Archive for Juli, 2011

MYANMAR THE GOLDEN LAND

Juli 4, 2011

Terus terang kalau saya mendengar nama Myanmar, yang langsung terlintas di benak saya adalah Aung San Suu Kyi. Wanita ayu lulusan Oxford – Inggris yang selalu tampil berpakaian tradisional Burma dengan untaian bunga melati di sanggulnya. Hanya itu saja! Jadi ketika kami memutuskan untuk berkunjung kesana, kamipun sibuk mencari tahu apa saja yang dapat dilihat disana, pengurusan visa, pembelian tiket dan sebagainya. Beberapa travel agen besar yang ada di Jakarta sempat saya hubungi, tapi mereka sendiri kurang tahu, maklumlah Myanmar bukanlah destinasi populer. Akhirnya kami mengurus semuanya sendiri.

Pembuatan visa (walaupun termasuk 10 negara ASEAN yang semestinya bebas visa), ternyata mudah sekali dan selesai hanya dalam 3 hari kerja dengan harga murah, paling murah diantara negara-negara lain. Hasilnyapun bagus, visanya terpampang sangat cantik di paspor setara dengan visa Inggris yang pernah menjajah Myanmar. Sebuah kejutan yang menyemangati setelah kegalauan hati karena merasa berurusan dengan negara antah berantah.

Kami berangkat pukul 6 pagi dari Jakarta, 1,5 jam kemudian tiba di Kuala Lumpur. Transit selama 2 jam. Ketika di ruang tunggu, mendadak tercium aroma sedap ayam goreng bersamaan dengan kehadiran sepasang kakek- nenek, yang tertatih-tatih menjinjing bungkusan bergambar kakek berjas putih, yang anak kecil juga tahu kalau itu KFC. Pemandangan ini menimbulkan pertanyaan: “Apakah di Yangon tidak ada KFC yang sudah mendunia ini, sehingga harus dibawa dari KL?” Nanti kita cari tahu Yah!

Akhirnya….setelah 2,5 jam terbang kami tiba di Yangon yang dulu pernah menjadi ibukota Myanmar atau Burma. Airportnya masih baru dengan konstruksi baja yang sedang jadi trend airport sedunia. Turis yang datang kebanyakan bule yang terkenal suka bertualang dan kami berdua dengan jiwa yang sama….

Sementara saya celingak-celinguk mengamati suasana baru ini, saya menyadari rekan seperjalanan saya yang setia menemani sejak kecil hilang, saya mundur ke belakang mencari, ternyata dia sedang dikerumuni petugas yang berpakaian putih (kesehatan) dan petugas imigrasi wanita yang memakai rok, sepatu bertumit dengan kaos kaki (terlihat unik kalau tidak boleh dibilang janggal). Apa pula ini? Waduh…. Masalah?! Tak berapa lama terlihat mereka tertawa-tawa…. dan partner saya segera menyusul ibunya. Ternyata dia dikira orang Jepang, disuruh skrining untuk mengetahui apakah tercemar “radiasi” atau tidak? Waktu itu musibah Tsunami di Jepang belum lama terjadi.

Sementara kami mengantri di imigrasi, dari barisan penjemput terlihat seorang lelaki berperawakan kecil, kulit sawo matang, berkaca-mata, umur sekitar 30-an terus memandang kami berdua. Tiba-tiba mata kami saling bertemu dan dia tersenyum ramah. Saya bilang ke partner saya: ”Pasti itu orangnya!” Ternyata benar!!! Pada pandangan pertama saya sudah merasa akrab dengan dia, karena dia sangat mirip dengan teman kerja saya dulu, sehingga saya menyebutnya Yasmin, padahal namanya Michael dan nama asli Burmanya saya lupa, dialah pemandu wisata kami. Seorang Sarjana Arkeology dan Buddhis yang baik dan santun, selalu bilang: “I am at your service” membuat orang serasa Ratu! Baginya bekerja bukan semata untuk mencari uang tetapi juga sarana melakukan kebaikan. Wowww..

