Archive for Mei, 2010

HONGKONG dan MACAU DI AKHIR TAHUN – “WONG KITO GALO”

Mei 24, 2010

Sepotong Venesia di Macau.
Disinilah Jangdi bertemu dengan Goh Jun Pyo dalam “Boys Before Flowers”.

Karena digoda iklan pariwisata yang hampir setiap hari muncul di Koran, kamipun berketetapan hati untuk berangkat ke Hongkong dan Macau di akhir tahun lalu. (Meniru Hawa yang menyalahkan Ular). Dalam pesawat Garuda yang membawa kami dari Jakarta, semua bangku penuh…nuh… nuh…. tidak ada satu pun yang kosong. Lebih serunya lagi, rasanya kurang dari 10 jari saja yang bukan orang Indonesia. Semuanya ‘Wong Kito Galo” (orang kita semua dalam bahasa Palembang).

Dalam hati saya bergumam sendiri : “ ternyata bukan kami saja yang termakan iklan, banyak juga yang lain, nah…. ini buktinya.” Biasalah, menghibur diri sendiri. Kalau bukan diri sendiri yang menghibur, lalu siapa lagi ??? Tak terasa penerbangan sekitar 5 jam kami lalui dengan aman dan sentosa serta bahagia, terutama bagi saya pribadi karena merasa rotinya kali ini enak…. sekali, lebih lembut dan harum, satu awal yang baik bagi Garuda yang katanya sedang berbenah diri.
Tiba di Bandara Hongkong, para Tour Leader dengan benderanya yang diangkat tinggi-tinggi mengumpulkan anggotanya. Seru sekali melihat orang-orang yang begitu bersemangat mempersiapkan diri dengan jaket tebal, bahkan topi dan sarung tangan lengkap bagaikan hendak berseluncur di pegunungan Alpen, pada hal kami masih berada di dalam gedung bandara yang memang juga dingin karena AC. Terlihatlah bendera-bendera biro perjalanan yang selama ini memasang iklan di koran menghiasi langit-langit Bandara. Sekarang mereka sedang panen…… Pemandangan yang unik dan menarik. Saya yang semula santai jadi ikut-ikutan bersemangat. Ciaaa…youuuuu…(artinya “bersemangat “dalam bahasa Mandarin, walaupun secara harafiah berarti “tambah minyak”).

Wong kito ada di mana-mana, di hotel, di obyek wisata, di pusat perbelanjaan, di food court, di jalanan, di restoran mewah bahkan di restoran kaki lima. Saya sering main tebak-tebakan dengan anak saya kalau berhadapan dengan serombongan orang Asia, apakah mereka dari Indonesia atau bukan tanpa mendengar mereka berbicara, cukup dari jauh dengan hanya melihat penampilannya saja. Dan kami seringkali benar…… Walaupun sekarang sudah jaman globalisasi, dimana pakaiaan, dandanan dan gaya di seluruh dunia sudah hampir sama, tapi wong kito tetap beda. Menurut saya, wong kito – terutama perempuan paruh bayanya lebih trendy, tak jarang kita melihat mereka menggunakan make-up lengkap dengan rambut yang ditata sempurna bagaikan hendak ke pesta, pada hal hanya untuk jalan-jalan saja dimana kenyamanan gerak lebih dibutuhkan. Senang juga melihat ibu-ibu yang cantik ini, tak sia-sialah mereka menjaga penampilan dimana dibutuhkan usaha dan pengorbanan yang tidak sedikit. Setidaknya kehadiran mereka membuat pemandangan menjadi lebih indah. Trimsh, yah….

