Archive for Oktober, 2010

MALDIVES – PULAU IMPIAN HONEYMOONERS

Oktober 14, 2010


Zamrud di Samudera Hindia

Maldives sejak dulu telah dikenal sebagai tempatnya berbulan madu. Suasana tersebut telah mulai dirasakan sejak kami berkumpul di ruang tunggu Changi Aiport Singapore menuju Male (baca : Ma dari makan dan Le dari Lele), ibukota dari Maldives atau Maladewa dalam bahasa Indonesia. Hampir 80% yang berangkat adalah pasangan muda dari berbagai bangsa dan warna kulit, selebihnya adalah turis biasa dan warga lokal.

Empat jam kemudian kami tiba di Male International Airport dan sudah tengah malam. Bandara Male terletak di pulau kecil bernama Hulhule yang dikelilingi laut, sungguh unik dan romantis. Bayangkan, dalam malam kelam yang hanya diterangi sepotong bulan sabit dan bintang di langit, kami duduk di sebuah kapal kecil bercat putih yang disebut Jetty terayun-ayun menuju Male yang ada di pulau lain. Nun jauh disana terlihat lampu-lampu yang gemerlapan. Wow… Indah nian…. Sungguh pemandangan yang sangat mengesankan. Akh, di kapal ini kami jumpa lagi dengan pasangan muda-mudi dan sampai di hotel pun demikian. Mata ini pun sudah mulai terbiasa.

Maldives terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil yang terbentuk oleh karang dan disebut atol. Terletak di Samudera Hindia dibawah garis Khatulistiwa dan sejajar dengan Aceh. Dalam peta hanya berbentuk titik, sehingga disebut sebagai negara terkecil di Asia dan 10 negara terkecil di dunia.

Masing-masing hotel resor menempati satu pulau. Resor kami terletak di pulau Iru Fushi di selatan. Karena agak jauh maka harus dicapai dengan Seaplane (pesawat udara yang dapat mendarat di air), kalau yang dekat cukup dengan speedboat.

Keesokan siangnya, kami berkumpul di ruang tunggu Hotel Resor yang terletak disamping Male International Airport dan check-in disana. Para calon penumpang mulai datang dan lagi-lagi pasangan, tidak ada yang ganjil semua genap. Dari sini kami dapat melihat lapangan terbang yang landasannya adalah air bukan daratan. Pesawat-pesawat kecil dari berbagai maskapai penerbangan berkumpul disana. Aktifitas mereka cukup sibuk, sebentar-sebentar ada pesawat yang berangkat dan mendarat.

Akhirnya kamipun berangkat dengan penumpang sekitar 20 orang. Penerbangan menempuh waktu 45 menit. Cuaca hari itu sangat cerah, kami terbang rendah sehingga sepanjang perjalanan dapat melihat keadaan dibawah dengan jelas. Oh…. saya merasa sangat beruntung, karena dengan naik pesawat baru terlihat pulau-pulau kecil dibawah sana yang sangat indah. Pulau-pulau tersebut bagaikan permata Zamrud yang hijau dikelilingi pasir putih dan batu karang serta koral berkilauan. Sehingga dari atas terlihat bagaikan cincin bermata Zamrud yang dikelilingi Berlian. Apakah ini yang menginspirasi pembuat perhiasan? Pulau-pulau ini dikelilingi oleh hamparan air yang jernih berwarna turquoise atau hijau kebiruan. Bagi saya, Maldives bak taburan permata di Samudera Hindia!

Sepanjang perjalanan tak putus-putus kami mengabadikannya. Rupanya pemandangan indah di bawah sana, membangunkan romantisme bagi yang melihatnya di atas sini. Pasangan muda bule yang duduk persis di depan saya, tak putus-putusnya pula beradegan mesra, yang kalau di TV kita pasti kena sensor. Apa daya, terpaksalah saya menikmati pemandangan yang tak kalah serunya ini. Maklumlah, mungkin mereka honeymooners alias pengantin baru.

