HONGKONG dan MACAU DI AKHIR TAHUN – “WONG KITO GALO”

Sepotong Venesia di Macau.
Disinilah Jangdi bertemu dengan Goh Jun Pyo dalam “Boys Before Flowers”.

Karena digoda iklan pariwisata yang hampir setiap hari muncul di Koran, kamipun berketetapan hati untuk berangkat ke Hongkong dan Macau di akhir tahun lalu. (Meniru Hawa yang menyalahkan Ular). Dalam pesawat Garuda yang membawa kami dari Jakarta, semua bangku penuh…nuh… nuh…. tidak ada satu pun yang kosong. Lebih serunya lagi, rasanya kurang dari 10 jari saja yang bukan orang Indonesia. Semuanya ‘Wong Kito Galo” (orang kita semua dalam bahasa Palembang).

Dalam hati saya bergumam sendiri : “ ternyata bukan kami saja yang termakan iklan, banyak juga yang lain, nah…. ini buktinya.” Biasalah, menghibur diri sendiri. Kalau bukan diri sendiri yang menghibur, lalu siapa lagi ??? Tak terasa penerbangan sekitar 5 jam kami lalui dengan aman dan sentosa serta bahagia, terutama bagi saya pribadi karena merasa rotinya kali ini enak…. sekali, lebih lembut dan harum, satu awal yang baik bagi Garuda yang katanya sedang berbenah diri.
Tiba di Bandara Hongkong, para Tour Leader dengan benderanya yang diangkat tinggi-tinggi mengumpulkan anggotanya. Seru sekali melihat orang-orang yang begitu bersemangat mempersiapkan diri dengan jaket tebal, bahkan topi dan sarung tangan lengkap bagaikan hendak berseluncur di pegunungan Alpen, pada hal kami masih berada di dalam gedung bandara yang memang juga dingin karena AC. Terlihatlah bendera-bendera biro perjalanan yang selama ini memasang iklan di koran menghiasi langit-langit Bandara. Sekarang mereka sedang panen…… Pemandangan yang unik dan menarik. Saya yang semula santai jadi ikut-ikutan bersemangat. Ciaaa…youuuuu…(artinya “bersemangat “dalam bahasa Mandarin, walaupun secara harafiah berarti “tambah minyak”).

Wong kito ada di mana-mana, di hotel, di obyek wisata, di pusat perbelanjaan, di food court, di jalanan, di restoran mewah bahkan di restoran kaki lima. Saya sering main tebak-tebakan dengan anak saya kalau berhadapan dengan serombongan orang Asia, apakah mereka dari Indonesia atau bukan tanpa mendengar mereka berbicara, cukup dari jauh dengan hanya melihat penampilannya saja. Dan kami seringkali benar…… Walaupun sekarang sudah jaman globalisasi, dimana pakaiaan, dandanan dan gaya di seluruh dunia sudah hampir sama, tapi wong kito tetap beda. Menurut saya, wong kito – terutama perempuan paruh bayanya lebih trendy, tak jarang kita melihat mereka menggunakan make-up lengkap dengan rambut yang ditata sempurna bagaikan hendak ke pesta, pada hal hanya untuk jalan-jalan saja dimana kenyamanan gerak lebih dibutuhkan. Senang juga melihat ibu-ibu yang cantik ini, tak sia-sialah mereka menjaga penampilan dimana dibutuhkan usaha dan pengorbanan yang tidak sedikit. Setidaknya kehadiran mereka membuat pemandangan menjadi lebih indah. Trimsh, yah….

Wong kito juga terkenal paling senang berbelanja terutama di toko-toko yang menjual barang bermerek, apalagi yang ada tulisan SALE nya. Hongkong di akhir tahun memang sedang mengadakan Sale besar-besaran. Sangat menggoda, bahkan bagi orang yang tidak doyan berbelanja. Waduh, kadang-kadang barangnya sampai tidak kelihatan karena tertutup dengan orang-orang yang sedang berebutan. Pernah suatu kali saya melihat di Butik Merek terkenal yang terletak di tepi jalan raya, orang-orang yang mengantri panjangnya sampai di luar toko, yang berarti di pinggir jalan raya. Ternyata discountnya sampai 70%, pantas… mereka rela berbaris tertib menunggu giliran masuk sambil deg-degan kalau-kalau barang yang dirindukan dan diimpikan siang malam habis ketika tiba di dalam, ditambah lagi was-was disenggol mobil yang berjalan disisinya. Kalau Cuma dicium saja tidak apa-apa, nah ! bagaimana kalau sampai diseruduk mobil ??? Bisa-bisa RIP (Rest In Peace). Ini namanya bertaruh nyawa. Apakah setimpal perjuangan yang dilakukan dengan barang yang diinginkan ?