Sebagai negara Asia Tenggara, penduduk Myanmar termasuk ras Melayu. Sehari- hari kaum pria memakai sarung dan kemeja putih (tidak warna lain) dan sarung dengan atasan biasa untuk wanita. Kaum pria mengikat ujung sarungnya didepan dan diplintir mirip konde, sedangkan kaum wanita melipat sarungnya didepan dengan rapi. Kaum pria memakai sandal jepit dengan model, bahan dan warna yang sama semuanya yaitu hitam, bedanya hanya di warna sarung saja, itupun mirip-mirip. Kostum ini digunakan juga untuk acara resmi seperti yang terlihat di foto kunjungan pejabat.

Rupanya banyak yang masih mengunyah sirih dengan aksesorisnya, bukan hanya orang tua (dulu di kota asal saya cuma nenek-nenek) tetapi juga anak muda, termasuk sopir kami (tapi Michael tidak). Saya pernah melihat seorang pemuda tampan dengan dandanan masa kini, ketika mencibir terlihat cairan merah melipir di bibir… ah… seperti di “Twilight” saja. Ternyata negeri ini unik, membuat saya jadi antusias dan lupa bahwa kemarin baru saja ke dokter.

Kota Yangon adalah sebuah kota Metropolis yang pernah menjadi Ibukota Myanmar. Penataan kota sangat baik terlihat dengan ruas jalan yang lebar, 3 ruas di kiri dan 3 ruas di kanan dipisahkan oleh pembatas jalan berhias tanaman pendek sehingga tidak mengganggu pandangan pengemudi. Suasananya mirip Menteng di Jakarta, maklumlah mereka dibangun di jaman yang sama yaitu di jaman penjajahan dulu.

Disini masih “sangat banyak” bangunan-bangunan lama bergaya kolonial bertingkat dua yang masih cantik dan kokoh walaupun berusia ratusan tahun. Dirawat dengan sangat baik serta masih digunakan sebagai kantor kedutaan, lembaga dunia, ataupun restoran berkelas. Sungguh harta tak ternilai yang membawa kita melihat kejayaan masa lalu dari tempat ini. Itulah gunanya sejarah. Sedangkan bangunan baru dibangun di tempat lain tanpa harus merobohkan yang lama.
Hal ini membuat saya tanpa sadar membandingkannya dengan “KOTA TUA” di Jakarta, yang alih-alih disayang malah dijadikan gudang atau dibiarkan terbengkalai dan rusak tak berbentuk lagi. Hanya sedikit sekali yang masih bagus. Sungguh ironis……. sedih sampai mau menangis!!!

Sewaktu jalan-jalan di pusat kota, terasa nian nyaman dan aman. Kemudian saya sadari ternyata disini tidak ada “sepeda motor” satupun karena dilarang di Yangon tapi tidak di kota lain dengan alasan yang berbau takhyul. Berbeda sekali dengan di Jakarta yang sepeda motornya terus bertambah sangat pesat, namun sayang hampir semua pengendaranya tidak sopan, melintas semaunya tanpa aturan, tiba-tiba sudah ada di depan seakan hanya dia sendiri di jalan, membuat semua orang dalam bahaya dan ketakutan. Saya percaya andapun merasa demikian, bukan? …… lalu harus begini sampai kapan?? Disini, tidak pula kelihatan pengemis ataupun pedagang asongan, bahkan KFC si AYAM JAGOAN.

Memasuki halaman kompleks Istana atau Pagoda alas kaki harus dilepas. Ada beberapa tempat yang lantainya sudah dilapisi keramik halus tapi banyak juga yang masih disemen kasar bahkan tanah keras di area yang luas. Kami meninggalkan alas kaki di mobil. Adakalanya dalam perjalanan dari mobil ke tempat tujuan, harus melalui tanah berpasir dan berbatu kerikil kecil. Mata menunduk ke bawah memilah jalan yang dilalui, karena banyak “ranjau cairan merah” yang masih segar maupun yang pudar. Kasihan si jempol kaki yang baru dioperasi! Saya balut dia berkali-kali, sambil berkata wanti-wanti: “hati-hati yah….. jangan sampai infeksi”.

