the journey” (ma’af kalau salah kutip), karena walaupun perjalanan panjang yang tentu saja melelahkan, tapi saya perhatikan yang paling menikmati perjalanan ini justru anak-anak, belum tiba di tujuan saja mereka sudah bersuka ria , saling mencari walaupun baru kenal, bermain , bercanda dan tertawa, sehingga membuat kita yang melihatnyapun ikut bergembira. Hati yang hangat di tengah cuaca yang dingin tambah bergairah karena suasana Natal dan tulisan MERRY CHRISTMAS yang menyambut kami di bandara Rovaniami. Sampai juga kami akhirnya…..

Begitu keluar dari Bandara, pemandangan menakjubkan sudah menanti. Semua serba putih karena bangunan, mobil, pohon, penunjuk jalan semuanya kecuali jalanan diselimuti salju tebal, sementara butiran es masih turun satu- satu. Wow fantastic…. Tapi kami harus buru-buru ke Santa Claus Village karena hari sudah sore. Sepanjang jalan…. kami menikmati pemandangan yang sangat indah, hujan salju yang rintik-rintik menyertai kami dengan khayalan masing-masing.
Kota kecil ini sudah mulai dihuni sejak abad ke 12 sebagai tempat persinggahan penebang kayu. Sedangkan Santa Claus Village sendiri dibuka untuk umum pada Musim Panas 1985. Tempat ini ramai dikunjungi turis sepanjang tahun, betapa tidak, di musim semi salju masih bertebaran dimana-mana, di musim panas malamnya terang benderang, di musim gugur alamnya beraneka warna, dan di musim dingin seperti sekarang malampun terang gemerlapan . Tetapi yang paling ramai tentunya di hari Natal karena maknanya sebagai Kampung Santa Claus.

SANTA CLAUS VILLAGE

Kami tiba di Santa Claus Village ketika malam menjelang, bukannya gelap, malah sebaliknya terang gemerlapan karena lampu-lampu yang dipasang di Pohon Natal, Rusa Kutub, Manusia Salju dengan ukuran sangat besar , dan tempat-tempat yang bisa dipasang. Saya merasa seperti “Alice in Wonderland”, terpaku kagum dengan pesona suasana sekitar…… Seumur-umur baru kali inilah mengalami White Christmas yang nyata seperti ini. Thanks God ….. Anak-anak langsung berlari berhamburan diikuti yang dewasa . Jatuh …bangun , saling melempar bola salju sambil terus tertawa…..

PERANGKO PRIBADI dan SERTIFIKAT

Santa Claus Village mempunyai Kantor Pos sendiri yang bertugas menerima dan menjawab surat yang dikirimkan oleh anak-anak se dunia kepada Santa Claus. Yang unik adalah kita dapat membuat perangko dengan foto diri kita sendiri memakai topi Santa Claus. Perangko ini berlaku layaknya perangko biasa dan dapat dikirimkan ke seluruh dunia. Bayangkan ekspresi keheranan orang yang menerima surat dengan perangko berwajah orang yang dikenalnya….. dan kami melakukan itu.
Tibalah sa’at yang dinanti-nanti, anak-anak berbaris dengan tertib untuk bertemu dengan idolanya, siapa lagi kalau bukan Santa Claus…. Satu persatu nama mereka dipanggil, berbicara sebentar lalu foto bersama. Sebagai kenang-kenangan, kami diberi selembar sertitikat dengan nama dan tanggal hari itu yang menyatakan bahwa kami sudah datang ke Santa Claus Village.

Hotel kami adalah sebuah hotel yang besar tapi kuno, pintu liftnyapun masih terbuat dari kayu dan dibuka dengan tangan, kadang-kadang berhenti ditengah jalan. Karena hotel tua, maka letaknya di pusat kota yang ramai, apalagi malam ini ‘kan malam Natal, banyak orang yang merayakannya di hotel, termasuk kami, habis mau kemana lagi….
Kalau dipikir, sebenarnya sejak kami berangkat dari Jakarta hingga tiba disini, terus saja beraktifitas… sudah tidak tahu lagi soal waktu tidur, bangun, makan pagi, siang, malam sudah kacau…. Sampai jetlag pun tidak terasa . Apalagi anak-anak “gak ada capeknya”, disini mereka bertemu lagi dengan Santa Claus dari pihak Hotel.
Ruangan berdekorasi khas Natal dengan dominasi warna merah dan hijau sudah dipenuhi dengan tamu yang berpakaian rapih dan wangi, entahlah dengan kami. Makanan dan minuman pun terlihat cantik, tapi soal rasa…. he he he … tergantung selera. Resto ini terletak di lantai dasar yang bersisian dengan jalan raya, dikelilingi oleh jendela kaca yang lebar. Sementara duduk, saya melihat pemandangan indah seperti yang biasa ada di Kartu Natal, tapi ini bukan , karena dalam lukisan kaca berbingkai ini orang-orang itu bisa bergerak dan berjalan….

