Archive for Mei, 2012

THE TOURISTS, THE PROFESSOR AND THE BODYGUARD…. (Kosovo 2)

Mei 19, 2012

Malam pertama kami kembali ke hotel, terlihat beberapa pria setengah baya duduk di Lobby sembari menonton TV. Tanpa senyum diwajah, semua bermuram durja (ternyata selalu begitu). Konon mereka adalah Pemilik Hotel dan kerabatnya, kami saling menyapa. Mungkinkah mereka terkena Syndrome Masa Lalu? Sedih mengenang kejayaan dulu.

Ketegangan sepanjang hari dan suasana sendu di hotel yang sunyi (rasanya seakan hanya kami berdua saja tamu disana), membuat suasana hati semakin tak nyaman. Kamarnya luas lagi, dengan tambahan ruang tamu serta teras. Saya periksa semua pintu berkali-kali dan saya dorong meja dan kursi serta koper untuk mengganjalnya, khawatir tengah malam ada yang menyelinap ke kamar kami seperti yang ada di film. Terngiang kembali komentar orang yang semuanya meragukan keamanan negeri ini karena belum lama usai perang. Partner saya hanya senyum-senyum saja melihat kelakuan saya dan terus sibuk dengan lap-topnya. Sepanjang malam itu saya terus berjaga-jaga dan berdoa. Doa yang sangat khusyuk dan tak berkeputusan, sampai akhirnya saya tertidur juga….

Kicauan burung-burung kecil di pagi hari membangunkan saya dari tidur yang nyaman. Saya membuka jendela dan menghirup udara segar sambil memandang langit Pristina yang cerah, langit yang sama dimanapun juga di dunia. Terima kasih Tuhan atas hari yang baru. Selamat Pagi Pristina. Saya sangat bahagia di awal hari ini dan mencurahkannya di FB.

Kegembiraan pagi itu bertambah dengan datangnya Guide kami, akh…sekarang kami tidak sendiri lagi. Ternyata guide kami berteman baik dengan sang pemilik hotel. Kemudian saya dapati bahwa guide kami ini sepertinya mengenal hampir semua orang di Kosovo. Guide kami bernama Zacharia, tapi minta dipanggil Mr. Zaki saja. Seorang Profesor yang menjadi Dosen Pariwisata. Putrinya, Eleonora adalah pemilik satu-satunya Travel Agent di Kosovo, sudah menyandang gelar MBA tapi kembali belajar Pariwisata dan menjadi mahasiswi sang ayah. Menantunya adalah seorang Pengawal Perdana Menteri yang juga adalah sepupunya Mr. Zaki.

Tidak heran kalau sering terdengar mereka satu sama lain masih kerabat atau teman, karena populasinya memang sedikit. Yang tinggal di Pristina, ibukota negara hanya 800,000 orang dari total populasi Kosovo yang 2 juta.

Hari itu sang menantu libur, jadi dia akan bertindak sebagai sopir kami. Betul-betul bisnis keluarga. Orangnya tegap dan sigap hasil gemblengan negara asing yang terkenal dengan spionasenya. Ketika saya katakan dia mirip sekali dengan Arnold Schwarzenegger, dia tersenyum gembira, wah… tambah mirip deh. Saya memanggilnya Mr. Bodyguard sesuai dengan profesinya. Tim yang hebat! Dan meluncurlah THE TOURISTS, THE PROFESSOR AND THE BODYGUARD menyusuri jalan-jalan Pristina, diiringi lagu The Bodyguardnya mendiang Whitney Houston yang berkumandang dari radio mobil. Lagu ini kembali populer di seluruh dunia setelah kematian sang penyanyi legendaris itu belum lama berselang.

Mr. Zaki adalah seorang saksi sejarah, ikut berjuang membantu rakyat pada masa perang bersama badan sosial Bunda Theresa. Dia kehilangan dua orang paman, abang kandung dan banyak sanak saudara. Dia sendiri nyaris tewas kalau saja pada hari itu dia pulang kerumah. Pilu dan bergetar suaranya kala bercerita, demikian pula kami yang mendengar.