Waktu itu matahari terik sekali, rasanya panas tak tertahankan! Susah payah saya menahan diri tidak mencopot sarung Michael untuk diajak tukaran. Sepertinya memakai sarung sangat nyaman di cuaca seperti ini, kelihatan mereka oke-oke saja tuch! Ah….enaknya sarung… bikin iri saja! Partner saya yang sudah terbiasa tinggal di negeri dingin, senang sekali kembali ke mobil yang berpendingin, mencuci tangan dengan tissue basah super sejuk dan menghirup air mineral yang selalu berada di Iced-Box. Dalam situasi seperti ini, saya selalu menghibur diri: “ Di dunia ini tidak ada yang gratis!” mau melihat banyak tentu harus berani tidak enak, itu sudah konsekuensi! Maka sayapun kembali senang……

Buddhisme merupakan agama mayoritas yang dianut 89% penduduk dengan ta’at. Pemberian Persembahan kepada Bikhu/ni di waktu pagi masih merupakan ritual yang dapat kita jumpai setiap hari. Barisan Bikhu/ni membawa wadah persembahan sambil berjalan tertib dengan wajah damai berbalut jubah warna jingga tua bagi Bikhu dan pink cerah bagi Bikhuni sungguh menarik. Rupanya hal ini juga menjadi inspirasi bagi pelukis yang menuangkannya pada lukisan yang dapat kita jumpai dimana saja. Mereka berbaur dengan masyarakat biasa. Adalah kebanggaan bagi keluarga bila ada dari anggota keluarganya yang menjadi Bikhu walau hanya sementara saja, paling tidak satu kali dalam hidupnya. Kedengarannya seperti wajib militer yang berlaku di beberapa negara. Dari semua pria dewasa yang saya temui, hampir semuanya sudah menjalani hal ini, bahkan beberapa kali termasuk Michael.

PAGODA SWEDAGON adalah landmark kota Yangon yang terletak ditengah, sehingga terlihat dari segala penjuru kota juga dari hotel kami menginap. Sudah berusia 2500 tahun dan terbuat dari emas murni. Bobotnya terus meningkat karena tiap tahun selalu dilapisi emas, sehingga sekarang mencapai 60 ton. Pucuknya dihiasi aneka permata dan batu mulia, tidak heran karena Burma sejak dulu disebut MYANMAR THE GOLDEN LAND yang menghasilkan emas dan batu mulia, terutama Jade alias Giok. Bila siang berkilau keemasan karena sinar matahari maka malampun tak kalah gemerlapan oleh cahaya lampu yang menyinari. Sungguh spektakuler dan sulit dicari tandingannya dalam hal ukuran maupun kemegahannya! Lucunya Pagoda ini tidak termasuk World Heritage (Warisan Dunia) alasannya karena sudah tidak orisinil lagi akibat dipoles dan diperbaiki. Banyak patung yang tadinya langsing menjadi tambun. Jadi walaupun Myanmar memiliki banyak situs purbakala yang amat langka, tapi tidak ada satupun yang masuk dalam World Heritage yang dilindungi UNESCO karena terlalu dijaga. Ironis…..

Kerajaan Sriwijaya di Palembang pernah menjadi Pusat Agama Buddha pada masa jayanya. Sayang peninggalannya tidak terpelihara dan nyaris tak bersisa. Tapi kalau kita mau jeli dan teliti, sebenarnya rumah-rumah kuno penduduk yang terbuat dari kayu berbentuk panggung, limas ataupun toko dengan langit-langit rendah di Palembang (entah sekarang masih ada) persis sama dengan arsitektur yang ada di Indochina bahkan sampai Nepal di Asia Selatan. Ini tentunya membuktikan bahwa ada keterkaitan sejarah di masa lalu. Walaupun demikian, kita beruntung masih ada Candi Borobudur sebagai Tempat Pemujaan Agama Buddha yang masuk kedalam Warisan Dunia dan menjadi Kebanggaan Indonesia.

Myanmar telah meninggalkan kesan yang mendalam, sepertinya saya sudah jatuh cinta padanya, karena sampai sekarangpun masih selalu terbayang-bayang…… Yah! Myanmar telah saya tetapkan sebagai salah satu negara ter-favorit dalam daftar negara yang pernah saya kunjungi.