PADANG SALJU, ANJING HUSKY, RUSA KUTUB

Pagi ini kami sudah bersiap dengan pakaian lengkap yang semuanya tertutup rapat, ditambah kaca mata, topi, sepatu bot, sarung tangan yang dipinjamkan oleh pihak penyelenggara tour ini.
Saking rapatnya, kamipun tidak bisa lagi mengenali satu sama lain, kecuali dari suaranya. Tapi lama-lama tahu juga, ‘kan warna bajunya beda-beda. Perjalanan kali ini ke HUSKY DOG FARM melewati padang salju selama sekitar satu jam dalam cuaca -27 o. Wuih, lebih dingin dari kulkas.
Rombonganpun dibagi : orang tua, anak-anak dan ibunya “ diangkut” dengan kereta terbuka yang dikemudikan oleh seorang sopir, nah saya termasuk dalam rombongan ini. He he he… Pria dewasa yang bisa naik motor lebih memilih untuk mengendarai “motor salju” sendiri secara berombongan pula… Jadilah kami kafilah seperti cerita “Little House on the Prairi’ tapi di padang salju.

Mungkin karena khawatir, sopirnya sebentar-sebentar berhenti dan menanyakan : Apakah kami baik-baik saja? Memang baik, sih…. Tapi cairan di hidung terus meleleh sampai sarung tanganpun jadi basah karena nya. Sepanjang jalan, kami hanya melihat warna putih….. karena semuanya tertutup salju yang tebal. Suasana sunyi sekali, tidak terlihat yang lain, karena manusia dan hewanpun enggan keluar. Untung kami ramai-ramai, kalau sendirian, malam hari lagi…. Oh…

Akhirnya kami tiba di Husky Dog Farm, ditampung di gubuk berbentuk kerucut yang tidak luas , tapi herannya bisa menampung banyak orang. Kami semua saling “mengakrabkan” diri dan merapat ke perapian ditengah ruang sambil minum strawberry tea yang hangat. Setelah tubuh normal kembali, kamipun mulai menuju ke arena dimana anjing husky sudah siap menanti dengan hebohnya. Mereka bertugas menghela kereta kecil dengan penumpangnya berkeliling arena. Satu pengalaman yang langka dan susah ditemui di tempat lain.
Bus pariwisata ternyata sudah menanti kami, setelah berdingin-dingin, kini kami bisa kembali menikmati kehangatan di dalam bus. Dalam perjalanan pulang ke hotel, kami mampir ke Peternakan Rusa Kutub, hewan yang menghela kereta Santa Claus pada gambar Kartu Natal.

Setiap kali Natal menjelang, kenangan itu kembali datang…. membawa kehangatan dan kegembiraan. Merry Christmas & Happy New Year….

MALDIVES – PULAU IMPIAN HONEYMOONERS

Oktober 14, 2010


Zamrud di Samudera Hindia

Maldives sejak dulu telah dikenal sebagai tempatnya berbulan madu. Suasana tersebut telah mulai dirasakan sejak kami berkumpul di ruang tunggu Changi Aiport Singapore menuju Male (baca : Ma dari makan dan Le dari Lele), ibukota dari Maldives atau Maladewa dalam bahasa Indonesia. Hampir 80% yang berangkat adalah pasangan muda dari berbagai bangsa dan warna kulit, selebihnya adalah turis biasa dan warga lokal.

Empat jam kemudian kami tiba di Male International Airport dan sudah tengah malam. Bandara Male terletak di pulau kecil bernama Hulhule yang dikelilingi laut, sungguh unik dan romantis. Bayangkan, dalam malam kelam yang hanya diterangi sepotong bulan sabit dan bintang di langit, kami duduk di sebuah kapal kecil bercat putih yang disebut Jetty terayun-ayun menuju Male yang ada di pulau lain. Nun jauh disana terlihat lampu-lampu yang gemerlapan. Wow… Indah nian…. Sungguh pemandangan yang sangat mengesankan. Akh, di kapal ini kami jumpa lagi dengan pasangan muda-mudi dan sampai di hotel pun demikian. Mata ini pun sudah mulai terbiasa.

Maldives terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil yang terbentuk oleh karang dan disebut atol. Terletak di Samudera Hindia dibawah garis Khatulistiwa dan sejajar dengan Aceh. Dalam peta hanya berbentuk titik, sehingga disebut sebagai negara terkecil di Asia dan 10 negara terkecil di dunia.

Masing-masing hotel resor menempati satu pulau. Resor kami terletak di pulau Iru Fushi di selatan. Karena agak jauh maka harus dicapai dengan Seaplane (pesawat udara yang dapat mendarat di air), kalau yang dekat cukup dengan speedboat.

Keesokan siangnya, kami berkumpul di ruang tunggu Hotel Resor yang terletak disamping Male International Airport dan check-in disana. Para calon penumpang mulai datang dan lagi-lagi pasangan, tidak ada yang ganjil semua genap. Dari sini kami dapat melihat lapangan terbang yang landasannya adalah air bukan daratan. Pesawat-pesawat kecil dari berbagai maskapai penerbangan berkumpul disana. Aktifitas mereka cukup sibuk, sebentar-sebentar ada pesawat yang berangkat dan mendarat.

Akhirnya kamipun berangkat dengan penumpang sekitar 20 orang. Penerbangan menempuh waktu 45 menit. Cuaca hari itu sangat cerah, kami terbang rendah sehingga sepanjang perjalanan dapat melihat keadaan dibawah dengan jelas. Oh…. saya merasa sangat beruntung, karena dengan naik pesawat baru terlihat pulau-pulau kecil dibawah sana yang sangat indah. Pulau-pulau tersebut bagaikan permata Zamrud yang hijau dikelilingi pasir putih dan batu karang serta koral berkilauan. Sehingga dari atas terlihat bagaikan cincin bermata Zamrud yang dikelilingi Berlian. Apakah ini yang menginspirasi pembuat perhiasan? Pulau-pulau ini dikelilingi oleh hamparan air yang jernih berwarna turquoise atau hijau kebiruan. Bagi saya, Maldives bak taburan permata di Samudera Hindia!