Di Kosovo tidak ada Monumen Khusus Peristiwa Pembantaian seperti di Kamboja (The Killing Field). Disini musuh mengumpulkan laki-laki desa lalu dibawa ke hutan, ditembak dan dikubur massal disana. Dalam perjalanan ke luar kota, kadang kala kami melihat kuburan atau papan nama yang menyatakan bahwa di tempat itu pernah terjadi pembantaian. Untuk mengenang jasa para pahlawan, mereka mendirikan patung dan monumen peringatan di pusat kota. Masih ada bunga segar yang diletakkan disana….

Akibat banyak yang terbunuh di masa perang, maka kini dimana-mana kebanyakan yang terlihat adalah bayi, anak kecil, remaja serta orang muda. Jelas mereka adalah produk sesudah merdeka atau masih kanak-kanak ketika perang terjadi. Sehingga Kosovo terkenal sebagai negara dengan populasi terbesar usia 35 tahun kebawah.

Hingga saát ini Kosovo masih dibantu dan dilindungi oleh NATO dan Uni Eropa. Kehidupan berjalan normal persis dengan negara Eropa lainnya. Jalan-jalan baru dibangun diatas jalan lama yang hancur oleh mobil perang, demikian pula dengan jalan tolnya yang tanpa bayar tapi rapih dan lancar sampai ke luar kota. Tak terlihat bahwa mereka baru usai perang. Sungguh Ironis membandingkan Tol mereka dengan JORR di Jakarta Barat. JORR terlihat darurat dan seakan belum selesai, jalanannya sempit dengan tikungan yang “menekuk” sangat berbahaya bagi yang belum terbiasa. Jadi malu dibanding dengan negara bayi…..

Satu-satunya tanda bahwa mereka baru saja usai perang adalah pengumuman di pintu mal, tanda LARANGAN dengan gambar PISTOL. Tidak pernah ada di tempat lain, hanya di Kosovo.

Suatu kali di Frizen (kota wisata) seorang bocah mendekati kami meminta uang, dengan galaknya guide kami menepis tangan bocah tersebut sambil bilang :”Minggir kamu! Di Kosovo tidak ada pengemis!” ternyata pengemis itu berasal dari Macedonia negara tetangga dibalik gunung. Dan memang tidak ada pengemis di Kosovo, tidak pula ada kemiskinan, walaupun angka pengangguran tinggi (40%). Banyak keluarga mendapat bantuan dari kerabatnya yang di luar negeri, tidak sedikit pula yang kaya raya. Mereka pulalah yang membangun tanah air tercinta. Restoran dan Hotel Standard International dibangun, taxi Mercedes tersedia di hotel mewah, London Cab pun ada. Pariwisata digalakkan, semua sektor ekonomi dikembangkan. Sebuah negara yang sedang bertumbuh…. Kosovo kaya dengan aneka tambang di gunung-gunung, itulah yang dulu diincar musuh.

Bagi Mr. Zaki, kami adalah tamu Indonesianya yang pertama. Selama ini tamunya yang dari Asia adalah Jepang yang kebanyakan Lanjut Usia bahkan ada yang 92 tahun. Mereka selalu minta yang termewah. Walaupun hanya 20 orang tapi maunya bus besar dan hotel mewah. Yah wajarlah, ‘kan tinggal menghitung hari…. kalau tidak sekarang, kapan lagi? Ragu-ragu dia bertanya: “tapi kalian berdua beda yah… berperawakan tinggi.” Dalam hati saya ketawa geli, habis dibandingkan dengan orang Jepang yang sudah tua pula, tentu beda. Saya katakan bahwa “normalnya”orang Asia tidak setinggi orang Eropa, wah dengan kata lain kami “tidak normal” dong… ha ha ha …..