Ingat cerita film The Blue Lagoon yang melambungkan si cantik Brooke Shield? Begitulah keadaan pulau ini. Laguna dengan airnya yang jernih hijau kebiruan bergradasi, disinari matahari tropis yang hangat, menjadikan snorkeling populer di sini (Justru tidak nyaman kalau berenang dengan kaki telanjang, karena banyak karang). Nah, kalau beruntung dapat bertemu dengan kura-kura raksasa, ikan pari ataupun sekumpulan lumba-lumba, karena ini ‘kan samudera luas. Dan ada pasangan Belanda yang beruntung, mereka sudah tinggal selama 2 minggu. Konon, orang Bule lebih lama tinggalnya bahkan ada yang sampai 3 minggu dibandingkan dengan orang Asia yang paling tahan 1 minggu.

Banyak aktifitas yang dapat dilakukan disini atau bahkan “TO DO NOTHING” alias tidak melakukan apa-apa, hanya berleyeh-leyeh saja. Tapi yang paling menarik adalah satu program yang disebut “Deserted Couple”. Pasangan ini dibawa ke sebuah pulau tak berpenghuni dan ditinggalkan disana dengan bekal makanan, sore baru dijemput lagi. Di Maldives banyak terdapat pulau tak berpenghuni, karena dari 1190 pulau, yang dihuni hanya sekitar 200 saja. Ternyata banyak juga pasangan yang ingin merasakan bahwa dunia ini hanya milik mereka berdua, tidak boleh ada orang lain….

Bukan hanya pengantin baru, tapi banyak juga yang merayakan HUT pernikahan bahkan menikah disini. Mereka menulisnya di papan peringatan yang diletakkan di dekat pohon di sepanjang “jalan raya”.

Sore itu menjelang matahari terbenam, terlihat karyawan resor dengan pakaian tradisionalnya sibuk menyiapkan altar di pantai. Rupanya akan ada upacara pernikahan pasangan dari Rusia. Tak lama kemudian pengantin datang dengan “buggy” yang dihiasi kembang sepatu. Musik tradisional dimainkan dan acara dimulai dengan dipimpin seorang karyawan resor. Mereka terlihat begitu bahagia dengan terus tersenyum sumringah. Disaksikan orang-tua dan kerabat dekat berjumlah 12 orang serta karyawan resor, lembayung senja dan bunyi ombak seakan turut memberi selamat. Selesai mengucapkan janji setia, mempelai pria menggendong pengantinnya berputar-putar dengan bahagia. Dalam cerita biasanya ditulis “Tamat”, tapi sesungguhnya mereka baru memulai ….

Suatu kali kami santap malam di pantai. Bulan sedang tidak purnama, bintang malas muncul, di kejauhan terlihat kapal dan mercu suar dengan kelap-kelip lampu yang bahkan tidak kuasa melawan gelapnya malam. Di meja kami pun hanya ada setitik cahaya yang redup membuat orang hanya terlihat kalau sedang buka mulut, itu pun kalau giginya putih. Ombak datang dan pergi dihempas angin yang menderu-deru. Tiba-tiba anak saya bilang : “Mama, sadar ‘gak kalau kita ini berada di tengah-tengah samudera raya, bukan lautan biasa ….. “. Saya terkesiap seketika, teringat Tsunami 2004 lalu, merenung sejenak dan tersadar betapa kecilnya saya ini sebagai bagian dari ciptaan Yang Maha Kuasa bila berhadapan dengan alam semesta. Dan betapa ajaib ciptaanNya, sehingga saya bisa duduk di pulau kecil ini dan berdampingan begitu dekat dengan samudera yang luas dan dalam……

Di tempat terpencil ini kasih sayang dirayakan setiap sa’at lewat perbuatan, perkataan bahkan tatapan, seakan setiap hari adalah Valentine Day. Manusia begitu kecil dan rentan…. membuat saya berpikir untuk lebih menghargai hidup dan mengisinya dengan hal-hal yang berguna disertai kasih sayang…

Iru Fushi Atol – Maldives, September 2010