Sepanjang perjalanan tak putus-putus kami mengabadikannya. Rupanya pemandangan indah di bawah sana, membangunkan romantisme bagi yang melihatnya di atas sini. Pasangan muda bule yang duduk persis di depan saya, tak putus-putusnya pula beradegan mesra, yang kalau di TV kita pasti kena sensor. Apa daya, terpaksalah saya menikmati pemandangan yang tak kalah serunya ini. Maklumlah, mungkin mereka honeymooners alias pengantin baru.

Ingat cerita film The Blue Lagoon yang melambungkan si cantik Brooke Shield? Begitulah keadaan pulau ini. Laguna dengan airnya yang jernih hijau kebiruan bergradasi, disinari matahari tropis yang hangat, menjadikan snorkeling populer di sini (Justru tidak nyaman kalau berenang dengan kaki telanjang, karena banyak karang). Nah, kalau beruntung dapat bertemu dengan kura-kura raksasa, ikan pari ataupun sekumpulan lumba-lumba, karena ini ‘kan samudera luas. Dan ada pasangan Belanda yang beruntung, mereka sudah tinggal selama 2 minggu. Konon, orang Bule lebih lama tinggalnya bahkan ada yang sampai 3 minggu dibandingkan dengan orang Asia yang paling tahan 1 minggu.

Banyak aktifitas yang dapat dilakukan disini atau bahkan “TO DO NOTHING” alias tidak melakukan apa-apa, hanya berleyeh-leyeh saja. Tapi yang paling menarik adalah satu program yang disebut “Deserted Couple”. Pasangan ini dibawa ke sebuah pulau tak berpenghuni dan ditinggalkan disana dengan bekal makanan, sore baru dijemput lagi. Di Maldives banyak terdapat pulau tak berpenghuni, karena dari 1190 pulau, yang dihuni hanya sekitar 200 saja. Ternyata banyak juga pasangan yang ingin merasakan bahwa dunia ini hanya milik mereka berdua, tidak boleh ada orang lain….

Bukan hanya pengantin baru, tapi banyak juga yang merayakan HUT pernikahan bahkan menikah disini. Mereka menulisnya di papan peringatan yang diletakkan di dekat pohon di sepanjang “jalan raya”.

Sore itu menjelang matahari terbenam, terlihat karyawan resor dengan pakaian tradisionalnya sibuk menyiapkan altar di pantai. Rupanya akan ada upacara pernikahan pasangan dari Rusia. Tak lama kemudian pengantin datang dengan “buggy” yang dihiasi kembang sepatu. Musik tradisional dimainkan dan acara dimulai dengan dipimpin seorang karyawan resor. Mereka terlihat begitu bahagia dengan terus tersenyum sumringah. Disaksikan orang-tua dan kerabat dekat berjumlah 12 orang serta karyawan resor, lembayung senja dan bunyi ombak seakan turut memberi selamat. Selesai mengucapkan janji setia, mempelai pria menggendong pengantinnya berputar-putar dengan bahagia. Dalam cerita biasanya ditulis “Tamat”, tapi sesungguhnya mereka baru memulai ….

Suatu kali kami santap malam di pantai. Bulan sedang tidak purnama, bintang malas muncul, di kejauhan terlihat kapal dan mercu suar dengan kelap-kelip lampu yang bahkan tidak kuasa melawan gelapnya malam. Di meja kami pun hanya ada setitik cahaya yang redup membuat orang hanya terlihat kalau sedang buka mulut, itu pun kalau giginya putih. Ombak datang dan pergi dihempas angin yang menderu-deru. Tiba-tiba anak saya bilang : “Mama, sadar ‘gak kalau kita ini berada di tengah-tengah samudera raya, bukan lautan biasa ….. “. Saya terkesiap seketika, teringat Tsunami 2004 lalu, merenung sejenak dan tersadar betapa kecilnya saya ini sebagai bagian dari ciptaan Yang Maha Kuasa bila berhadapan dengan alam semesta. Dan betapa ajaib ciptaanNya, sehingga saya bisa duduk di pulau kecil ini dan berdampingan begitu dekat dengan samudera yang luas dan dalam……

Di tempat terpencil ini kasih sayang dirayakan setiap sa’at lewat perbuatan, perkataan bahkan tatapan, seakan setiap hari adalah Valentine Day. Manusia begitu kecil dan rentan…. membuat saya berpikir untuk lebih menghargai hidup dan mengisinya dengan hal-hal yang berguna disertai kasih sayang…

Iru Fushi Atol – Maldives, September 2010

SINGAPURA, DULU DAN SEKARANG…..