Wong kito juga terkenal paling senang berbelanja terutama di toko-toko yang menjual barang bermerek, apalagi yang ada tulisan SALE nya. Hongkong di akhir tahun memang sedang mengadakan Sale besar-besaran. Sangat menggoda, bahkan bagi orang yang tidak doyan berbelanja. Waduh, kadang-kadang barangnya sampai tidak kelihatan karena tertutup dengan orang-orang yang sedang berebutan. Pernah suatu kali saya melihat di Butik Merek terkenal yang terletak di tepi jalan raya, orang-orang yang mengantri panjangnya sampai di luar toko, yang berarti di pinggir jalan raya. Ternyata discountnya sampai 70%, pantas… mereka rela berbaris tertib menunggu giliran masuk sambil deg-degan kalau-kalau barang yang dirindukan dan diimpikan siang malam habis ketika tiba di dalam, ditambah lagi was-was disenggol mobil yang berjalan disisinya. Kalau Cuma dicium saja tidak apa-apa, nah ! bagaimana kalau sampai diseruduk mobil ??? Bisa-bisa RIP (Rest In Peace). Ini namanya bertaruh nyawa. Apakah setimpal perjuangan yang dilakukan dengan barang yang diinginkan ?

Berbeda dengan toko yang ada tulisan “New Arrivalnya”. Masuk ke toko ini orangnya juga dihitung, lalu dikandangkan dengan tali penyekat seperti antrian di Bank oleh satpamnya. Kemudian barang yang diminati juga diambil oleh pelayan toko yang memakai sarung tangan dengan sangat “hati-hati” bak memegang benda pusaka… sementara satpamnya matanya melirik kiri-kanan bagaikan Penari Bali mengawasi dan mengatur orang yang keluar-masuk. Dan …. ternyata disini banyak dijumpai perempuan cantik dengan tubuh kutilang (kurus, tinggi, langsing) plus wajah yang menawan. Ada yang mirip Gongli, Zangziyi, Vicky Zhao, bahkan Song Hye Kyo (Korea). Boleh jadi sebagian dari mereka adalah hasil karya Bedah Kosmetik Korea yang sudah tersohor di Asia. Bahkan mungkin saja mereka adalah Selebriti yang sedang berbelanja….

Saya bertemu dengan sepasang suami-isteri yang sedang berdiskusi mengenai makanan yang akan dibeli di konter makanan Korea, Food Court Hotel Venetian – Macau. Karena tahu sama-sama dari Indonesia, kamipun bertukar cerita. Isterinya berkisah bahwa mereka sudah berada disini selama 3 hari 3 malam (jadi teringat Cerita Nabi Yunus di perut ikan), belum kemana-mana, hanya berkutat disekitar hotel dan casino. Mengetahui saya baru saja datang dari Hongkong, isterinya bertanya: “Bagaimana keadaan di Hongkong ?”. Saya bilang : “ Hongkong ramai sekali dengan orang Indonesia, tidak kalah ramainya dengan SALE besar-besaran yang sedang berlangsung”. Seketika wajahnya berubah, terpancar kekecewaan disana. “Aku mau ke Hongkong juga, akh…..”. Rupanya dari Indonesia mereka langsung ke Macau dan selama ini hampir semua makanan yang disini sudah dicobanya sampai jenuh. Bayangkan.

Karena memang jam makan, seluruh tempat terisi penuh.Kalau tidak diduduki orang, maka diduduki tas atau jaket. Hampir 90% wong kito. Sa’at itu saya beruntung, karena segera memperoleh tempat kosong untuk 4 orang, pada hal kami cuma berdua. Sementara meja dibersihkan, tak terlau jauh, saya melihat sepasang pria wanita muda yang sedang berjalan mondar-mandir kebingungan mencari tempat sambil membawa baki makanan. Saya melambai ke mereka dan menunjukkan 2 kursi di depan saya. Mereka menghampiri dan mengerti yang saya maksudkan. Mereka mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih dan segera duduk. Sementara kami makan, berkali-kali mereka melirik satu sama lain, saling berbisik dan tertawa (saya menduga mereka pengantin baru), sesekali melirik kearah saya dan tersenyum. Saya membalasnya juga dengan tersenyum. Seketika hati sayapun “turut berbahagia” melihat mereka bahagia. Benarlah kata Alkitab : “Perbuatlah apa yang kamu suka orang lain perbuat kepadamu”. Sekarang saya jadi lebih mengerti, walau hanya dalam hal-hal kecil.