Kosovo adalah negara yang sarat dengan sejarah dan budaya yang sudah berusia 7,000 tahun. Banyak Gereja dan Mesjid yang berabad umurnya, bahkan situs purbakala. 94% penduduknya adalah Muslim dengan gaya hidup model Turki, karena Turki pernah disana dijaman kejayaan OTTOMAN. Kebudayaan Turki masih kental terlihat di Frizen, 2 jam perjalanan dari Pristina.

Untuk mengenang dua orang yang berjasa besar terhadap Kosovo, maka dua jalan raya terbesar di pusat kota Pristina dinamakan BUNDA THERESA Boulevard dan BILL CLINTON Avenue.

Dunia mengenal Bunda Theresa, dan beliau adalah orang Kosovo yang lahir di Skopye – Macedonia. Tempat beliau mendapat ilham bernama Gereja Black Madonna yang kini ramai dikunjungi turis. Disini terdapat patung Bunda Maria dengan Bayi Yesus berkulit hitam yang hanya ada 5 di dunia.

Sedangkan Bill Clinton sangat dihormati bagaikan dewa, karena telah berjasa menyelamatkan hidup bangsa Kosovo dari kepunahan. Ketika mereka terkepung musuh dan tak berdaya, berkurung dirumah menunggu kematian, Bill Clinton yang saát itu menjabat Presiden Amerika memerintahkan NATO untuk menghancurkan Serbia, sehingga terselamatlah Kosovo. Berdekatan dengan Universitas Kosovo berdirilah patung Bill Clinton dengan gagahnya sambil mengacungkan tangan.

Masih di jalan yang sama terdapat Resto China yang ramai dikunjungi orang-orang asing. Kokinya asli dari China dan masakannya enak. Pemiliknya adalah orang Kosovo yang merangkap jadi pelayan. Dia adalah kolektor uang asing. Ketika kami memberikan Rp 20,000, woww.. matanya melotot! Ha?

Malam terakhir kami iseng jalan-jalan, waktu itu sekitar pukul 9. Satu dua orang terlihat di jalan, sesekali mobil melintas. Toko-toko tutup, hanya resto dan supermarket yang masih buka. Semestinya Mal masih buka hingga pukul 12 malam seperti tercantum di pengumuman. Angin malam di bulan Maret masih menyisakan rasa dingin yang menusuk tulang.

Kami mampir ke Supermarket cukup besar yang masih ramai yang buka hingga pukul 11 malam. Semua barang lengkap disini. Sosisnya besar dan melingkar. Dan yang menakjubkan adalah kami menemukan MIE INSTANT dari Indonesia yang sering kita jumpai di warung. Disini diletakkan di bak terbuka di tengah ruangan, sepertinya sedang promosi. Boleh bangga dengan Mie Instant Indonesia ini, kami juga pernah menjumpainya di Maldives dan beberapa negara lain yang tidak populer.

Sambil berjalan santai, saya memandang ke langit dengan bulan dan bintang yang gemerlapan, tak bedanya dengan langit dimanapun juga. Perasaan senang menyelinap perlahan, saya sadari sudah lama tidak menikmati suasana malam, yang tidak pernah saya lakukan lagi di tempat tinggal saya yang sekarang. Siapa berani? Terngiang kembali perkataan Mr. Zaki berkali-kali : ”KOSOVO adalah Negara TERAMAN di dunia saát ini”.

Iklan

KE KOSOVO? SIAPA TAKUT! PADAHAL…..(KOSOVO 1)

Mei 14, 2012

Bila ada yang menyebut KOSOVO, maka yang terbayang adalah sebuah negara yang sedang berperang dan pembasmian etnis (genocide), seperti yang disiarkan media massa dekade terakhir ini. Walaupun mereka sudah merdeka (2008), sesekali masih ada berita negatip. Partner Travelling saya mengajak temannya kesana, karena mereka memang senang melancong ke negara-negara di Eropa, kebetulan dia masih belajar di Inggris. Tapi tidak ada satupun yang mau, alasan mereka: Takut Mati!! Ha?! Berarti mereka masih normal dong!