Agustus 16, 2010

SKYPARK – MARINA BAY SANDS (Postcard)

SINGAPURA atau SINGHA-PURA artinya Kota Singa dalam bahasa Sansekerta. Nama ini diberikan oleh seorang Pangeran Sriwijaya ketika berkunjung ke Temasek (kota laut) dan tiba-tiba muncul binatang yang menyerupai singa. Kala itu di abad ke 14, Temasek merupakan bagian dari Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang. (Sumber : Wikipedia)

Sejak masih kecil bahkan sebelum saya ada, bagi orang Sumatera, Singapura lebih populer dibandingkan Jakarta. Dari mulai makanan kemasan, pakaian, elektronik, pecah belah sampai ke pengobatan dan pendidikan, semuanya Singapura. Mungkin hal ini disebabkan oleh faktor geografis dan transportasi. Dulu ke Jakarta tidaklah semudah sekarang. Harus naik kereta api ke Lampung, disambung ferry ke Merak naik bus lagi (belum ada jalan tol) barulah sampai di Jakarta. Pesawat terbang sangat jarang, kalaupun ada sering tidak tepat waktu. Sedangkan ke Singapura cukup naik kapal laut yang selalu ada.

Banyak keluarga berada yang menyekolahkan anaknya ke Singapura dengan harapan dapat melanjutkan pendidikannya ke Inggris (masa itu Amerika belumlah sepopuler sekarang). Hingga kini pun para pejabat pemerintah, tokoh,dokter spesialis di Singapura hampir semuanya lulusan Inggris. Maklumlah mereka pernah lama dikuasai Inggris sejak ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles di abad 18 dan kemudian menjadikannya kota pelabuhan yang ramai.

Perekonomian Singapura pernah mengalami masa surut di akhir tahun ’80 an. Salah satu indikasi yang masih saya ingat adalah taksi yang mengantri memanjang di Changi Airport. Para sopir mengeluh sulitnya mendapat penumpang, karena sedikitnya tamu asing yang datang. Pusat perniagaan sepi. Hanya rumah sakit yang masih ramai dengan orang asing yang berobat dari negara tetangga, termasuk Indonesia yang memang paling banyak, mungkin juga karena populasi kita yang paling besar.
Mereka terus berbenah dan mengembangkan potensi yang ada. Karena tidak punya sumber alam, air pun harus didapat dari Malaysia, dan pasir dari Indonesia untuk perluasan wilayahnya. Satu-satunya yang ada, yah Sumber Daya Manusia. Mereka berhasil, terbukti dengan banyaknya kantor perwakilan perusahaan internasional disana yang mempekerjakan professional orang Singapura. Malah akhir-akhir ini banyak pelajar kita yang pintar dan berbakat direkrut pula untuk memperkuat SDM mereka.

Dalam dekade terakhir ini makin sering nama Singapura di sebut-sebut , kali ini sebagai tempat pelarian para tersangka korupsi. Bagaimana tidak ? Negara ini hanya sepelemparan batu dari Indonesia, bisa berangkat kapan saja tanpa visa dengan penerbangan yang ada setiap waktu. Disana tinggal di hotel mewah di Orchad Road yang adalah tempat surga belanja, tidak usah khawatir dengan soal makanan, masakan Indonesia atau Melayu mudah dijumpai disana, paling tidak di Lucky Plaza.

Dan sekarang Singapura juga mengembangkan sektor pariwisatanya dengan membuka hotel termegah dan terbesar di Asia bernama Marina Bay Sands dengan desain yang spektakular 23 Juni 2010 lalu. Selain itu ada pula Universal Studio yang dibangun bersamaan dengan Sentosa Resorts Hotel di pulau Sentosa. Semua hotel ini diperlengkapi dengan pertokoan dan restoran mewah sampai yang sederhana.

Universal Studio yang berasal dari Amerika ini terkenal dengan arena permainannya yang menarik untuk anak-anak maupun dewasa. Salah satu yang paling seru adalah Jet Coaster yang memacu adrenalin . Mereka mengaku sebagai yang tertinggi di dunia. Selain itu masih banyak lagi yang tidak kalah seru!!!. Pokoknya Singapura ingin menampilkan semua yang serba ter… dan… wah!!!
Yang paling menarik adalah bahwa di kedua tempat ini ada mainan baru yang lain : CASINO!!!…. Dan…yang ini khusus orang dewasa, harus berusia diatas 21 tahun! Identitaspun diperiksa dengan seksama. Anak muda yang baby face, disuruh pindah jalur dan paspornya diperiksa dengan alat khusus, apa takut dipalsukan ?? Saya menawarkan diri untuk diperiksa juga paspornya, tetapi mereka menolak… sambil tertawa dan geleng-geleng: “No-need…lah”. Dilihat dari Monas aja udah ketauan tuwirnya …

Marina Bay Sands dapat dilihat dengan jelas dari Esplanade, itu lho bangunan berbentuk “belahan durian tertelungkup” yang juga tempat konser musik. Saya melihat hotel ini seperti sebuah kapal atau malah papan selancar yang kandas diatas tiga pilar. Dibawahnya terdapat bangunan lain yang dipisahkan oleh jalan raya, ternyata menyatu dengan bangunan induk yang dihubungkan oleh underpass. Disini terletak pertokoan mewah dengan merek-merek terkenal yang belum pernah ada di Singapura sebelumnya, contohnya sepatu ber”merek” yang dipuja dan dipakai Sarah JP di Sex and the City. Disini juga ada sampan dengan kanalnya mirip dengan di Venetian Macau hanya bentuknya sedikit berbeda, tapi konsepnya sama… Mungkin sedang trendnya.