Hingga kami selesai makan, nun… disana…… kursi-kursi kosong masih tetap diduduki jaket dan tas dengan orang-orang yang tadi juga, mereka tetap berceloteh ria bertukar kisah, sementara orang-orang lain mondar-mandir dengan bakinya, bahkan ada yang berkursi roda mencari tempat kosong yang masih tersedia. Akh…. “Nurani”…. kemanakah dikau pergi… ?

Hongkong – Macau Desember 2009

OLD COURSE – LAPANGAN GOLF ALAMI, TERTUA DI DUNIA.

Mei 20, 2010


Sumber foto : Brochure

ST. ANDREWS adalah sebuah kota kecil di timur Skotlandia, di utara kota Edinburgh.
Dengan kereta api dari Edinburgh ke St. Andrews memakan waktu sekitar satu jam. Sampai di Stasiun kereta api St. Andrews sudah menanti bus yang akan mengantar kita menuju pusat kota St Andrews. Kita tidak usah membayar ongkos bus lagi, karena tiket kereta api tadi dapat pula digunakan untuk menumpang bus, begitu pula sebaliknya. Banyak negara-negara maju didunia menerapkan sistim ini, bahkan ada negara yang tiketnya dapat digunakan untuk kereta api, bus bahkan kapal fery. Apalagi transportasi di Kerajaan Inggris yang sudah terkenal dengan sistim jaringan kereta apinya yang tertua dan terluas di dunia.

Dalam perjalanan ke pusat kota, kami melewati kompleks lapangan golf yang ternyata adalah Old Course yang legendaris itu. Di Skotlandia, setiap stasiun kereta api maupun terminal bus selalu ada Information Centre. Disini disediakan Buku Petunjuk Kota maupun Peta yang lengkap dalam jumlah banyak serta gratis pula.

Pertama-tama kami ke OLD COURSE. Suami saya sangat antusias untuk segera melihatnya, sedangkan putra kami juga tak kalah bersemangat ingin melihat Universitas Tertua di Skotlandia yang termasyur di dunia di St Andrews ini. Letak kedua tempat ini tidak berjauhan, masih di tengah kota. Dengan berjalan kaki sekitar 10 menit, tibalah kami di Pusat Kota. Disini terdapat gerbang kota yang sangat kuno dari abad pertengahan, demikian pula dengan jalannya. Jalan yang tidak terlalu lebar dan nampaknya terbuat dari batu. Di kiri dan kanan jalan terdapat toko-toko yang tidak kalah kunonya dengan interior bernuansa kayu yang temaram. Imaginasi saya segera bekerja membayangkan seandainya orang-orang yang ada disini diberi jubah cokelat dan rambut poni, pastilah suasananya serasa hidup di jamannya Robin Hood pahlawan rakyat yang merampok orang kaya dan membela orang miskin yang terkenal itu.

Kemudian kami melewati toko-toko yang ternyata hampir semuanya menjual segala macam barang yang berhubungan dengan golf.. Mulai dari Peralatan Golf, Kaos, Topi, Cangkir, Pin, Foto Lapangan Golf sampai dengan Shortbread (biskuit khas Skotlandia) semuanya dicetak “OLD COURSE “. Begitulah bangganya mereka terhadap Lapangan Golf Tua ini. Memang orang-orang yang kemari mayoritas untuk melihat dan bermain di OLD COURSE selain mahasiswa yang tentunya datang untuk menuntut ilmu .

Ada pula restoran dan hotel mewah disini. Hanya beberapa langkah dari sini, terhampar panorama berupa lapangan rumput yang hijau permai dengan orang-orang yang masih bermain, sebuah lapangan golf yang indah diatas bukit menghadap ke laut. Itulah rupanya OLD COURSE yang menjadi buah bibir pegolf dunia. Tercatat nama-nama beken di dunia golf pernah bermain disini, seperti Jack Niklaus, Nick Faldo dan Tiger Woods.