Waktu saya mau ke Eropa, partner saya ini menyarankan kami ke Kosovo dan Croatia saja, dua negara bekas Yugoslavia yang terkenal dengan Presidennya Josip Broz Tito. (Pada 1961 Presiden Tito dan Presiden Soekarno bersama tiga negara lainnya mendirikan Gerakan Non Blok). Croatia memang terkenal dengan destinasi wisatanya, salah satunya DUBROVNIK yang memang menarik. Tapi… Kosovo…..???….. Tiba-tiba jiwa petualang saya timbul dan berkatalah saya dengan gagah berani : “OK, kita ke KOSOVO! Siapa takut?” Padahal…. dalam hati ….. takut banget! Juga penasaran sekali!!! Seketika partner saya tertawa senang karena sudah menduga saya pasti mau. Jelaslah… darimana jatuhnya buah kalau tidak dari pohonnya? Like mother like son….

Nyaris tidak ada informasi terkini tentang negara ini, tidak ada yang bisa ditanya, pun tidak ada kedutaannya di Jakarta, internetpun begitu. (Setelah di Kosovo kami ketahui bahwa Travel Agent disana memiliki Web-Site di Internet, tapi tidak dapat kami akses). Akhirnya kami membeli tiket dan hotel serta guide via Travel Agent di London. Untuk negara yang tidak jelas, kami cenderung memakai jasa tour guide, sebaliknya di Croatia kami jalan sendiri.

Dalam pesawat British Airways yang penuh dengan sekitar 200 penumpang, hanya kami berdua orang Asia (biasanya paling tidak ketemu orang Jepang), sedikit orang asing, sisanya orang Kosovo yang mudik dengan banyak anak kecil dan bayi. Saya jadi teringat cerita “Perawan di sarang penyamun”. Benar-benar asing. Partner saya sudah tertidur, perlahan-lahan yang lainpun begitu. Suasana sunyi, pikiran saya melayang-layang sambil meresapi suasana sekitar……

Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada dua laki-laki yang duduk tidak jauh didepan, mereka sibuk berbicara dengan wajah serius, saling berhadapan dibatasi koridur jalan. Yang satu berwajah Mirip Dedy Cobuzier (MDC) yang lain berwajah dingin dengan rambut cepak. Seram…. Sepanjang perjalanan 3 jam itu mereka terus berbicara tidak henti-hentinya, dan saya pun terus mengawasi tanpa jeda. Akhirnya kami pun tiba.
Belum juga deru pesawat reda, lelaki cepak tiba-tiba berdiri. Seorang pramugari datang menghampiri serta menghardiknya untuk duduk. Namun itu tidak berguna, dia kembali berdiri dengan tergesa-gesa mengambil barangnya dan terus berlari kebelakang, sementara si MDC temannya di depan. Haduh…. kenapa pula harus satu ke belakang dan satu di depan? Mendadak jantung saya berdegup kencang, mengantipasi apa yang akan datang. Seketika “penyesalan” menyusup di dada, kenapa pula saya mau kesini? Menyesalnya setengah mati! Dilala si MDC berdiri persis di depan saya. Sambil mengambil overcoat, saya bilang ke partner saya untuk siap-siap menyelamatkan dirinya, tak usah hiraukan saya! Saya sudah berancang-ancang untuk mengerudungi si MDC dengan overcoat saya yang besar dan berat itu bila dia mulai bertindak. Biarlah satu orang berkorban tapi banyak orang selamat! Akh…. betapa heroiknya saya saát itu! Ini sungguh lho, bukan bercanda.
Tapi partner saya menjawab: “Mama… kalau memang mereka mau “bajak”, tidak mungkin tunggu sampai di bandara, mestinya selagi di udara dong……”. Saya tersadar! Akh… pasti cerita action yang punya gara-gara, sampai saya berimaginasi sedemikian rupa. Tapi…..mereka memang sangat-sangat mencurigakan sih! Yah! Sudahlah! Bersyukur karena itu tidak terjadi dan kami semua selamat. Ha ha ha…..

Tertegun kami membaca tulisan ADEM JASHARI International Airport. Kami sudah tiba di PRISTINA Ibukota KOSOVO. Hotel kami bernama ORA, ada pula salon Edi dan Eki . Indonesia banget…

Petugas melihat paspor lalu memandang kami: “Anda dari In-do-ne-sia?” Tanyanya mengeja dengan susah. Sepertinya baru kali ini dia membaca kata itu. Dia lalu berbicara dengan temannya yang langsung mengambil Paspor kami masuk kedalam. Wah…ada masalah apa lagi nih? Tensi pun jadi naik turun tidak karuan. Kami disuruh keluar dari antrian dan bertemu dengan seorang polisi senior yang bertanya: “Untuk apa datang ke Kosovo? Tinggal dimana? Bawa uang berapa? Tiket pulangnya mana?” Sebenarnya pertanyaan standard, tapi karena ditanya khusus oleh polisi, tegang juga.

Kami tunjukkan bahwa kami memang suka berkelana, bukan hanya tempat-tempat yang bagus, tapi juga yang “jelek” sambil membuka lembaran paspor dengan stempel negara yang sudah kami kunjungi. Akhirnya dia bilang : ”Welcome to Kosovo”….. dan taxipun membawa kami yang masih berdebar-debar ke Hotel Ora di pusat kota…….

Hotel ORA adalah saksi sejarah. Sebelum perang Restoran di hotel ini sangat terkenal dan menjadi tempat berkumpulnya para petinggi-negara dan selebritas, termasuk Presiden Rugofa. Jadi tidak heran kalau banyak foto orang terkenal yang dipajang di lobby. Tapi masa keemasan lewat sudah, banyak hotel mewah disana. Kami bertemu dengan beberapa orang yang sama duduk-duduk di Lobby, konon mereka adalah pemilik atau kerabatnya. Satu hal yang paling berkesan bagi saya, justru hotel inilah satu-satunya di dunia yang memberikan pelayanan INTERNET GRATIS 24 jam. Bahkan di koridorpun disediakan komputer. Kebalikan dengan Yangoon-Myanmar, internet berbayar di hotel mewah pun sering putus, dan…. tidak ada Warung Internet di luar hotel.

Malam itu atas rekomendasi hotel, kami makan di Restoran Liburia yang hanya beberapa langkah saja dari hotel. Dari luar hanya terlihat sebuah pintu, ternyata didalamnya terdapat pekarangan cukup luas dengan pohon anggur yang merambat dan bangunan rumah yang bertangga. Ada gazebo yang keluar dari bangunan induk, persis dengan rumah yang ada didalam Novel Eropa. Resto ini sudah berumur 220 tahun, dekornya antik, tamunya juga tidak kalah antik. Seorang Nenek-tua pelancong duduk sendirian menikmati makanan, meneguk anggur dengan perlahan sambil membaca Ipodnya. Terlihat begitu anggun…. Sungguh pemandangan yang inspiratif! Bisakah saya seperti itu nanti……?

Di pojok sana terlihat segerombolan anak muda Amerika, mereka ramah menyapa kami. Resto legendaris yang memang sangat direkomendasikan pada hampir semua orang asing yang berkunjung ke Pristina. Ketika tagihan datang, kami kaget! Murah sekali! Harganya hanya setara dengan Mc Donald di London. Kami mampir di Minimart depan hotel, membeli snack dan soft drink yang menghabiskan tidak sampai 1 Euro. Wow…….. Pantaslah kalau orang bilang Biaya Hidup di Kosovo adalah yang termurah se Eropa.