SKYPARK inilah yang paling unik dan menarik, si kapal atau apapun terserah imajinasi masing-masing terletak di lantai 57 atau 200 meter dari permukaan tanah. Ketika saya sampai diatas, tak terasa saya berdecak kagum, wuih…. keren… merasa seperti inilah barangkali bentuk”Hanging Garden of Babylon” yang konon termasuk tujuh keajaiban dunia purbakala yang sudah punah itu. Dilengkapi kolam renang yang luas seakan tak bertepi, orang-orang terlihat bagaikan berenang di angkasa raya dikelilingi awan… sepintas khawatir juga kalau ada yang jatuh kebumi …
Ternyata ada temboknya yang tidak diperlihatkan dan kalaupun ada yang nyemplung, paling jatuh ke lantai 56 yang lebih luas,sehingga orangnya tidak langsung meluncur ke bumi. Ada pula Jacuzzi, pepohonan dan tanaman lain, membuat suasana semakin indah permai dengan nyiur melambai disertai angin sepoi-sepoi. Dari sini kita dapat melihat dengan jelas Esplanade dan seluruh pemandangan Singapura , dilengkapi keterangan melalui brochure dan earphone. Bila cerah, Batampun terlihat….
Semua fasilitas disini dapat dinikmati tamu hotel tanpa bayar lagi, sedangkan pengunjung luar harus membeli tiket SGD 20 untuk ke Skypark ini.

Ada satu lagi yang unik, yaitu bahasanya. Karena mereka terdiri dari etnis Melayu, Cina dan India, maka resminya mereka bicara dalam bahasa Inggris. Mendengar mereka berbicara , saya kira mereka sedang berbicara bahasa Mandarin, ternyata Inggris! Itulah Singlish! Singaporean English!! Iramanya Mandarin, liriknya Inggris….. Kalau ‘gak percaya, coba dengarkan siaran TV CNBC Singapore.

SINGAPORE – JULY 2010

DIPAKSA SINGGAH DI LOKASI SYUTING WINTER SONATA

Juni 15, 2010

Ketika guide mengumumkan bahwa kami akan singgah di lokasi syuting Drama “Winter Sonata”, peserta menyambutnya dengan gegap gempita, tak kalah serunya dengan supporter sepak bola. Sebenarnya acara ini diluar program, karena kami sudah menginap di Ski Resort yang lain. Tapi karena terus menerus ditanya peserta mengenai lokasi syuting ini, saking tidak tahannya akhirnya merekapun menyerah dan membawa kami kemari. Mana tahan…. kalau tiap saat dirongrong terus, apa lagi pertanyaannya aneh-aneh dan detil, sampai-sampai dimana wc nyapun ditanyakan.

Drama ini mengisahkan tentang cinta pertama yang tak terlupakan dari sepasang kekasih yang pacaran sewaktu di SMA. Tiba-tiba sang pria mengalami kecelakaan sewaktu dalam perjalanan menjumpai kekasihnya. Tinggallah sang wanita yang terus menunggu dan menunggu. Sementara sang pria mengalami amnesia (hilang ingatan) dan pindah ke Amerika. Beberapa tahun kemudian, sang pria kembali ke Korea. Bersamaan dengan itu sang wanita dengan terpaksa akan bertunangan dengan teman masa kecil yang memang sudah lama menyayanginya. Siapa sangka di hari pertunangan , sang wanita berjumpa kembali dengan cinta pertamanya yang bahkan tidak mengenali dirinya lagi. Dia jadi penasaran dan terus menyelidiki. Gagal sudah pertunangan ! Sementara sang pria juga sudah ada wanita lain yang juga menyintainya. Jadilah jalinan cinta segi empat yang rumit. Sang wanita cinta pertama berjuang keras meraih kembali cinta pertamanya, sementara dua orang cinta baru berusaha keras pula untuk memisahkan mereka. Disinilah konflik berlangsung seru ! Klimaksnya sang pria cinta pertama ingatannya pulih kembalI dan melanjutkan kisah cinta mereka yang tertunda. Nah, tempat klimaks itu terjadi, yah….,di Ski Resort ini…..

Drama ini sangat populer, selain karena ceritanya yang mengharu biru,juga dipenuhi dengan lagu-lagu yang enak didengar. Bahkan tembang lawas macam “The Dancing Queen” yang menyentak dari ABBA pun ikut andil. Tapi tokoh utamanyalah yang menjadi buah-bibir. Namanya Bae Yong Jun, seorang aktor yang melambung namanya setelah membintangi drama ini. Dia tiba-tiba menjadi idola, terutama dari para wanita mulai yang remaja sampai nenek tua. Mereka rela menonton dramanya sampai pagi tanpa berkedip bahkan kalau perlu kencingpun ditrahan. Player yang rusak karena dipergunakan terus menerus, tidak menjadi masalah, segera beli baru dan lanjut…. Ini adalah kisah nyata. Suatu ketika di Bali,sang idola sangat terkejut ketika ada fansnya menyatakan bahwa dia sampai menontonnya 8 kali! Wah, pasti BYJ akan lebih terkejut lagi bila mengetahui,setelah sekian tahun masih ada penggemar setia yang terus menontonnya. Mereka ini sudah hafal betul dengan dialog dan mimiknya. Kalau ada Ujian akhir,saya yakin mereka akan mendapatkan nilai sempurna. Cum Laude! Dia juga sangat terkenal di Jepang, terutama di kalangan wanita dewasa dan paruh baya. Gelombang Hallyu Wave ini membuat Pariwisata Korea maju pesat. Berbondong-bondong fans luar negeri datang ke Korea, salah satunya, yah… grup kami inilah. Industri hiburan ini juga sangat mempengaruhi perkembangan sektor ekonomi lainnya. Konon menjadi penyumbang devisa yang masuk tiga besar.