Berbeda dengan toko yang ada tulisan “New Arrivalnya”. Masuk ke toko ini orangnya juga dihitung, lalu dikandangkan dengan tali penyekat seperti antrian di Bank oleh satpamnya. Kemudian barang yang diminati juga diambil oleh pelayan toko yang memakai sarung tangan dengan sangat “hati-hati” bak memegang benda pusaka… sementara satpamnya matanya melirik kiri-kanan bagaikan Penari Bali mengawasi dan mengatur orang yang keluar-masuk. Dan …. ternyata disini banyak dijumpai perempuan cantik dengan tubuh kutilang (kurus, tinggi, langsing) plus wajah yang menawan. Ada yang mirip Gongli, Zangziyi, Vicky Zhao, bahkan Song Hye Kyo (Korea). Boleh jadi sebagian dari mereka adalah hasil karya Bedah Kosmetik Korea yang sudah tersohor di Asia. Bahkan mungkin saja mereka adalah Selebriti yang sedang berbelanja….

Saya bertemu dengan sepasang suami-isteri yang sedang berdiskusi mengenai makanan yang akan dibeli di konter makanan Korea, Food Court Hotel Venetian – Macau. Karena tahu sama-sama dari Indonesia, kamipun bertukar cerita. Isterinya berkisah bahwa mereka sudah berada disini selama 3 hari 3 malam (jadi teringat Cerita Nabi Yunus di perut ikan), belum kemana-mana, hanya berkutat disekitar hotel dan casino. Mengetahui saya baru saja datang dari Hongkong, isterinya bertanya: “Bagaimana keadaan di Hongkong ?”. Saya bilang : “ Hongkong ramai sekali dengan orang Indonesia, tidak kalah ramainya dengan SALE besar-besaran yang sedang berlangsung”. Seketika wajahnya berubah, terpancar kekecewaan disana. “Aku mau ke Hongkong juga, akh…..”. Rupanya dari Indonesia mereka langsung ke Macau dan selama ini hampir semua makanan yang disini sudah dicobanya sampai jenuh. Bayangkan.

Karena memang jam makan, seluruh tempat terisi penuh.Kalau tidak diduduki orang, maka diduduki tas atau jaket. Hampir 90% wong kito. Sa’at itu saya beruntung, karena segera memperoleh tempat kosong untuk 4 orang, pada hal kami cuma berdua. Sementara meja dibersihkan, tak terlau jauh, saya melihat sepasang pria wanita muda yang sedang berjalan mondar-mandir kebingungan mencari tempat sambil membawa baki makanan. Saya melambai ke mereka dan menunjukkan 2 kursi di depan saya. Mereka menghampiri dan mengerti yang saya maksudkan. Mereka mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih dan segera duduk. Sementara kami makan, berkali-kali mereka melirik satu sama lain, saling berbisik dan tertawa (saya menduga mereka pengantin baru), sesekali melirik kearah saya dan tersenyum. Saya membalasnya juga dengan tersenyum. Seketika hati sayapun “turut berbahagia” melihat mereka bahagia. Benarlah kata Alkitab : “Perbuatlah apa yang kamu suka orang lain perbuat kepadamu”. Sekarang saya jadi lebih mengerti, walau hanya dalam hal-hal kecil.

Hingga kami selesai makan, nun… disana…… kursi-kursi kosong masih tetap diduduki jaket dan tas dengan orang-orang yang tadi juga, mereka tetap berceloteh ria bertukar kisah, sementara orang-orang lain mondar-mandir dengan bakinya, bahkan ada yang berkursi roda mencari tempat kosong yang masih tersedia. Akh…. “Nurani”…. kemanakah dikau pergi… ?

Hongkong – Macau Desember 2009

Iklan

11 Tanggapan to “HONGKONG dan MACAU DI AKHIR TAHUN – “WONG KITO GALO””

  1. haposan Panggabean Says:

    Ellen,

    Kaganyangka lo pintar nulis..he..he..he…thanks for sharing your experinces, may God bless you in your next travelling and always be blessing for others, amen.

    Bang happy (my nick name)

  2. Ellen Eliawaty Says:

    Thank you Bang Happy, komentarmu menambah semangatku. I’ll do my best to be the channel of God’s Blessing. May GBU too.

  3. Tjikaka Says:

    memang wong kito di mano mano galak belanjo, tak kecuali lanang sekalipun apalagi betino, hehehe.

  4. Ellen Eliawaty Says:

    Yo la nian….. bukannyo jingok tempat tapi belanjo bae…. mak itulah wong kito. Trimo kasih kawan komentarnyo.

  5. jim rock Says:

    yuk ellen, aku nak berangkat ke HK dan macau 9-16 september 2012 gek, biso kasi info penginapan murah dak? mokasi 😀

  6. Juliana Macpal Hutubessy Says:

    Aku tersenyum sipu membaca cerita Ellen membandingkan mandi bugil saat tamasya dengan kondisi waktu kuliah di Bandung. Untunglah sekarang kondisinya beda, nggak seperti kita dulu

    • Ellen Eliawaty Says:

      Memang ketika kita berada di suatu situasi selalu terkenang dg situasi yg sama yg pernah dialami, membuat kita tersenyum sendiri. Saát saát ketika kuiah di Bandung adalah suatu periode yg berkesan dan menyenangkan dalam hidup saya. Terima kasih Zus Jul sudah singgah disini dan saya senang krn sudah membuat anda tersenyum…. sampai ketemu lagi.

    • Ellen Eliawaty Says:

      Ha ha ha …. Kak Jul jadi terkenang juga. Terima kasih sudah singgah disini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: