Archive for Juni, 2010

DIPAKSA SINGGAH DI LOKASI SYUTING WINTER SONATA

Juni 15, 2010

Ketika guide mengumumkan bahwa kami akan singgah di lokasi syuting Drama “Winter Sonata”, peserta menyambutnya dengan gegap gempita, tak kalah serunya dengan supporter sepak bola. Sebenarnya acara ini diluar program, karena kami sudah menginap di Ski Resort yang lain. Tapi karena terus menerus ditanya peserta mengenai lokasi syuting ini, saking tidak tahannya akhirnya merekapun menyerah dan membawa kami kemari. Mana tahan…. kalau tiap saat dirongrong terus, apa lagi pertanyaannya aneh-aneh dan detil, sampai-sampai dimana wc nyapun ditanyakan.

Drama ini mengisahkan tentang cinta pertama yang tak terlupakan dari sepasang kekasih yang pacaran sewaktu di SMA. Tiba-tiba sang pria mengalami kecelakaan sewaktu dalam perjalanan menjumpai kekasihnya. Tinggallah sang wanita yang terus menunggu dan menunggu. Sementara sang pria mengalami amnesia (hilang ingatan) dan pindah ke Amerika. Beberapa tahun kemudian, sang pria kembali ke Korea. Bersamaan dengan itu sang wanita dengan terpaksa akan bertunangan dengan teman masa kecil yang memang sudah lama menyayanginya. Siapa sangka di hari pertunangan , sang wanita berjumpa kembali dengan cinta pertamanya yang bahkan tidak mengenali dirinya lagi. Dia jadi penasaran dan terus menyelidiki. Gagal sudah pertunangan ! Sementara sang pria juga sudah ada wanita lain yang juga menyintainya. Jadilah jalinan cinta segi empat yang rumit. Sang wanita cinta pertama berjuang keras meraih kembali cinta pertamanya, sementara dua orang cinta baru berusaha keras pula untuk memisahkan mereka. Disinilah konflik berlangsung seru ! Klimaksnya sang pria cinta pertama ingatannya pulih kembalI dan melanjutkan kisah cinta mereka yang tertunda. Nah, tempat klimaks itu terjadi, yah….,di Ski Resort ini…..

Drama ini sangat populer, selain karena ceritanya yang mengharu biru,juga dipenuhi dengan lagu-lagu yang enak didengar. Bahkan tembang lawas macam “The Dancing Queen” yang menyentak dari ABBA pun ikut andil. Tapi tokoh utamanyalah yang menjadi buah-bibir. Namanya Bae Yong Jun, seorang aktor yang melambung namanya setelah membintangi drama ini. Dia tiba-tiba menjadi idola, terutama dari para wanita mulai yang remaja sampai nenek tua. Mereka rela menonton dramanya sampai pagi tanpa berkedip bahkan kalau perlu kencingpun ditrahan. Player yang rusak karena dipergunakan terus menerus, tidak menjadi masalah, segera beli baru dan lanjut…. Ini adalah kisah nyata. Suatu ketika di Bali,sang idola sangat terkejut ketika ada fansnya menyatakan bahwa dia sampai menontonnya 8 kali! Wah, pasti BYJ akan lebih terkejut lagi bila mengetahui,setelah sekian tahun masih ada penggemar setia yang terus menontonnya. Mereka ini sudah hafal betul dengan dialog dan mimiknya. Kalau ada Ujian akhir,saya yakin mereka akan mendapatkan nilai sempurna. Cum Laude! Dia juga sangat terkenal di Jepang, terutama di kalangan wanita dewasa dan paruh baya. Gelombang Hallyu Wave ini membuat Pariwisata Korea maju pesat. Berbondong-bondong fans luar negeri datang ke Korea, salah satunya, yah… grup kami inilah. Industri hiburan ini juga sangat mempengaruhi perkembangan sektor ekonomi lainnya. Konon menjadi penyumbang devisa yang masuk tiga besar.

YONG PYONG All Seasons Resort terletak di Pyeong Chang yang disebut sebagai City of Skiing di daerah Gangwon. Pada sa’at itu mereka sedang berbenah diri sebagai kandidat Tuan Rumah Olimpiade Musim Dingin 2010 yang akhirnya dimenangkan oleh Whistler – Canada. Kebetulan saya sempat ke Whistler tahun lalu. Saya pikir-pikir dulu kenapa yah, kok Yong Pyong bisa kalah dengan Whistler ? Pada hal kompleksnya sangat luas dengan bungalow dan kondominiumnya, lengkap dengan segala fasilitas , tranportasinya baik, alamnyapun mendukung untuk orang bermain ski, karena dikitari oleh gunung, sehingga disebut sebagai yang terbaik di Korea. Tahun-tahun sebelumnya turis-turis luar diajak menginap kemari, tetapi sejak Drama Winter Sonata meledak (jangan samakan dengan ledakan tabung gas elpiji 3 kg) banyak turis lokal yang kemari, sehingga turis luar tidak kebagian.

Disinilah tempat arena ski dimana sepasang kekasih meraih cinta pertamanya kembali. Karena waktu syuting salju tidak turun, terpaksa dibuat salju buatan. Rumah kayu tempat konser musik juga disini. Dinas Pariwisata Korea ternyata cukup jeli dan tanggap dalam mengambil peluang. Mereka menyediakan satu “Café”khusus. Dimana orang dapat duduk dan minum, sambil memandang foto aktor dan artis disekelilingi dinding, tempat perapian, pernak-pernik yang digunakan, sementara sebuah TV terus-menerus menayangkan drama Winter Sonata tanpa lelah, diiringi dengan lagu-lagu yang sudah akrab di telinga penggemarnya.

Tapi itu sih urusan belakangan, karena orang-orang sibuk dengan kamera mengabadikan diri dengan suasana yang ada. Apa saja, segala yang berbau Winter Sonata. Ada yang tidak sabar mengantri, langsung pasang badan bergaya sementara orang lain sedang berfoto, tidak perduli dengan segala sumpah serapah,karena harus mengejar waktu pergi ke lokasi lain di luar café yang cukup jauh. Bagi saya, melihat kehebohan dan tingkah laku fans fanatik ini jauh lebih menarik dan unik….Dimana lagi bisa melihat hal sepert ini ?

Tak terasa waktu berkumpul sudah tiba. Kami pun bergegas kembali ke bus. wisata. Seperti biasa, orang-orang tua selalu terlebih dulu tiba, sementara yang muda-muda masih belum terpuaskan juga.
Yang pasti Titi sang guide hidupnya bisa tenang kembali, karena hasrat peserta sudah terpenuhi.

Korea Selatan – Desember 2002

BERBUGIL RIA – SIAPA TAKUT ?

Juni 10, 2010

SUANBO HOT SPRING
Seperti negara-negara di Asia Timur lainnya yaitu Cina dan Jepang, Korea juga terkenal dengan Hot-Springnya atau Pemandian Air Panas. Jadi kami diajak ke Suanbo, satu kota wisata yang terkenal dengan Hot-Springnya.
Dalam perjalanan darat dengan bus yang memakan waktu cukup lama, kami mampir di toko P & D yang banyak terdapat di sepanjang kiri dan kanan jalan. Toko-tokonya bersih dan teratur serta terawat baik. Mereka menjual aneka makanan, yang basah maupun kering, yang berat maupun ringan, segala jenis mie instan (sepertinya wajib mereka miliki selain beras), buah-buahan dan juga arak (minuman beralkohol). Menjadi semacam tradisi bagi mereka untuk minum arak, mungkin juga untuk mengusir hawa dingin yang menggigit di musim dingin seperti sekarang ini.
Saya tertarik dengan Pier Korea yang besar dan segar. Ternyata setelah dikupas, airnya banyak sekali dan manis… , maklumlah masih segar. Harganya itu lho…. cuma 1,000 won atau sekitar Rp 10,000 per buah.

ONDOL
Malam ini kami diberi kamar tradisional Korea. Kamarnya sederhana tanpa banyak perabot. Di sudut kamar teronggok gulungan kasur tipis yang disebut ONDOL lengkap dengan selimut kapasnya, yang walaupun tebal tapi tidak berat. Anak saya langsung membuka gulungan ondol dan melemparkan diri serta berbaring diatasnya. Dia senang sekali dan berguling-guling sambil tertawa-tawa.
Baginya tidur di lantai dengan ondol sangat menarik. Namun bagi orang tua yang sudah mulai encok, mungkin agak merepotkan untuk bangun dan duduk ataupun tidur di lantai. Aduh, kalau tiap hari tidur begini, pulangnya bisa-bisa lututku gempor dan dikirim ke Orthopedis. Herannya dalam drama Korea, justru orang tua yang masih suka memakai ondol ini. Ruangannya terasa hangat, yang ternyata berasal dari lantai.
Konon di rumah tradisional mereka membakar kayu api di bahwah rumahnya yang berkolong. Ah.. bertambah lagi pengalaman kami merasakan jadi orang Korea.

RAMAI-RAMAI BERBUGIL RIA…
Sejak dari awal kami selalu diingatkan untuk mencobapemandian air panasnya. Kalau tidak, rugi…dan akan menjadi penyesalan berat…. kata sang guide.
Karena penasaran, walaupun sudah pukul 10 malam, saya sendirian pergi juga ke tempat sauna tersebut yang memang terletak di dalam hotel. Ruang sauna pria dan wanita letaknya terpisah.
Sebelum masuk ke ruang mandi, saya harus melapor dulu ke resepsionis. Ternyata ada peraturannya. Kalau mau masuk kedalam, harus melepaskan semua pakaian alias telanjang bulat. Waduh…gawat, nih… saya coba mengintip kedalam, apakah benar seperti itu… Ternyata sangat benar….terlihat anak-anak kecil sampai nenek-nenek bernudis -ria lalu-lalang dengan bebasnya sambil bersenda gurau dan tertawa, ada juga yang duduk berbaris sambil menggosok punggung seperti orang jaman dulu yang memilih kutu di rambut temannya, sambung menyambung menjadi satu…Biarpun sudah larut malam, tapi suasananya ramai sekali. Diwajahnya seakan berkata : “berbugil ria, siapa takut ? “.
Saya jadi teringat sewaktu tinggal di asrama semasa kuliah di Bandung. Kamar mandinya hanya satu ruangan besar dengan bak mandi panjang… jadi mandi ramai-ramai sambil ngobrol juga, enggak beda! Namanya mandi yah… tanpa busanalah. Bagi yang malu…. sekali, terpaksa mengisi ember dengan air dan mandi di wc. Jadi sebenarnya saya tidak harus kaget. Tapi… entah kenapa, rasanya kok lain….. Situasinya persis sama, tapi… pemandangannya itu lho yang berbeda…. Kalau dulu di sekolah yang terlihat adalah yang… eh, ma’af, ranum dan segar….elok dipandang mata ‘bak lukisan sang maestro dunia. Tapi yang ini, sekali lagi minta ma’af….. banyak yang sudah melorot ditarik gravitasi bumi ‘kali yah… Walaupun mereka terlihat PD,sekali, tapi saya yang merasa jengah. Coba tebak, apakah saya berani bergabung dengan mereka.??? Oh, ternyata… dan ternyata, kaki saya mulai bergerak, jangan salah, bukannya maju tetapi perlahan mundur kebelakang…. Wahai alam, siapakah yang mampu melawanmu ?

Korea Selatan – Desember 2002