YONG PYONG All Seasons Resort terletak di Pyeong Chang yang disebut sebagai City of Skiing di daerah Gangwon. Pada sa’at itu mereka sedang berbenah diri sebagai kandidat Tuan Rumah Olimpiade Musim Dingin 2010 yang akhirnya dimenangkan oleh Whistler – Canada. Kebetulan saya sempat ke Whistler tahun lalu. Saya pikir-pikir dulu kenapa yah, kok Yong Pyong bisa kalah dengan Whistler ? Pada hal kompleksnya sangat luas dengan bungalow dan kondominiumnya, lengkap dengan segala fasilitas , tranportasinya baik, alamnyapun mendukung untuk orang bermain ski, karena dikitari oleh gunung, sehingga disebut sebagai yang terbaik di Korea. Tahun-tahun sebelumnya turis-turis luar diajak menginap kemari, tetapi sejak Drama Winter Sonata meledak (jangan samakan dengan ledakan tabung gas elpiji 3 kg) banyak turis lokal yang kemari, sehingga turis luar tidak kebagian.

Disinilah tempat arena ski dimana sepasang kekasih meraih cinta pertamanya kembali. Karena waktu syuting salju tidak turun, terpaksa dibuat salju buatan. Rumah kayu tempat konser musik juga disini. Dinas Pariwisata Korea ternyata cukup jeli dan tanggap dalam mengambil peluang. Mereka menyediakan satu “Café”khusus. Dimana orang dapat duduk dan minum, sambil memandang foto aktor dan artis disekelilingi dinding, tempat perapian, pernak-pernik yang digunakan, sementara sebuah TV terus-menerus menayangkan drama Winter Sonata tanpa lelah, diiringi dengan lagu-lagu yang sudah akrab di telinga penggemarnya.

Tapi itu sih urusan belakangan, karena orang-orang sibuk dengan kamera mengabadikan diri dengan suasana yang ada. Apa saja, segala yang berbau Winter Sonata. Ada yang tidak sabar mengantri, langsung pasang badan bergaya sementara orang lain sedang berfoto, tidak perduli dengan segala sumpah serapah,karena harus mengejar waktu pergi ke lokasi lain di luar café yang cukup jauh. Bagi saya, melihat kehebohan dan tingkah laku fans fanatik ini jauh lebih menarik dan unik….Dimana lagi bisa melihat hal sepert ini ?

Tak terasa waktu berkumpul sudah tiba. Kami pun bergegas kembali ke bus. wisata. Seperti biasa, orang-orang tua selalu terlebih dulu tiba, sementara yang muda-muda masih belum terpuaskan juga.
Yang pasti Titi sang guide hidupnya bisa tenang kembali, karena hasrat peserta sudah terpenuhi.

Korea Selatan – Desember 2002

BERBUGIL RIA – SIAPA TAKUT ?

Juni 10, 2010

SUANBO HOT SPRING
Seperti negara-negara di Asia Timur lainnya yaitu Cina dan Jepang, Korea juga terkenal dengan Hot-Springnya atau Pemandian Air Panas. Jadi kami diajak ke Suanbo, satu kota wisata yang terkenal dengan Hot-Springnya.
Dalam perjalanan darat dengan bus yang memakan waktu cukup lama, kami mampir di toko P & D yang banyak terdapat di sepanjang kiri dan kanan jalan. Toko-tokonya bersih dan teratur serta terawat baik. Mereka menjual aneka makanan, yang basah maupun kering, yang berat maupun ringan, segala jenis mie instan (sepertinya wajib mereka miliki selain beras), buah-buahan dan juga arak (minuman beralkohol). Menjadi semacam tradisi bagi mereka untuk minum arak, mungkin juga untuk mengusir hawa dingin yang menggigit di musim dingin seperti sekarang ini.
Saya tertarik dengan Pier Korea yang besar dan segar. Ternyata setelah dikupas, airnya banyak sekali dan manis… , maklumlah masih segar. Harganya itu lho…. cuma 1,000 won atau sekitar Rp 10,000 per buah.

ONDOL
Malam ini kami diberi kamar tradisional Korea. Kamarnya sederhana tanpa banyak perabot. Di sudut kamar teronggok gulungan kasur tipis yang disebut ONDOL lengkap dengan selimut kapasnya, yang walaupun tebal tapi tidak berat. Anak saya langsung membuka gulungan ondol dan melemparkan diri serta berbaring diatasnya. Dia senang sekali dan berguling-guling sambil tertawa-tawa.
Baginya tidur di lantai dengan ondol sangat menarik. Namun bagi orang tua yang sudah mulai encok, mungkin agak merepotkan untuk bangun dan duduk ataupun tidur di lantai. Aduh, kalau tiap hari tidur begini, pulangnya bisa-bisa lututku gempor dan dikirim ke Orthopedis. Herannya dalam drama Korea, justru orang tua yang masih suka memakai ondol ini. Ruangannya terasa hangat, yang ternyata berasal dari lantai.
Konon di rumah tradisional mereka membakar kayu api di bahwah rumahnya yang berkolong. Ah.. bertambah lagi pengalaman kami merasakan jadi orang Korea.

RAMAI-RAMAI BERBUGIL RIA…
Sejak dari awal kami selalu diingatkan untuk mencobapemandian air panasnya. Kalau tidak, rugi…dan akan menjadi penyesalan berat…. kata sang guide.
Karena penasaran, walaupun sudah pukul 10 malam, saya sendirian pergi juga ke tempat sauna tersebut yang memang terletak di dalam hotel. Ruang sauna pria dan wanita letaknya terpisah.
Sebelum masuk ke ruang mandi, saya harus melapor dulu ke resepsionis. Ternyata ada peraturannya. Kalau mau masuk kedalam, harus melepaskan semua pakaian alias telanjang bulat. Waduh…gawat, nih… saya coba mengintip kedalam, apakah benar seperti itu… Ternyata sangat benar….terlihat anak-anak kecil sampai nenek-nenek bernudis -ria lalu-lalang dengan bebasnya sambil bersenda gurau dan tertawa, ada juga yang duduk berbaris sambil menggosok punggung seperti orang jaman dulu yang memilih kutu di rambut temannya, sambung menyambung menjadi satu…Biarpun sudah larut malam, tapi suasananya ramai sekali. Diwajahnya seakan berkata : “berbugil ria, siapa takut ? “.
Saya jadi teringat sewaktu tinggal di asrama semasa kuliah di Bandung. Kamar mandinya hanya satu ruangan besar dengan bak mandi panjang… jadi mandi ramai-ramai sambil ngobrol juga, enggak beda! Namanya mandi yah… tanpa busanalah. Bagi yang malu…. sekali, terpaksa mengisi ember dengan air dan mandi di wc. Jadi sebenarnya saya tidak harus kaget. Tapi… entah kenapa, rasanya kok lain….. Situasinya persis sama, tapi… pemandangannya itu lho yang berbeda…. Kalau dulu di sekolah yang terlihat adalah yang… eh, ma’af, ranum dan segar….elok dipandang mata ‘bak lukisan sang maestro dunia. Tapi yang ini, sekali lagi minta ma’af….. banyak yang sudah melorot ditarik gravitasi bumi ‘kali yah… Walaupun mereka terlihat PD,sekali, tapi saya yang merasa jengah. Coba tebak, apakah saya berani bergabung dengan mereka.??? Oh, ternyata… dan ternyata, kaki saya mulai bergerak, jangan salah, bukannya maju tetapi perlahan mundur kebelakang…. Wahai alam, siapakah yang mampu melawanmu ?

Korea Selatan – Desember 2002

HONGKONG dan MACAU DI AKHIR TAHUN – “WONG KITO GALO”

Mei 24, 2010

Sepotong Venesia di Macau.
Disinilah Jangdi bertemu dengan Goh Jun Pyo dalam “Boys Before Flowers”.

Karena digoda iklan pariwisata yang hampir setiap hari muncul di Koran, kamipun berketetapan hati untuk berangkat ke Hongkong dan Macau di akhir tahun lalu. (Meniru Hawa yang menyalahkan Ular). Dalam pesawat Garuda yang membawa kami dari Jakarta, semua bangku penuh…nuh… nuh…. tidak ada satu pun yang kosong. Lebih serunya lagi, rasanya kurang dari 10 jari saja yang bukan orang Indonesia. Semuanya ‘Wong Kito Galo” (orang kita semua dalam bahasa Palembang).

Dalam hati saya bergumam sendiri : “ ternyata bukan kami saja yang termakan iklan, banyak juga yang lain, nah…. ini buktinya.” Biasalah, menghibur diri sendiri. Kalau bukan diri sendiri yang menghibur, lalu siapa lagi ??? Tak terasa penerbangan sekitar 5 jam kami lalui dengan aman dan sentosa serta bahagia, terutama bagi saya pribadi karena merasa rotinya kali ini enak…. sekali, lebih lembut dan harum, satu awal yang baik bagi Garuda yang katanya sedang berbenah diri.
Tiba di Bandara Hongkong, para Tour Leader dengan benderanya yang diangkat tinggi-tinggi mengumpulkan anggotanya. Seru sekali melihat orang-orang yang begitu bersemangat mempersiapkan diri dengan jaket tebal, bahkan topi dan sarung tangan lengkap bagaikan hendak berseluncur di pegunungan Alpen, pada hal kami masih berada di dalam gedung bandara yang memang juga dingin karena AC. Terlihatlah bendera-bendera biro perjalanan yang selama ini memasang iklan di koran menghiasi langit-langit Bandara. Sekarang mereka sedang panen…… Pemandangan yang unik dan menarik. Saya yang semula santai jadi ikut-ikutan bersemangat. Ciaaa…youuuuu…(artinya “bersemangat “dalam bahasa Mandarin, walaupun secara harafiah berarti “tambah minyak”).

Wong kito ada di mana-mana, di hotel, di obyek wisata, di pusat perbelanjaan, di food court, di jalanan, di restoran mewah bahkan di restoran kaki lima. Saya sering main tebak-tebakan dengan anak saya kalau berhadapan dengan serombongan orang Asia, apakah mereka dari Indonesia atau bukan tanpa mendengar mereka berbicara, cukup dari jauh dengan hanya melihat penampilannya saja. Dan kami seringkali benar…… Walaupun sekarang sudah jaman globalisasi, dimana pakaiaan, dandanan dan gaya di seluruh dunia sudah hampir sama, tapi wong kito tetap beda. Menurut saya, wong kito – terutama perempuan paruh bayanya lebih trendy, tak jarang kita melihat mereka menggunakan make-up lengkap dengan rambut yang ditata sempurna bagaikan hendak ke pesta, pada hal hanya untuk jalan-jalan saja dimana kenyamanan gerak lebih dibutuhkan. Senang juga melihat ibu-ibu yang cantik ini, tak sia-sialah mereka menjaga penampilan dimana dibutuhkan usaha dan pengorbanan yang tidak sedikit. Setidaknya kehadiran mereka membuat pemandangan menjadi lebih indah. Trimsh, yah….