Kapan sebenarnya permainan Golf dimulai ? Menurut catatan, tahun 1457 Raja James II mengeluarkan larangan bermain Golf . Beliau cemas karena kaum pria lebih suka bermain Golf daripada melakukan hal lain, sehingga dapat mengganggu stabilitas nasional, pikirnya. Tapi hal ini tidak membuat Golf sirna, entah kenapa, malah sebaliknya berkembang. Catatan pertama mengenai Golf di St Andrews dibuat pada tahun 1553. Tahun 1754 Perhimpunan Pegolf St Andrews dibentuk untuk mengorganisir Pertandingan Berkala. 80 tahun kemudian menjadi Royal and Ancient Golf Club yang menetapkan Peraturan Permainan Golf di banyak negara. Sayang sekali Clubhouse ini tidak dibuka untuk umum. Kekecewaan ini mungkin dapat terobati dengan mengunjungi BRISTISH GOLF MUSEUM yang letaknya berdekatan dengan Clubhouse.
Sebagai informasi tambahan, ada yang bilang bahwa olahraga sejenis Golf sudah menjadi Mainan Para Bangsawan (seperti iklan sirop saja) di Asia Timur pada abad ke 15.

Selain tua, OLD COURSE ini unik karena terbentuk secara alamiah. Alkisah, ribuan tahun yang lalu, daratan di wilayah St Andrews naik sedangkan permukaan lautnya turun. Hal ini menimbulkan perubahan pada kontur tanah di St Andrews. Pasir yang melimpah dan daratan yang berubah membentuk fairway dan bunker secara alamiah.

Tanpa terasa hari sudah menjelang sore, kami tidak menyadari bahwa di kota kecil kegiatan apapun termasuk toko, tutup pukul 6:00 sore. Walaupun hari masih terang karena baru awal musim gugur, semua kegiatan publik berhenti, kecuali restoran yang masih buka. Kamipun beringsut pergi, meski hati masih ingin tinggal lebih lama lagi menikmati keindahan kota kecil nan tua penuh sejarah yang menawan ini.

Dalam perjalanan pulang kami melewati Kampus Universitas yang juga terletak di tengah kota dengan bangunan asrama yang tidak kalah kunonya pula, namun didalamnya modern dan bersih. Kami dapat melihat kamar, kantin dan perpustakaan dari luar karena letaknya bersisian dengan tepi jalan. Banyak juga mahasiswa dari Asia. Kami juga berpapasan dengan rombongan pegolf yang tadi kami lihat bermain di OLD COURSE, mereka berjalan dengan wajah gembira dan tidak putus-putusnya berceloteh. Mereka kelihatan begitu berbahagia mungkin karena mereka sudah mencapai impian para golfer untuk bermain di Old Course. Saya pikir begitu……

Skotlandia – September 2008

KOREA DISERBU GARA-GARA “HALLYU WAVE”

Mei 20, 2010


Sumber foto : Postcard

Fenomena serial oriental di Asia
Bermula dari meledaknya serial fenomenal Taiwan ” Meteor Garden” di 2002, 4 pemuda tak dikenal namun berwajah tampan dengan postur tubuh lebih dari lumayan, diramu cerita “Cinderella” yang menjadi impian hampir setiap wanita, membuat F4 terkenal seketika bak meteor di jagat raya Asia, dari anak-anak sampai dewasa dan bahkan orang tua. Wajah mereka terlihat di mana-mana, di tas sekolah, buku, dompet, mug, rambut, dan banyak lagi. Ketakjuban pada fenomena ini sampai perlu dibahas terus oleh media, dari yang hiburan sampai yang serius dan bergengsi. Demam serial oriental dilanjutkan pula oleh Korea yang tidak kalah pamornya yang disebut HALLYU WAVE.
.