Wong kito juga terkenal paling senang berbelanja terutama di toko-toko yang menjual barang bermerek, apalagi yang ada tulisan SALE nya. Hongkong di akhir tahun memang sedang mengadakan Sale besar-besaran. Sangat menggoda, bahkan bagi orang yang tidak doyan berbelanja. Waduh, kadang-kadang barangnya sampai tidak kelihatan karena tertutup dengan orang-orang yang sedang berebutan. Pernah suatu kali saya melihat di Butik Merek terkenal yang terletak di tepi jalan raya, orang-orang yang mengantri panjangnya sampai di luar toko, yang berarti di pinggir jalan raya. Ternyata discountnya sampai 70%, pantas… mereka rela berbaris tertib menunggu giliran masuk sambil deg-degan kalau-kalau barang yang dirindukan dan diimpikan siang malam habis ketika tiba di dalam, ditambah lagi was-was disenggol mobil yang berjalan disisinya. Kalau Cuma dicium saja tidak apa-apa, nah ! bagaimana kalau sampai diseruduk mobil ??? Bisa-bisa RIP (Rest In Peace). Ini namanya bertaruh nyawa. Apakah setimpal perjuangan yang dilakukan dengan barang yang diinginkan ?

Berbeda dengan toko yang ada tulisan “New Arrivalnya”. Masuk ke toko ini orangnya juga dihitung, lalu dikandangkan dengan tali penyekat seperti antrian di Bank oleh satpamnya. Kemudian barang yang diminati juga diambil oleh pelayan toko yang memakai sarung tangan dengan sangat “hati-hati” bak memegang benda pusaka… sementara satpamnya matanya melirik kiri-kanan bagaikan Penari Bali mengawasi dan mengatur orang yang keluar-masuk. Dan …. ternyata disini banyak dijumpai perempuan cantik dengan tubuh kutilang (kurus, tinggi, langsing) plus wajah yang menawan. Ada yang mirip Gongli, Zangziyi, Vicky Zhao, bahkan Song Hye Kyo (Korea). Boleh jadi sebagian dari mereka adalah hasil karya Bedah Kosmetik Korea yang sudah tersohor di Asia. Bahkan mungkin saja mereka adalah Selebriti yang sedang berbelanja….

Saya bertemu dengan sepasang suami-isteri yang sedang berdiskusi mengenai makanan yang akan dibeli di konter makanan Korea, Food Court Hotel Venetian – Macau. Karena tahu sama-sama dari Indonesia, kamipun bertukar cerita. Isterinya berkisah bahwa mereka sudah berada disini selama 3 hari 3 malam (jadi teringat Cerita Nabi Yunus di perut ikan), belum kemana-mana, hanya berkutat disekitar hotel dan casino. Mengetahui saya baru saja datang dari Hongkong, isterinya bertanya: “Bagaimana keadaan di Hongkong ?”. Saya bilang : “ Hongkong ramai sekali dengan orang Indonesia, tidak kalah ramainya dengan SALE besar-besaran yang sedang berlangsung”. Seketika wajahnya berubah, terpancar kekecewaan disana. “Aku mau ke Hongkong juga, akh…..”. Rupanya dari Indonesia mereka langsung ke Macau dan selama ini hampir semua makanan yang disini sudah dicobanya sampai jenuh. Bayangkan.

Karena memang jam makan, seluruh tempat terisi penuh.Kalau tidak diduduki orang, maka diduduki tas atau jaket. Hampir 90% wong kito. Sa’at itu saya beruntung, karena segera memperoleh tempat kosong untuk 4 orang, pada hal kami cuma berdua. Sementara meja dibersihkan, tak terlau jauh, saya melihat sepasang pria wanita muda yang sedang berjalan mondar-mandir kebingungan mencari tempat sambil membawa baki makanan. Saya melambai ke mereka dan menunjukkan 2 kursi di depan saya. Mereka menghampiri dan mengerti yang saya maksudkan. Mereka mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih dan segera duduk. Sementara kami makan, berkali-kali mereka melirik satu sama lain, saling berbisik dan tertawa (saya menduga mereka pengantin baru), sesekali melirik kearah saya dan tersenyum. Saya membalasnya juga dengan tersenyum. Seketika hati sayapun “turut berbahagia” melihat mereka bahagia. Benarlah kata Alkitab : “Perbuatlah apa yang kamu suka orang lain perbuat kepadamu”. Sekarang saya jadi lebih mengerti, walau hanya dalam hal-hal kecil.

Hingga kami selesai makan, nun… disana…… kursi-kursi kosong masih tetap diduduki jaket dan tas dengan orang-orang yang tadi juga, mereka tetap berceloteh ria bertukar kisah, sementara orang-orang lain mondar-mandir dengan bakinya, bahkan ada yang berkursi roda mencari tempat kosong yang masih tersedia. Akh…. “Nurani”…. kemanakah dikau pergi… ?

Hongkong – Macau Desember 2009