Korea….. kami datang
Dalam suasana demam yang belum reda inilah, di penghujung tahun 2002 kami terbang menuju Korea dengan ikut rombongan tour. Berangkat malam hari dari Jakarta, pagi hari kami sudah tiba di Bandara Incheon International – Seoul setelah 6 jam di udara.
Bagi penggemar drama Korea, pasti sangat akrab dengan suasana bandara ini, karena hampir disetiap cerita, lokasi bandara selalu diajak syuting bersama teman-temannya seperti rumah sakit, panti jompo, taman rekreasi, ski resort, dan sungai Han. Ucapan Selamat Datang dalam berbagai bahasa terpampang di pintu kedatangan.

Setelah peserta dikumpulkan kemudian dibagi jadi dua grup. Grup kami dipimpin seorang guide, gadis Indonesia yang tinggal di Korea, dibantu seorang pria Korea yang merangkap fotographer. Bayangkan rombongan kami 43 orang, pria dan wanita, dari yang belum ber KTP sampai yang KTP seumur hidup… dan semuanya dimuat dalam satu bus yang keadaannya hanya setingkat lebih baik dari Metromini….
Dalam hati berharap, besok diganti dengan Bus Wisata yang lebih normal, siapa sangka bus ini terlalu setia untuk meninggalkan kami, malah terus menemani sampai akhir…
Itulah akibat ramainya orang yang berkunjung ke Korea, sampai bus wisata pun habis.

Seoul World Cup Stadium – Dongdaemun – Itaewon
Kami langsung dibawa menuju Seoul World Cup Stadium. Korea masih dalam euphoria World Cup 2002. Bangunannya besar dan megah, begitu pula dengan lapangan bolanya, semuanya masih baru dan bersih. Tapi yang dicari wanita bukan itu… mereka rebutan berpose dengan An Jae Won sang pahlawan sepakbola Korea yang tidak kalah tampannya, bahkan mencium sang idola walau hanya gambarnya saja. Hal ini membuat kesal petugas kebersihan, karena mereka jadi harus sering membersihkannya.
Dongdaemun adalah pusat perbelanjaan paling terkenal di Seoul mirip dengan Mangga Dua. Kiosnya kecil dan rapi serta modern. Barang yang dijualpun model terkini. Sangat fashionable. Dibuka dari pukul 10 pagi hingga 5 pagi keesokan harinya. Puasss deh….

Itaewon
Daerah perbelanjaan yang populer dikalangan bule. Lokasinya tidak jauh dari Markas Besar Tentara Amerika. Disini banyak dijual souvenier di toko maupun di kaki lima. Kami mencoba “sosis” beras bersaos merah, makan sambil berdiri di pinggir jalan… sejenak kami merasa seperti orang Korea juga .

Everland
Dengan tubuh segar karena sudah istirahat semalam, kami pun menuju ke taman bermain outdoor paling popular ini. Hari ini bertepatan dengan hari Natal, ramai sekali. Lagu Natal yang syahdu dan mars khas taman bermain menyambut pengunjung.
Kamipun bergegas ke kereta gantung yang menuju ke Snow Buster, sebuah wahana bermain salju yang hanya ada di musim dingin dan menjadi favorit. Dari kereta, kami dapat melihat keseluruhan arena. Disini, walaupun harus mengantri lama, namun ketika keluar terlihat wajah-wajah gembira penuh tawa. Kegembiraan yang diperoleh setimpal dengan perjuangan mengantrinya. Bahkan putra saya ingin mengulangnya lagi….
Bagi yang ingin jajan, dapat mampir di kios kecil yang menjual makanan dan minuman hangat. Orang-orang berdiri didekat meja tinggi sambil mulutnya mengeluarkan asap entah karena asap makanan ataupun hawa dingin, tak tahulah….

Malam hari, suami dan putra saya menyusuri sekitar hotel dan menemukan restoran yang ramai pengunjungnya, Karena lapar, maklumlah hawa dingin, mereka pun iseng-iseng makan disana. Ternyata makanannya enak….sehingga sejak itu mereka tiap malam kesana. Terbayang adegan di drama Korea, dimana orang-orang makan sup pedas sambil lesehan dan berteriak memanggil sang “ajuma” yang sibuk hilir mudik dengan celemeknya.

Korea Selatan – Desember 2002